Di Belakang Padang, sebuah pulau kecil di perbatasan Kota Batam, kekayaan identitas Melayu tidak hanya hidup dalam pantun dan sejarah. Ia juga mengepul dari periuk-periuk sederhana para ibu pesisir, seperti milik Jumiarti, perempuan asli Belakang Padang itu telah bertahun-tahun menjaga tradisi kuliner lendot.
BATAM | MUHAMMAD RAVI
Makanan berbahan tepung sagu itu bukan sekadar menu harian. Di tangan Jumiarti, lendot adalah jejak identitas lokal, tradisi keluarga, dan sumber ekonomi.
Kini, di tengah dorongan nasional menuju ekonomi digital dan inklusi keuangan, identitas lokal seperti lendot menemukan ruang baru untuk berkembang. Sebuah ruang yang mempertemukan kearifan tradisi dengan teknologi, laut dengan literasi digital, dan dapur pesisir dengan peluang ekonomi.
Setiap pagi, aroma rempah dan sayuran rebus menguar dari kediaman Jumiarti. Ia meracik lendot, makanan yang diwarisi dari para perempuan Melayu pesisir, dibuat dari tepung kanji, campuran sayur kangkung dengan seafood seperti udang, kepiting, atau sotong yang dihasilkan dari laut sekitar. “Sudah lama saya masak lendot. Ini makanan kita (orang Melayu) sejak dulu,” ujarnya.
Keahliannya itulah yang mengantar Jumiarti tampil dalam program BERLAYAR (Belajar, Literasi, dan Aksi untuk Rakyat) yang diadakan Bank Indonesia di Belakang Padang, minggu lalu (15/11). Untuk pertama kalinya, lendot bukan hanya menjadi santapan keluarga pulau, melainkan bagian dari panggung ekonomi lokal.
Di meja kecil yang disiapkan panitia, Jumiarti menyajikan lendot panas kepada para peserta dan pengunjung. Setiap sendok menjadi cerita tentang laut, pesisir, dan identitas. Setiap mangkuk yang terjual adalah langkah kecil menuju ekonomi yang lebih terbuka.
Identitas Lokal sebagai Penggerak Ekonomi
Belakang Padang adalah salah satu wilayah dengan potensi ekonomi besar dari laut dan perdagangan antarpulau. Namun, seperti banyak daerah kepulauan lain, akses terhadap layanan keuangan, pemasaran modern, dan dukungan usaha masih menjadi tantangan utama.
Melalui program BERLAYAR, Bank Indonesia mencoba membangun jembatan antara identitas lokal dan ekosistem ekonomi digital. Kuliner pesisir seperti lendot, olahan ikan, kue tradisional, dan kerajinan laut diperkenalkan bukan hanya sebagai budaya, tetapi sebagai aset ekonomi yang bisa dipasarkan lebih luas.
“Kita melihat memang ada potensi besar di sini (Belakang Padang) karena memang tadi kan dekat dengan Singapura apalagi kita kan mengenalkan Qris Cross Border. Kalau misalnya wisatawan Singapura ke sini itu kita bisa kita bisa manfaatkan itu untuk menggunakan Qris Cross Border itu,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus.
Ia memperkenalkan pembayaran digital, cara mempromosikan produk lewat media sosial, hingga strategi dasar branding UMKM.
“Jadi kita ingin mengenalkan bahwa kita punya (transaksi) digitalisasi Qris. kita ingin mengenalkan masyarakat di sini supaya lebih banyak lagi yang menggunakan Qris di setiap transaksi ekonomi mereka di sini,” jelasnya.
Di sinilah sinergi itu terasa, tradisi yang kuat, bertemu teknologi baru, makanan yang lahir dari akar budaya, bertemu peluang pemasaran modern.
Program BERLAYAR dirancang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat pulau, mulai dari edukasi keuangan, pelatihan UMKM, hingga aksi nyata dalam bentuk bazar. Namun yang paling menonjol adalah pendekatannya yang ramah budaya.
Alih-alih memisahkan ekonomi dari tradisi, BI justru menjadikan identitas lokal sebagai titik awal pemberdayaan. Produk seperti lendot bukan hanya dipromosikan sebagai makanan, tetapi sebagai cerita ekonomi: siapa yang membuatnya, bagaimana sejarahnya, dan mengapa ia penting bagi masyarakat pulau.
Bagi Jumiarti, pengalaman ini membuka pintu baru. Apalagi menurutnya, dengan transaksi digital menggunakan QRIS, ia merasakan kemudahan dalam menjajakan jualannya. Tradisi bertemu teknologi dan dari situlah ekonomi bergerak.
“Orang dari luar jadi tahu lendot. Mereka bilang mau cari lagi nanti. Terus pembayaran juga mudah, ini udah pakai scan Qris,” katanya sambil tertawa kecil.
Camat Belakang Padang, Hanafi, menyebut berbagai usaha mikro mulai berkembang. Produk olahan ikan, camilan laut, hingga makanan khas kini lebih dikenal berkat Bank Indonesia, promosi rutin dan digitalisasi pembayaran. QRIS menjadi salah satu pemicunya.
“Termasuk pemberian label halal atau sertifikat halal. Saya dorong UMKM lain segera mengurusnya,” kata Hanafi.
Digitalisasi pembayaran atau transaksi non-tunai menjadi mesin pertumbuhan baru. Per September 2025, transaksi QRIS di Kepri mencapai 64,94 juta transaksi, tumbuh 181,93 persen (yoy) dengan nilai Rp7,71 triliun. Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto menyebut transaksi lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga meningkat pesat.
Pertumbuhan ekonomi Kepri pada kuartal terbaru tercatat 7,48 persen. Rony menyebut kontribusi digitalisasi tidak kecil dalam capaian ini.
“Pertumbuhan ini membuktikan semakin kuatnya adopsi digitalisasi pembayaran di masyarakat Kepri, khususnya pada sektor UMKM, ritel, dan layanan publik,” ujar Rony belum lama ini dalam ajang Kepri Economic Forum 2025.
Bank Indonesia Kepri terus menumbuhkan ekonomi daerah lewat penguatan klaster UMKM binaan. Mulai dari olahan hasil laut yang mengangkat kekayaan pesisir, batik maritim yang memadukan seni dan identitas lokal, hingga aneka produk kuliner khas yang punya daya saing. Tidak hanya membina, BI Kepri juga memberikan pendampingan manajemen, meningkatkan kualitas produksi, serta membuka akses pasar yang lebih luas agar para pelaku UMKM benar-benar mampu naik kelas.
“Kami berkomitmen untuk membantu UMKM naik kelas,” kata Rony.
Keberhasilan program seperti BERLAYAR tidak hanya diukur dari banyaknya transaksi, tetapi dari bagaimana identitas lokal menjadi bagian dari ekonomi baru. Di Belakang Padang, makanan pesisir menjadi medium penting untuk itu.
Bank Indonesia menjalankan peran gandanya dengan baik: menjaga stabilitas moneter sekaligus mendorong pembangunan ekonomi di wilayah kepulauan. Di Belakang Padang, berbagai kebijakan BI—mulai dari digitalisasi pembayaran melalui QRIS, penguatan UMKM, pengembangan program klaster, hingga edukasi keuangan melalui BERLAYAR—menjadi pendorong utama pergerakan ekonomi. Langkah-langkah ini mempercepat transaksi, memperluas akses layanan keuangan, menggerakkan roda usaha masyarakat, sekaligus memastikan inflasi tetap terjaga.
Lendot yang dulunya hanya dinikmati dalam lingkup keluarga kini diperkenalkan ke publik lebih luas. Ikan asin khas pulau mulai dipotret dan diunggah. Kerupuk ikan dibuat dalam kemasan lebih menarik. Semua ini adalah langkah kecil menuju ekonomi digital, tetapi bermakna besar bagi masyarakat pesisir.
Belakang Padang sedang bergerak, bukan meninggalkan tradisinya, tetapi membawanya masuk ke masa depan.
Sinergi antara identitas lokal dan ekonomi digital menjadi peluang besar bagi daerah kepulauan seperti Belakang Padang. Makanan tradisional, yang selama ini berdiri sebagai penanda budaya, kini menjadi fondasi ekonomi baru.
Di tengah gelombang digitalisasi nasional, lendot dengan kehangatan, rasa, dan sejarahnya menjadi simbol bahwa kearifan pesisir tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi.
Dan Jumiarti, dengan periuknya yang tak pernah padam, adalah buktinya bahwa tradisi dapat menjadi masa depan, ketika ia diberi ruang untuk hidup dan berkembang. Di Belakang Padang, identitas lokal kini ikut berlayar menuju ekonomi yang lebih inklusif, mandiri, dan modern. ***
Baca Juga:
- Potensi Menjanjikan Pulau Belakang Padang
- QRIS dan Digitalisasi UMKM, Ikhtiar yang Menggerakkan Ekonomi Pesisir
- BERLAYAR Bank Indonesia Membuka Peluang Baru Ekonomi Kepulauan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







