JAKARTA (gokepri) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pengembangan industri panel surya generasi baru berbasis Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV di dalam negeri. Kajian tersebut membuka peluang Indonesia beralih dari pasar teknologi energi bersih menjadi bagian dari rantai manufaktur panel surya berteknologi tinggi.
Perkembangan industri panel surya global kini bergerak meninggalkan teknologi silikon konvensional menuju panel dengan efisiensi lebih tinggi. Perubahan itu dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengejar teknologi terbaru tanpa harus bergantung pada generasi yang mulai ditinggalkan pasar.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN Oo Abdul Rosyid mengatakan teknologi SHJ mampu menghasilkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi Tandem PV berbasis perovskite-silikon berpotensi melampaui 30 persen pada skala laboratorium.
Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Jadi Potensi Cuan Industri Panel Surya
“Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratorium,” kata Rosyid di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selain menghasilkan listrik lebih besar, kedua teknologi tersebut tetap mampu mempertahankan kinerja pada suhu tinggi. Karakter itu dinilai sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia yang menerima intensitas sinar matahari sepanjang tahun.
Rosyid menjelaskan Indonesia memiliki pasar panel surya yang terus berkembang. Pemanfaatannya mencakup pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, PLTS skala besar, hingga PLTS terapung di danau dan waduk.
Namun, perkembangan pasar belum diikuti kemampuan industri hulu. Kapasitas perakitan modul surya memang terus bertambah, tetapi sebagian besar sel surya dan bahan baku utama masih berasal dari luar negeri.
Dari kondisi tersebut, BRIN melihat peluang untuk langsung mengembangkan teknologi generasi baru. Pengalaman riset dan kolaborasi yang dijalankan di Jerman menjadi salah satu pijakan dalam menyusun arah pengembangan industri nasional.
“Pengembangan teknologi HJT merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem,” ujar Rosyid.
Menurut dia, penguasaan teknologi baru akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Industri nasional pun memiliki kesempatan memproduksi panel surya yang lebih efisien, hemat bahan baku, dan mampu bersaing di pasar internasional.
Hasil kajian yang dikerjakan Rosyid di Forschungszentrum Jülich (FZJ), Jerman, disiapkan sebagai dasar penyusunan peta jalan industri panel surya nasional.
Kajian tersebut juga akan memuat rekomendasi bagi pemerintah dan pelaku industri guna membangun ekosistem manufaktur panel surya secara menyeluruh, mulai dari pengembangan teknologi hingga produksi.
Rosyid menilai penguasaan teknologi panel surya generasi baru tidak hanya mendukung target transisi energi. Industri tersebut juga berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi melalui penguatan manufaktur dalam negeri.
“Ke depan, penguasaan teknologi panel surya generasi baru ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian energi hijau Indonesia serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” kata Rosyid.
Kajian BRIN kini menjadi pijakan awal penyusunan strategi industri panel surya nasional, seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih dan persaingan teknologi di pasar global.
Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Dimulai Bertahap, Harga Masih Dirundingkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









