DayOne menyiapkan SWRO Rp180 miliar. Air berlebih berpotensi dimanfaatkan masyarakat.
BATAM (gokepri) – Kebutuhan air yang besar untuk mendinginkan data center mendorong pengembang membawa sumber air sendiri ke Batam. DayOne bahkan menyiapkan SWRO senilai sekitar Rp180 miliar yang nantinya diserahkan kepada BP Batam. Membuka peluang pemanfaatan air berlebih untuk masyarakat sekitar.
SWRO atau sea water reverse osmosis merupakan teknologi yang mengubah air laut menjadi air tawar dengan menyaring garam dan zat terlarut lainnya. Teknologi ini menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan air data center tanpa menambah tekanan pada sumber air tawar yang tersedia.
Baca Juga: PLN Batam dan DayOne Wujudkan Data Center Terbesar di Indonesia
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan kebutuhan air menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan data center di Batam. Pemerintah dan BP Batam memberi dukungan perizinan dengan syarat pengembang ikut menyiapkan infrastruktur air. “Yang penting dari Pemerintah Kota dan BP Batam bisa mendukung dari sisi perizinan,” kata Amsakar di Batam, Kamis 10 September 2026.
DayOne, perusahaan infrastruktur digital asal Singapura, mengembangkan kampus data center berskala besar di Batam. Dalam pengembangannya, perusahaan tersebut menyatakan kesiapan membangun instalasi SWRO untuk memenuhi kebutuhan air fasilitasnya.
Komitmen itu tidak berhenti pada penyediaan air untuk kepentingan operasional perusahaan. Instalasi tersebut nantinya akan diserahkan kepada BP Batam untuk dikelola setelah pembangunannya selesai.
“Nilainya bukan sedikit, sekitar Rp180 miliar,” ujar Amsakar.
Bagi BP Batam, pola tersebut memberi keuntungan lain di luar kebutuhan data center. Pemerintah tidak perlu menanggung seluruh biaya pembangunan instalasi, sementara infrastruktur air yang terbentuk berpotensi menjadi aset yang lebih luas manfaatnya.
Peluang itu muncul jika kapasitas produksi SWRO lebih besar daripada kebutuhan data center. Kelebihan produksi dapat diarahkan untuk kebutuhan air tawar di kawasan sekitar, meski penerapannya masih bergantung pada kapasitas instalasi dan hasil kajian.
“Kalau ada kelebihan debit air, sangat mungkin kita manfaatkan untuk kepentingan lokal,” kata Amsakar.
Kebutuhan air data center sendiri tidak kecil karena fasilitas tersebut membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga peralatan komputasi tetap beroperasi. Semakin besar kapasitas pusat data, semakin penting pula kepastian sumber air untuk menjaga keberlangsungan operasionalnya.
Karena itu, penyediaan SWRO mulai masuk dalam pembicaraan pengembangan sejumlah data center di Batam. Selain DayOne, PT Equator Gate System Batam atau EGSB juga mulai menyiapkan perencanaan SWRO untuk fasilitas data center di kawasan Teluk Mata Ikan, Nongsa.
Kehadiran lebih banyak instalasi SWRO berpotensi mengubah cara Batam memenuhi kebutuhan air bagi kawasan industri dan infrastruktur digital. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena instalasi tersedia.
Biaya pemeliharaan SWRO menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan sejak awal. Teknologi penyulingan air laut membutuhkan pengelolaan dan biaya operasional yang cukup besar sehingga model bisnis serta tata kelolanya harus jelas.
“Harus jelas kajiannya karena pemeliharaannya cukup besar,” ujar Amsakar.
BP Batam karena itu ingin memastikan pembangunan SWRO tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung data center. Ketika ada investor yang bersedia menanamkan modal untuk infrastruktur tersebut, pemerintah melihat peluang untuk menggabungkan kebutuhan bisnis dengan kebutuhan air di kawasan sekitar.
Skema itu juga menjelaskan mengapa BP Batam membuka ruang bagi pengembang untuk membangun sumber air sendiri. Data center memperoleh kepastian pasokan, sementara pemerintah berpeluang memperoleh infrastruktur air yang nantinya dapat dikelola untuk kepentingan yang lebih luas.
Untuk DayOne, kebutuhan air tetap menjadi bagian dari operasional data center dan pengelolaannya memiliki kepentingan bisnis tersendiri. Untuk Batam, instalasi yang bernilai sekitar Rp180 miliar itu berpotensi menjadi sumber baru air tawar apabila kapasitas dan tata kelolanya memungkinkan.
Potensi tersebut masih membutuhkan kajian mengenai kapasitas produksi, biaya pemeliharaan, kelayakan bisnis, serta mekanisme pemanfaatan air. Sementara itu, pembangunan data center dan persiapan SWRO terus berjalan seiring kebutuhan Batam menarik investasi digital berskala besar. ANTARA
Baca Juga: Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








