Pilpres Rusia: Tak Ada Lawan Serius, Putin Menang Pemilu 87 Persen

Pilpres rusia
Vladimir Putin. Foto: Reuters

Batam (gokepri) – Vladimir Putin hampir bisa dipastikan kembali menjabat Presiden Rusia. Hasil pemilihan umum menunjukkan Putin menang telak.

Presiden petahana Vladimir Putin mendapatkan perolehan suara tertinggi dalam pemilihan presiden (Pilpres) di Rusia, dengan surat suara yang telah dihitung lebih dari 95,08 persen.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia membagikan data bahwa Putin memimpin suara dalam Pilpres 2024 dengan 87,32 persen.

HBRL

Baca Juga:

Sementara itu, kantor berita resmi Rusia, TASS melansir, kandidat lainnya dari Partai Komunis Nikolay Kharitonov berada di posisi kedua dengan 4,28 persen.

Kemudian diikuti oleh kandidat dari Partai Rakyat Baru Vladislav Davankov dengan 3,85 persen. Kandidat LDPR Leonid Slutsky berada di urutan keempat, memperoleh 3,15 persen.

Menurut exit poll, perolehan suara untuk Putin dalam Pilpres yang selama ini dia jalani terus mengalami peningkatan perolehan suara sejak 2000.

Perolehan suara Putin dalam Pilpres 2000 mencapai 53,4%. Lalu, pada 2004, mantan agen rahasia Rusia itu mendapatkan 71,9% suara.

Lebih lanjut, pada Pilpres 2012 Putin mendapatkan suara sebanyak 63,6%, dilanjut pada 2018 dia mendapatkan suara 76,6%.

Seperti diketahui, Majelis tinggi parlemen Rusia secara resmi menetapkan 17 Maret 2024 sebagai Hari Pemilihan Umum (Pemilu) untuk pemilihan presiden.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia kemudian mengumumkan bahwa pemungutan suara di Rusia akan berlangsung selama 3 hari pada 15-17 Maret 2024.

Adapun 4 orang kandidat bersaing untuk menduduki jabatan tertinggi di Rusia, yaitu calon dari Partai Rakyat Baru Vladislav Davankov; calon yang mencalonkan diri sendiri dan Presiden petahana Vladimir Putin.

Kemudian, calon Partai Demokrat Liberal Rusia (LDPR) Leonid Slutsky; dan calon Partai Komunis Federasi Rusia (CPRF) Nikolay Kharitonov.

Presiden Rusia Terlama

Sebagai pemimpin terlama di Rusia sejak diktator Soviet Josef Stalin, Putin yang berusia 71 tahun akan memperpanjang kekuasaannya selama hampir seperempat abad selama enam tahun lagi.

Rusia menekan keunggulannya di tahun ketiga invasi karena Ukraina berjuang untuk memasok amunisi kepada pasukannya di tengah penundaan bantuan militer dari AS dan sekutu-sekutunya di Ukraina.

Ekonomi Rusia di masa perang sebagian besar telah bertahan dari guncangan sanksi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, berkat aliran pendapatan energi yang terus berlanjut dan suntikan besar-besaran dari pengeluaran pemerintah untuk mendukung industri pertahanan dan melindungi bisnis domestik.

Perdagangan dengan China berkembang pesat karena Rusia mengubah orientasi ekonominya dari pasar-pasar di Eropa.

“Dalam dua tahun terakhir, rezim Putin telah membangun kembali setiap elemen untuk beradaptasi dengan kondisi perang yang permanen,” kata Andrei Kolesnikov, seorang peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace dikutip dari Bloomberg, Senin (18/3/2024).

Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News

Sumber: BLOOMBERG, REUTERS

Pos terkait