Mampukah Batam Mengubah Sampah Menjadi Listrik?

sampah Batam
Pengangkutan sampah oleh armada pengangkutan sampah di Kota Batam, Kepri (8/5/2026). ANTARA/Amandine Nadja

Batam menjajaki teknologi waste-to-energy untuk mengolah sampah menjadi listrik. Namun, kelayakan ekonomi dan pasar listrik masih menjadi tantangan.

BATAM (gokepri) – Setiap hari sekitar 1.205 ton sampah muncul dari aktivitas warga dan industri di Batam. Volume sebesar itu kini dijajaki untuk diolah menjadi listrik meski proyeknya masih harus melewati serangkaian kajian.

Peluang tersebut mengemuka dalam forum Asia Pacific Circular Cities (APCC) 2026 di Yokohama, Jepang, pada 3-4 September 2026. BP Batam membawa gagasan waste-to-energy atau WtE sebagai salah satu opsi untuk mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi.

Baca Juga: Pemanfaatan Sampah Jadi Listrik Masuk Agenda Baru RI-Singapura

WtE merupakan teknologi yang mengolah sampah menjadi energi, antara lain listrik atau panas. Bagi kota dengan produksi sampah tinggi, teknologi ini menawarkan dua manfaat sekaligus yakni mengurangi volume limbah dan menghasilkan energi.

Namun, mengubah sampah menjadi listrik tidak sesederhana membangun pembangkit lalu memasukkan sampah ke dalamnya. Teknologi, karakteristik sampah, kebutuhan infrastruktur, biaya investasi, dampak lingkungan, hingga siapa yang membeli listrik harus lebih dulu dihitung.

Persoalan itulah yang membuat BP Batam belum berbicara tentang pembangunan pembangkit secara langsung. Tahap yang sedang dibidik adalah feasibility study (FS) untuk menguji apakah gagasan tersebut layak secara teknis, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur.

Sampah jadi listrik batam
Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait menjadi narasumber forum Asia Pacific Circular Cities (APCC) 2026 di Yokohama, Jepang, pada 3-4 September 2026. Foto: BP Batam

Dalam forum APCC, Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait menjadi narasumber sekaligus panelis dalam sesi Developing a Bankable Waste to Energy Project in Batam: Challenges, Lessons and Partnership Opportunities. Forum itu mempertemukan BP Batam dengan sejumlah pihak yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah dan energi, termasuk World Bank, JFE Engineering Corporation, serta Pemerintah Kota Makassar.

Dari forum tersebut, BP Batam mendapat kesempatan membuka pembicaraan lebih jauh dengan JFE Engineering Corporation. Perusahaan Jepang yang bergerak di bidang rekayasa, pengelolaan lingkungan, dan energi itu kemudian memperkirakan sampah Batam berpotensi menghasilkan listrik sekitar 20 MW.

Angka tersebut penting karena memberikan gambaran mengenai skala energi yang mungkin dihasilkan dari sampah Batam. Jika kelak terbukti layak, kapasitas itu diperkirakan setara dengan kebutuhan listrik sekitar 20.000 rumah.

“Dengan jumlah sampah yang mencapai 1.205 ton per hari, Batam memiliki potensi untuk mengembangkan waste to energy,” kata Ariastuty.

Tetapi 20 MW belum dapat diperlakukan sebagai kapasitas pembangkit yang pasti. Perkiraan tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk mengetahui berapa banyak sampah yang benar-benar dapat diproses, teknologi apa yang sesuai, berapa energi yang dapat dihasilkan, dan berapa biaya yang diperlukan.

Mencari Investor, Menguji Kelayakan

BP Batam menawarkan kerja sama penyusunan FS sebagai pintu masuk pengembangan proyek. Kajian tersebut akan menjadi dasar untuk mengubah perkiraan potensi sampah menjadi angka yang lebih terukur dan dapat digunakan calon investor dalam mengambil keputusan.

Untuk penyusunan kajian itu, BP Batam akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Jika hasilnya menunjukkan proyek layak, pembahasan dapat bergerak menuju tahap pengembangan dan investasi.

JFE menyatakan minat untuk datang ke Batam dan mendalami peluang tersebut setelah pertemuan di Yokohama. Pertemuan lanjutan akan menjadi penting karena pembicaraan harus bergeser dari potensi teknologi menuju kondisi nyata sampah, lokasi, infrastruktur, investasi, dan kebutuhan listrik Batam.

PLN juga akan menjadi bagian penting dalam pembahasan. Listrik dari pembangkit WtE membutuhkan kepastian mengenai mekanisme penyerapan atau pembelian listrik.

Di titik inilah persoalan WtE menjadi lebih kompleks daripada sekadar teknologi pengolahan sampah. Proyek harus memiliki model bisnis yang memungkinkan biaya pengolahan, investasi pembangkit, operasi, serta pendapatan dari penjualan listrik bertemu dalam satu perhitungan yang masuk akal.

Bukan Penjajakan Pertama

JFE bukan satu-satunya perusahaan yang pernah membicarakan WtE dengan BP Batam. Beberapa bulan sebelumnya, BP Batam sudah menerima audiensi PT Chuansheng Import Export Trading Indonesia yang hadir sebagai perwakilan Cevia Enviro Inc, perusahaan yang disebut bergerak di bidang lingkungan dan infrastruktur asal Cina.

Fary Francis menerima perwakilan PT Chuansheng Import Export Trading Indonesia untuk membahas investasi pengolahan sampah menjadi energi di Batam.
Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Francis menerima audiensi PT Chuansheng Import Export Trading Indonesia di Batam, Sabtu (16/5/2026). Pertemuan membahas peluang investasi pengolahan sampah menjadi energi bersama Cevia Enviro Inc asal Tiongkok. Foto: BP Batam

Pertemuan tersebut berlangsung pada 16 Mei 2026 ketika Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Francis menerima perwakilan perusahaan di ruang rapat Deputi Bidang Investasi BP Batam. Pembicaraan berfokus pada peluang investasi pengolahan sampah menjadi energi.

“Rencana kerja sama investasi yang disampaikan akan kami bahas sesuai mekanisme yang ada,” ujar Fary, seperti dikutip dari keterangan BP Batam.

Pertemuan itu menunjukkan bahwa gagasan mengolah sampah menjadi energi sudah masuk dalam radar penjajakan investasi Batam sebelum forum di Jepang. Bedanya, pertemuan dengan JFE di Yokohama memberikan pintu baru untuk membahas penyusunan FS dan menguji potensi proyek secara lebih terukur.

Cevia Enviro Inc sebelumnya disebut bernama Henan Chengfa Environment Co Ltd dan bergerak di bidang perlindungan lingkungan serta infrastruktur publik. Cevia juga adalah perusahaan yang masuk seleksi awal proyek WtE Danantara untuk proyek WtE. Portofolionya mencakup pengolahan limbah padat, limbah medis, limbah makanan, pasokan air, pengoperasian jalan tol, dan pembangunan infrastruktur.

Jika penjajakan tersebut berlanjut, keberadaan lebih dari satu calon mitra dapat memberi Batam pilihan teknologi dan skema investasi. Namun, banyaknya calon mitra belum berarti proyek siap dibangun karena keputusan akhirnya tetap bergantung pada hasil kajian kelayakan.

Masalah Sampah, Masalah Energi

Gagasan WtE di Batam juga muncul dalam konteks yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara. Sampah mulai dipandang bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga salah satu sumber energi alternatif di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat.

Singapura menjadi salah satu contoh negara yang menghadapi persoalan berbeda dari Indonesia. Indonesia memiliki volume limbah yang besar, sedangkan Singapura menghadapi keterbatasan lahan untuk menampung sampah.

Pandangan itu disampaikan Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri, Gan Siow Huang, dalam sesi fireside chat 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura pada 14 Juli 2026. Menurut Gan, pengolahan sampah menjadi energi dapat menjawab persoalan limbah sekaligus membantu memperkuat pasokan energi. “Persoalannya sekarang adalah kelayakan ekonominya, karena biayanya masih cukup tinggi,” ujar Gan.

Ekspor listrik ke singapura
Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri Gan Siow Huang menjawab pertanyaan peserta Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa (14/7/2026). Dalam forum itu, Gan memaparkan perkembangan negosiasi perdagangan listrik hijau Indonesia-Singapura. Foto: Ministry of Foreign Affairs (MFA) Singapura

Pernyataan tersebut memperlihatkan tantangan yang juga relevan bagi Batam. Teknologi WtE sudah tersedia, tetapi biaya investasi dan pengoperasiannya masih menjadi salah satu pertanyaan utama sebelum proyek bisa bersaing dengan sumber energi lain.

Karena itu, pemerintah Singapura memilih membangun pengalaman dan ekosistem industri lebih awal. Tujuannya agar pelaku usaha memahami model bisnis WtE dan investor memiliki waktu untuk mengembangkan teknologi serta rantai industrinya.

A*STAR, lembaga riset Singapura, disebut telah membangun berbagai kolaborasi dengan peneliti dan industri, termasuk membuka peluang kerja sama dengan Indonesia. Kolaborasi riset semacam itu memperlihatkan bahwa pengembangan WtE tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit, tetapi juga pada teknologi dan inovasi pengolahan limbah.

Dari Sampah Menjadi Produk

Singapura juga tidak menempatkan listrik sebagai satu-satunya tujuan pengolahan sampah. Pemerintahnya mengembangkan teknologi yang memungkinkan limbah diubah menjadi material konstruksi dan produk lain yang dapat digunakan kembali.

Pendekatan tersebut penting karena mengubah cara melihat sampah. Semakin banyak material yang dapat dipulihkan atau digunakan kembali, semakin kecil volume yang akhirnya harus masuk ke fasilitas pengolahan atau tempat pembuangan.

Gan mengatakan sampah tidak semestinya hanya berakhir sebagai bahan bakar pembangkit. “Sampah harus dikurangi, bukan hanya diubah menjadi energi, tetapi juga menjadi produk yang bermanfaat,” kata Gan.

Pendekatan ekonomi sirkular itu menjadi konteks penting bagi Batam ketika mulai membicarakan WtE. Pengolahan sampah menjadi listrik dapat menjadi salah satu bagian dari rantai pengelolaan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya.

Karena itu, Ariastuty menekankan bahwa pengembangan WtE juga berkaitan dengan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Masyarakat menjadi bagian penting karena keberhasilan teknologi pengolahan pada akhirnya bergantung pada bagaimana sampah dipilah, dikumpulkan, diangkut, dan diproses.

Di Yokohama, BP Batam sekaligus membuka pembicaraan mengenai kerja sama dengan Pemerintah Kota Yokohama. Pada 3 September, BP Batam bertemu dengan Wakil Wali Kota Yokohama untuk membahas peluang kerja sama antarkota.

Agenda tersebut memperluas pembahasan Batam di Jepang dari pengelolaan sampah dan energi menuju ekonomi sirkular, teknologi, dan peluang kemitraan. Namun, untuk WtE, pekerjaan berikutnya tetap berada pada tahap yang lebih mendasar yakni memastikan 1.205 ton sampah per hari benar-benar dapat menjadi bahan baku pembangkit yang layak secara teknis dan ekonomis.

BP Batam berharap ketertarikan JFE berlanjut melalui pembahasan yang lebih konkret di Batam. “Kami berharap ketertarikan ini dapat ditindaklanjuti dengan pembahasan yang lebih konkret di Batam,” ujar Ariastuty.

Baca Juga: Indonesia dan Swedia Kolaborasi Konversi Sampah ke EBT

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait