Singapura Impor 900 MW Listrik Tenaga Surya dari Malaysia

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA
Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA

Dua perusahaan Malaysia mendapat persetujuan bersyarat impor listrik. Proyek ditargetkan beroperasi mulai 2029.

SINGAPURA (gokepri) – Singapura akan mengimpor 900 MW listrik dari Malaysia. Pasokan surya dan baterai menjadi bagian strategi Singapura memangkas emisi sektor kelistrikan.

Energy Market Authority atau EMA mengumumkan persetujuan itu pada Jumat, 7 Agustus 2026. Sembcorp Utilities mendapat kapasitas 300 MW, sedangkan Southern Solar Alliance, anak usaha Ditrolic Energy Holdings, mendapat 600 MW.

Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Dimulai Bertahap, Harga Masih Dirundingkan

Kedua perusahaan akan memasok listrik yang bersumber dari pembangkit tenaga surya dan sistem penyimpanan energi baterai di Johor, Malaysia. Namun, persetujuan tersebut belum berarti proyek siap mengalirkan listrik lintas batas.

Kedua perusahaan masih harus memperoleh persetujuan regulator di masing-masing yurisdiksi. Mereka juga perlu merampungkan perjanjian jual-beli listrik, mendapatkan pembiayaan, serta memenuhi sejumlah tahapan pengembangan sebelum mencapai financial close.

Sembcorp mengungkap proyek 300 MW yang diajukan perusahaan akan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya terapung dan sistem penyimpanan baterai di Waduk Linggiu, Johor.

Proyek tersebut akan memanfaatkan infrastruktur interkoneksi bawah laut yang sudah tersedia maupun yang akan dibangun antara Malaysia dan Singapura. Infrastruktur itu menjadi jalur bagi aliran listrik lintas negara sekaligus memperkuat konektivitas energi regional.

Kedua proyek menargetkan operasi komersial sekitar 2029. Waktu tersebut masih bergantung pada penyelesaian perizinan, kontrak pembelian listrik, pembiayaan, dan sejumlah tonggak pembangunan.

Bp batam banner link sep 2027

EMA menyatakan persetujuan bersyarat diberikan kepada proyek yang dinilai memiliki proposal impor listrik kredibel dan layak secara komersial. Lembaga itu masih membuka ruang bagi perusahaan lain yang menawarkan pasokan rendah karbon.

Persetujuan untuk Malaysia datang ketika kerja sama energi Singapura-Malaysia semakin berkembang. Sebelumnya, Singapura memberi persetujuan bersyarat untuk mengimpor 1 gigawatt listrik rendah karbon dari Sarawak.

Singapura juga menyepakati pengembangan interkoneksi listrik kedua dengan kapasitas hingga 2 GW bersama Singapore Energy Interconnections, SP Group, dan Tenaga Nasional Berhad. Kajian tersebut diarahkan untuk menghubungkan Singapura dengan Semenanjung Malaysia.

Hingga kini, EMA telah memberikan persetujuan atau lisensi bersyarat kepada 13 proyek impor listrik dari Australia, Kamboja, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Singapura memperluas sumber listrik rendah karbon di luar negeri.

Sektor kelistrikan menyumbang sekitar 40 persen emisi karbon Singapura. Pemerintah negara itu menargetkan impor sekitar 6 GW listrik rendah karbon pada 2035, setara sekitar sepertiga kebutuhan energinya.

EMA menyatakan akan terus berhubungan dengan perusahaan yang memiliki proposal impor listrik yang kredibel dan layak secara komersial. Persetujuan terbaru untuk dua perusahaan Malaysia menjadi bagian dari proses menuju target tersebut. CHANNEL NEWS ASIA

Baca Juga: Usulan Green Premium Jadi Dasar Harga Ekspor Listrik ke Singapura

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait