Listrik Energi Surya Menjangkau Wilayah Terpencil Kepri

proyek PLTS di Batam
Operator PLTS melakukan pengecekan terhadap panel surya PLTS PT PLN Batam. GOKEPRI/Engesti Fedro

TANJUNGPINANG (gokepri) – Sebanyak enam pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal telah beroperasi di Kepulauan Riau untuk melayani warga pulau-pulau terluar yang belum terjangkau jaringan listrik PLN. Kehadiran pembangkit berbasis energi surya itu tidak hanya memperluas akses listrik, tetapi juga menjadi bagian dari transisi menuju energi yang lebih bersih.

PLTS tersebut tersebar di tiga daerah. Kota Batam memiliki tiga unit, Kabupaten Lingga dua unit, dan Kabupaten Karimun satu unit. Seluruh fasilitas itu dibangun PT PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur energi.

Bagi daerah kepulauan seperti Kepulauan Riau, penyediaan listrik bukan persoalan sederhana. Sebaran pulau yang berjauhan membuat pembangunan jaringan listrik konvensional membutuhkan biaya besar. Kondisi itu mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai alternatif yang lebih memungkinkan.

Baca Juga: Kepri Bangun PLTS untuk Pulau-Pulau Terpencil

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kepulauan Riau M Darwin mengatakan, satu PLTS komunal dapat melayani ratusan rumah tangga. Di Pulau Panjang, Batam, misalnya, fasilitas tersebut telah memasok kebutuhan listrik lebih dari 200 kepala keluarga.

“PLTS di Pulau Panjang mampu menjangkau lebih dari 200 kepala keluarga,” ujar Darwin saat dihubungi dari Tanjungpinang, Minggu 7 Juni 2026.

Menurut Darwin, setiap rumah tangga memperoleh alokasi daya yang terbatas sehingga penggunaan listrik perlu disesuaikan dengan kebutuhan harian. Pengaturan pemakaian peralatan rumah tangga menjadi penting agar pasokan listrik tetap tersedia selama 24 jam.

PLTS komunal di Kepulauan Riau beroperasi dengan sistem off-grid atau tidak terhubung ke jaringan listrik utama. Energi matahari yang ditangkap panel surya pada siang hari disimpan dalam bank baterai, lalu digunakan untuk memasok kebutuhan listrik masyarakat pada malam hari.

Sistem tersebut memungkinkan pulau-pulau kecil memperoleh pasokan listrik tanpa harus menunggu pembangunan jaringan kabel dari pulau utama. Teknologi penyimpanan energi menjadi komponen penting karena menentukan keberlangsungan pasokan listrik saat panel surya tidak menghasilkan energi.

Untuk mengantisipasi cuaca mendung atau hujan yang mengurangi produksi listrik, pemerintah juga menyiapkan pembangkit cadangan.

“Kami menyiapkan genset sebagai cadangan apabila PLTS tidak memperoleh energi matahari yang cukup,” kata Darwin.

Pemanfaatan PLTS menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain menekan emisi karbon, teknologi tersebut dinilai lebih efisien dari sisi operasional dibanding pembangkit berbahan bakar minyak yang selama ini banyak digunakan di wilayah kepulauan.

Meski demikian, investasi awal PLTS masih relatif tinggi. Pengadaan panel surya, baterai penyimpanan, dan infrastruktur pendukung membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan pembangkit konvensional. Karena itu, pengembangan energi surya di wilayah terpencil masih memerlukan dukungan pemerintah dan badan usaha.

“PLTS lebih hemat dalam operasional dan lebih ramah lingkungan,” ujar Darwin.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama PLN berencana memperluas pemanfaatan PLTS komunal melalui program Kepri Terang. Program tersebut difokuskan pada pulau-pulau terluar, terdepan, dan tertinggal yang hingga kini belum menikmati akses listrik secara memadai. ANTARA

Baca Juga: Singapura Naikkan Target PLTS 50 Persen, Bidik 3 GW pada 2030

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait