Kemarau Memuncak, BP Batam Perkuat Cadangan Air

El nino batam
Foto: BP Batam

Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. BP Batam mengandalkan pemantauan waduk hingga teknologi air laut.

BATAM (gokepri) – BP Batam menyiapkan empat strategi menghadapi penurunan air baku saat puncak kemarau Agustus 2026. Strategi itu mencakup pemantauan waduk hingga pengembangan teknologi pengolahan air laut.

Tekanan terhadap ketersediaan air meningkat ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Di Batam, kondisi ini menjadi perhatian karena waduk merupakan sumber utama air baku bagi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: El Nino Datang, Singapura Optimistis Mitigasi RI Cegah Kabut Asap

Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam bersama PT Air Batam Hilir (ABH) kini memperketat pemantauan kondisi air baku. Data ketinggian dan kondisi waduk dipantau secara real-time sebagai dasar menentukan operasi pengelolaan air.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum tekanan terhadap sumber air meningkat. “Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi,” kata Denny, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Denny, pengelola harus menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan masyarakat. Pemantauan itu menjadi lapisan pertama untuk menentukan respons ketika debit air menurun.

Strategi kedua bertumpu pada sistem interkoneksi jaringan antarwaduk. BP Batam mengoptimalkan jaringan tersebut untuk mengalirkan air baku ke wilayah yang terdampak penurunan debit.

Dengan sistem interkoneksi, pengelolaan air tidak hanya bergantung pada kondisi satu waduk. Distribusi air baku dapat disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan wilayah.

Namun, persoalan ketahanan air tidak berhenti pada pengaturan distribusi. BP Batam juga memperkuat perlindungan kawasan yang menjadi penyangga sumber air.

Strategi ketiga berupa reboisasi serta perlindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA). Upaya itu mencakup penghijauan, penguatan kawasan resapan, dan pencegahan aktivitas yang dapat mengurangi fungsi daerah tangkapan air.

“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur,” ujar Denny.

Menurut dia, keberlanjutan air Batam bergantung pada kondisi lingkungan di sekitar sumber air. Karena itu, perlindungan kawasan tangkapan air ditempatkan sebagai bagian dari strategi ketahanan air.

Tekanan kemarau juga mendorong BP Batam memikirkan sumber air untuk kebutuhan jangka panjang. Selain mengoptimalkan infrastruktur yang sudah tersedia, BP Batam menyiapkan sejumlah alternatif sumber air.

Salah satunya adalah teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi tersebut mengolah air laut menjadi air yang dapat mendukung kebutuhan penyediaan air.

Pengembangan SWRO menjadi bagian dari strategi jangka panjang, bukan pengganti langsung pengelolaan waduk. Dengan pilihan sumber air tambahan, ketahanan pasokan diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan dan kondisi waduk.

Ancaman kekeringan menjadi lebih relevan karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Juli-September 2026. Puncak tertinggi diperkirakan terjadi pada Agustus.

Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.

Kondisi itu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, termasuk di Batam dan Kepulauan Riau. Tekanan terhadap sumber air baku menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi pengelola.

Selain empat strategi teknis tersebut, BP Batam meminta masyarakat mengurangi konsumsi air selama periode kering. Efektivitas pengelolaan infrastruktur akan bergantung pada penggunaan air di tingkat rumah tangga.

Masyarakat diminta menggunakan air sesuai kebutuhan dan mematikan keran ketika tidak digunakan. Instalasi air juga perlu diperiksa secara berkala untuk mencegah kebocoran.

Penggunaan air untuk kebutuhan sekunder dianjurkan dikurangi selama kemarau atau cuaca kering. Masyarakat juga diminta menjaga lingkungan dan kawasan tangkapan air.

BP Batam mengingatkan warga tidak membuang puntung rokok atau menjalankan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan vegetasi. Kebakaran dapat mengganggu fungsi kawasan yang menopang sumber air.

“Kami mengajak masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam,” kata Denny.

Baca Juga: BP Batam Siapkan Hujan Buatan Hadapi El Nino

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait