Oleh: Dr. Sarmini, S.Pd.,M.M., Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah
Remaja identik dengan eksklusif performance. Mereka ingin tampil maksimal karena ingin eksistensi diri diakui oleh semua orang. Ketika kita melihat kesenjangan performance dari yang high performance hingga yang low performance dari persepsi penampilan fisik, dari anak-anak remaja baik di sekolah, kampus, ataupun dimanapun kita jumpai mereka, maka yang terpikir adalah apa yang mereka dapatkan dari orang tuanya? Privilege apa yang mereka nikmati hingga mendapatkan hak istimewa tersebut?
Kata “privilege” atau hak istimewa telah berubah dari sekadar istilah akademis menjadi kosakata sehari-hari di platform media sosial. Di kalangan pemuda, istilah ini sering digunakan dengan nada merendahkan untuk meremehkan prestasi seseorang seakan-akan keberhasilan remaja dari keluarga mampu hanyalah akibat dari “jalur orang dalam” atau pewarisan harta saja. Namun, jika kita mau meneliti lebih mendalam tanpa pengaruh kecemburuan sosial, fenomena privilese di kalangan remaja jauh lebih rumit daripada sekadar jumlah uang orang tua atau kenyamanan fasilitas. Ini adalah jaringan kompleks yang membangun struktur sosial sekaligus mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Lensa Sosiologi – Lebih Dari Sekadar Uang, Melainkan “Kelebihan Awal”
Dalam perspektif sosiologi, privilege kerap dianggap hanya sebagai kekayaan finansial. Sementara itu, sosiolog terkemuka dari Prancis, *Pierre Bourdieu*, sebelumnya telah mengklasifikasikan modal dalam berbagai jenis: modal ekonomi, modal sosial (jaringan dan hubungan), serta modal budaya (pendidikan, cara berbicara, hingga selera).
Remaja yang memiliki privilese tidak sekadar mendapatkan akses fisik seperti perangkat terbaru atau sekolah internasional.Yang lebih berpengaruh adalah “modal budaya” dan modal sosial yang diturunkan oleh orang tua mereka. “Sekolah umumnya memproduksi ketimpangan sosial bukan karena kurikulumnya memihak, tetapi karena sekolah menghargai modal budaya yang dibawa anak-anak dari kalangan atas—seperti kemampuan berbahasa asing, wawasan internasional, dan rasa percaya diri di hadapan pihak berwenang.”
Menurut teori dari Pierre Bourdieu (Distinction, 1984). Saat seorang remaja dari keluarga kelas menengah ke atas dengan gampang mendapatkan magang di perusahaan multinasional berkat jaringan orang tuanya, sosiologi memandangnya sebagai bentuk reproduksi sosial. Sosiolog modern dari jurnalisme ilmiah, Malcolm Gladwell, dalam bukunya “Outliers” juga menyatakan bahwa kesuksesan yang luar biasa biasanya bukan hanya hasil kerja keras individu. Gladwell menyebutkan istilah “keuntungan akumulatif” (accumulative advantage)
Lensa Psikologi – Keberadaan Gelap di Balik Karpet Merah
Jika sosiologi memandang privilege dari sudut luar (struktur dan akses), maka psikologi meneliti apa yang berlangsung di dalam pikiran dan emosi remaja tersebut. Terdapat anggapan yang salah di masyarakat bahwa remaja yang memiliki semua fasilitas kehidupan pasti merasa bahagia dan terhindar dari masalah kesehatan mental. Realitas psikologis justru memperlihatkan fakta yang berbeda.
Psikolog klinis terkenal dari Universitas Columbia, Dr. Suniya Luthar, telah menjalani penelitian mendalam selama beberapa dekade mengenai remaja dari keluarga berlimpah (affluent youth). Temuannya sangat mengejutkan: remaja dari kalangan kaya justru memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat, bahkan dalam beberapa kasus lebih tinggi dibandingkan remaja dari kelas pekerja.
Terkait apa penyebab terjadinya hal ini, Dr. Luthar mengidentifikasi dua faktor psikologis utama:
1. Dampak untuk Selalu Berprestasi (Impact to Achieve) : Remaja beruntung sering kali terbebani oleh harapan tersirat maupun tersurat dari orang tua dan sekitar mereka. Mereka diharapkan tidak hanya menjaga status sosial keluarga, tetapi juga melebihinya. Kegagalan dalam akademik atau karier bagi mereka dianggap sebagai bencana identitas.
2. Keterasingan Fisik dan Emosional (Isolasi): Akibat kesibukan orang tua dalam mengejar atau mempertahankan karier serta kekayaan, remaja-remaja ini sering merasakan kekosongan emosional di rumah, yang kemudian mereka isi dengan pelarian yang merusak.
Anak-anak dari keluarga kaya sering kali terjebak dalam tekanan yang luar biasa untuk mencapai kesempurnaan di semua aspek—akademis, olahraga, dan sosial. Saat merasa tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka merasakan kecemasan yang mendalam karena percaya bahwa nilai diri mereka hanya ditentukan oleh pencapaian menurut Dr. Suniya Luthar (The Affluence Culture, 2003)
Di samping itu, psikolog perkembangan,Dr. Madeline Levine dalam karyanya The Price of Privilege, menguraikan fenomena “self yang terputus”. Fasilitas materi yang melimpah sering kali menghalangi remaja untuk mengembangkan ketahanan mental (resilience). Saat semua rintangan hidup dihilangkan oleh kekuasaan atau uang orang tua (fenomena orang tua pemotong rumput), remaja tidak pernah belajar bagaimana cara terjatuh dan bangkit kembali. Sebagai hasilnya, mereka berkembang menjadi pribadi yang emosional lemah dan mudah mengalami krisis identitas saat memasuki fase dewasa yang tidak dapat dikendalikan oleh orang tua mereka.
Menuju “Pemeriksaan Privilege” yang Cermat
Menilai remaja hanya karena mereka lahir dalam kondisi beruntung adalah tindakan yang tidak adil secara psikologis, sama halnya dengan mengabaikan ketidaksetaraan struktural secara sosiologis. Seorang remaja tidak memiliki kontrol atas rahim tempat ia dilahirkan. Menggempur mereka secara pribadi di ranah publik hanya akan menciptakan sikap defensif dan menutup kemungkinan untuk berdialog.
Tindakan terbaik yang dapat diambil—oleh remaja itu sendiri, orang tua, maupun lingkungan pendidikan—adalah melaksanakan apa yang dikenal sebagai “privilege check”.
Secara sosiologis, remaja harus dibimbing untuk memahami lingkungan. Mereka perlu menyadari bahwa kenyamanan yang mereka nikmati bukanlah ukuran kehidupan semua orang, sehingga timbul rasa syukur yang diiringi dengan empati dan tindakan sosial, bukan superioritas struktural. Keistimewaan yang dimiliki seharusnya tidak dijadikan alasan untuk bersikap malas, melainkan sebagai tanggung jawab moral (noblesse oblige) untuk memberikan akses dan mendukung mereka yang kurang beruntung. *








