Biodiesel Dinilai Bukan Penyebab Utama Kabut Asap

Harga Biodiesel 2021
Ilustrasi.

SINGAPURA (gokepri) – Peningkatan permintaan biodiesel tidak otomatis memicu kabut asap lintas batas. Ancaman terbesar tetap berasal dari pembukaan lahan dengan cara membakar, sehingga pengawasan, penegakan hukum, dan pertukaran data menjadi fokus utama kerja sama Indonesia dan Singapura.

Pendekatan itu dipilih karena risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat pada musim kering tahun ini. Kedua negara juga mulai memperkuat koordinasi regional agar langkah pencegahan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran telah terjadi.

Pandangan tersebut disampaikan Senior Minister of State for Sustainability and the Environment Singapura Janil Puthucheary dalam sesi fireside chat Program 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 14 Juli 2026.

IJVP 2026 Singapura
Senior Minister of State for Sustainability and the Environment Singapura Janil Puthucheary bersama jurnalis Program 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 14 Juli 2026. Foto: Ministry of Sustainability and the Environment (MSE) Singapore/Ministry of Digital Development and Information (MDDI) Singapore

Baca Juga: El Nino Datang, Singapura Optimistis Mitigasi RI Cegah Kabut Asap

Isu tersebut muncul setelah laporan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) menyebut meningkatnya permintaan biodiesel berpotensi mendorong pembukaan lahan yang memicu kebakaran dan kabut asap.

Namun, Janil menilai hubungan antara biodiesel dan kabut asap tidak bersifat langsung.

“Risiko kabut asap bukan berasal dari biodiesel, melainkan dari pembukaan lahan, apa pun tujuan pembukaan lahan itu,” kata Janil.

Menurut dia, pembukaan lahan untuk kehutanan, pertanian, biofuel, maupun kegiatan lain tetap memiliki risiko yang sama apabila dilakukan dengan cara membakar.

Karena itu, strategi pencegahan tidak diarahkan pada komoditas tertentu, melainkan pada cara pengelolaan lahan.

Janil mengatakan langkah mitigasi harus dimulai jauh sebelum dampak El Nino mencapai puncaknya.

Pemerintah Indonesia, kata dia, telah menjalankan berbagai upaya pencegahan, antara lain pengawasan kawasan rawan kebakaran, pengelolaan lahan gambut, serta penegakan aturan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu api.

Pendekatan serupa juga menjadi bagian dari nota kesepahaman yang baru ditandatangani Indonesia dan Singapura.

Melalui kerja sama tersebut, kedua negara akan memperluas pertukaran informasi, meningkatkan koordinasi teknis, serta mengembangkan kemampuan bersama dalam memantau potensi kebakaran.

Berbagi Data dan Teknologi

Janil mengatakan sistem berbagi informasi akan menjadi salah satu fondasi kerja sama jangka panjang.

Saat ini, ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) telah menyediakan data pemantauan cuaca dan potensi kabut asap yang dimanfaatkan negara-negara di kawasan.

Selain itu, negara-negara ASEAN mulai membangun ASEAN Transboundary Haze Coordinating Centre di Jakarta sebagai pusat koordinasi penanganan kabut asap lintas batas.

Menurut Janil, keberadaan pusat tersebut akan mempermudah pertukaran informasi, koordinasi antarlembaga, hingga penyusunan respons bersama ketika risiko kebakaran meningkat.

Tidak hanya itu, Indonesia dan Singapura juga akan memperluas kerja sama dalam pengembangan kapasitas teknis, termasuk pertukaran pengalaman antarilmuwan dan pelaksana operasi di lapangan.

Janil menilai ancaman El Nino tahun ini bukan menjadi alasan utama memperkuat kerja sama.

Siklus cuaca ekstrem akan terus berulang sehingga kedua negara membutuhkan mekanisme yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

“El Nino akan datang lagi. Indian Ocean Dipole juga akan kembali. Karena itu, kerja sama ini harus terus dilanjutkan,” kata Janil.

Menurut dia, Indonesia dan Singapura perlu terus memperdalam kemitraan agar kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan kabut asap semakin baik pada tahun-tahun mendatang.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya negara-negara ASEAN membangun sistem pencegahan yang lebih terintegrasi, sehingga respons terhadap kebakaran hutan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan dimulai sebelum musim kering tiba.

Baca Juga: Malaysia Andalkan Biodiesel Hadapi Gejolak Energi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait