Saat Kritik Disambut Peluk: Catatan Pagi di Bandung tentang Jiwa Besar dan Topeng Suci Seorang Pendusta

Komunitas Jurnalis Kepri KJK
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), Ady Indra Pawennari. Foto: istimewa

Tak ada sedikit pun kilat amarah, aura permusuhan, apalagi dendam di gurat wajahnya. Pagi itu, segalanya tampak teduh. Seolah badai kritik yang saya tebarkan beberapa hari lalu menguap begitu saja, disapu bersih oleh kelapangan hatinya yang seluas samudra.

Oleh: Ady Indra Pawennari, Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Padahal, melalui tulisan sebelumnya, saya mengkritik dengan sangat keras perlakuan kasar Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam sebuah pertemuan menegangkan dengan pengurus Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) di Restoran Golden Prawn, Batam, Selasa (4/8/2026) malam.

Pria berjiwa besar di hadapan saya ini adalah Atal S. Depari, Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. Sungguh, tak pernah terlintas di benak saya akan bertemu dengannya secepat ini.

Namun, langkah takdir yang misterius justru mempertemukan kami di ruang sarapan Restoran Hotel Horison Ultima Bandung, Rabu (12/8/2026) pagi

Beliau yang sedang menikmati pagi bersama sang istri tercinta, tampak terkejut melihat siluet saya yang tiba-tiba muncul di antara kepulan asap kopi dan hiruk-pikuk tamu hotel yang sibuk memilah menu sarapan.

Sebagai junior yang tahu adat, saya melangkah mendekat. Menepis segala ego dan keraguan, saya mengulurkan tangan, menyalaminya penuh takzim. Di sinilah letak kebijaksanaan yang seketika mengetuk nurani saya: alih-alih memalingkan muka atau menunjukkan gestur dingin, Pak Atal justru langsung berdiri dari kursinya.

Beliau menyambut uluran tangan saya dengan kehangatan yang tulus, memeluk erat, dan menanyakan kabar dengan suara yang teduh. Sebuah keteladanan dari seorang maestro senior yang tahu persis cara memisahkan antara tajamnya kritik profesional dan ketulusan hubungan personal.

Kehadiran saya di hotel itu murni sebuah kebetulan yang indah. Jauh-jauh hari, seminggu sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan seorang kolega bisnis untuk bertemu dan memesan kamar di sana.

Namun, semesta selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan hati-hati yang rindu akan ruang diskusi. Di tempat dan hari yang sama, hotel tersebut ternyata menjadi tempat digelarnya Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Jawa Barat, yang dihadiri jajaran petinggi PWI Pusat.

Di sela momen itu, tak hanya Pak Atal yang saya temui. Saya juga berpapasan dan akhirnya sarapan bersama dengan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, dan Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus.

Hebatnya, mereka semua menyambut saya dengan dekapan persahabatan yang erat. Tak ada sekat, tak ada sinisme. Meskipun mereka tahu, pena saya baru saja “menguliti” sikap otoriter dan temperamental ketua umum mereka. Perlakuan dewasa ini memaksa saya termenung dalam-dalam tentang arti sebuah kematangan emosi.

Sembari melepas penat, saya sempat berbincang panjang lebar mengenai dunia sinematografi dan literasi dengan Zulkifli Gani Ottoh—yang akrab disapa Zugito. Beliau menaruh minat besar pada garis hidup saya.

Bagi Zugito, kisah perjalanan seorang anak manusia yang merangkak dari kampung terpencil di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, bertarung dengan nasib yang keras, hingga akhirnya bisa memetik kejayaan di Kepulauan Riau, adalah sebuah narasi yang teramat mahal. Sebuah drama kehidupan yang sangat memikat jika didokumentasikan dalam bentuk film maupun buku biografi.

Namun, perbincangan hangat tentang buku itu justru memantik kembali sebuah luka lama yang terpendam di dasar hati. Sebuah memori pahit tentang kepercayaan yang dikhianati dan kebohongan yang dibungkus rapi oleh seorang oknum penulis yang berprofesi sebagai wartawan.

Seketika, dada saya terasa sesak. Dahulu, dengan untaian kata manis dan janji-janji yang membuai, oknum penulis itu datang menawarkan diri untuk membukukan seluruh perjalanan hidup saya. Saya mempercayainya sepenuhnya. Saya serahkan mimpi-mimpi saya, bahkan biaya operasional untuk membeli laptop yang ia minta telah saya tunaikan tanpa ragu.

Namun, apa balasannya? Janji itu menguap menjadi dusta. Waktu terus bergulir, hari berganti bulan, hingga kini mencatat waktu 2,4 tahun berlalu tanpa ada kepastian. Buku yang ia janjikan tak pernah mewujud. Jangankan selembar halaman, perkembangannya pun nihil.

“Tulisan dan rekam jejak yang saya kumpulkan dengan keringat selama bertahun-tahun sudah saya serahkan ke dia. Tapi sampai detik ini, tidak ada kejelasan. Pada tahun pertama, saya masih rajin mengetuk hatinya, menanyakan progresnya, tetapi pesan-pesan saya hanya dibalas dengan keheningan dan pengabaian. Sekarang, saya memilih untuk melupakannya, mengikhlaskannya,” tutur saya kepada Zugito dengan nada getir yang tak mampu lagi saya sembunyikan.

Pedihnya, si penulis yang telah membohongi saya itu kini kerap berlaku seperti malaikat suci yang tak berdosa. Saat bertemu langsung, ia begitu sopan memperlakukan saya. Namun di belakang, ia memprovokasi wartawan lain untuk membunuh karier saya melalui berita-berita bohong.

Ada rasa perih yang mengiris kalbu ketika menyadari bahwa di dalam industri yang memuja kebenaran ini, masih ada oknum yang tega membohongi sesama demi materi dan eksistensi, membiarkan sebuah karya berharga terkubur bersama janji palsunya.

Beruntung, obrolan pagi itu segera diselimuti kembali oleh aura positif dari Zugito. Pria itu memang seorang maestro yang piawai di dunia perfilman. Di tengah kesibukannya yang menguras energi sebagai jurnalis senior di Fajar Group, ia membuktikan bahwa dedikasi tak akan pernah mengkhianati hasil. Ia tetap mampu melahirkan karya-karya film yang memukau.

Pagi itu di Bandung, di tengah hiruk-pikuk meja makan, saya pulang membawa dua pelajaran besar tentang kehidupan: tentang bagaimana kelapangan hati seorang Atal S. Depari yang mampu memaafkan tajamnya pena kritik, dan tentang bagaimana saya harus belajar melapangkan dada, mengikhlaskan sebuah pengkhianatan dari seorang penulis yang telah melukai sebuah kepercayaan. ***

Baca Juga: Ketegangan di Meja Makan: Ketika Ruang Dialog Berubah Menjadi Persoalan Eksistensi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait