Notifikasi di grup komunitas berbunyi, tanda ada pesan yang layak diperhatikan. Apalagi di penghujung pekan, biasanya ada yang menyapa: ajakan gowes setelah jeda Ramadhan dan Lebaran.
Benar saja. Tapi kali ini bukan undangan biasa. Ia lahir dari satu sumber—BP Batam—lalu menjalar ke banyak ruang, membawa maksud yang sama. Sebuah ajakan gowes bersama Li Claudia Chandra, Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam. Disampaikan ringkas, namun maknanya tiba lebih dulu daripada kata-katanya. Bukan sekadar mengayuh sepeda, melainkan merajut kebersamaan di lintasan yang searah.
Pagi Minggu, 5 April 2026, halaman BP Batam kembali dipenuhi riuh yang hidup, bukan oleh kendaraan, melainkan oleh derak halus pedal dan tawa yang mengalir ringan. Ia menjelma menjadi ruang temu, tempat ratusan orang datang membawa satu irama yang serupa: bersepeda bersama.
Lebih dari seratus pesepeda berkumpul dengan niat yang beragam, namun bermuara pada tujuan yang serupa. Tema “GoSantun” terdengar lembut, nyaris puitis. Tapi di balik kesantunan itu, barangkali ada semangat yang sangat manusiawi: hasrat menebus santan, opor, dan segala limpahan nikmat menu Lebaran yang diam-diam menetap di tubuh, sekaligus alasan untuk kembali bergerak, bersama.

Ketika ajakan itu datang, semangat itu seperti menemukan nyalanya. Ia bukan sekadar ajakan, tapi magnet. Ingatan pun melompat ke tanggal 15 Juni tahun lalu, saat seribu pesepeda tumpah di jalanan Batam, merayakan Hari Sepeda Dunia dan ulang tahun ke-16 Batam Folding Bike.
Hari itu, tak ada seremoni yang kaku. Tak ada bendera start yang dikibaskan dari pinggir. Li Claudia melangkah ke depan, mengambil panji bertuliskan “Batam Folding Bike”, mengangkatnya tinggi, lalu mengayuh dari garis terdepan. Bukan sekadar memulai, tapi menuntun.
Sejak saat itu, arah seperti tak lagi samar.
Li Claudia Chandra menjelma lebih dari sekadar pejabat yang hadir di acara. Ia menjadi simpul, tempat semangat bertaut dan energi kolektif menemukan bentuknya. Kayuhan demi kayuhan yang ia lakukan seolah menghidupkan kembali denyut kota dengan sepeda, yang sempat meredup setelah pandemi. Berkali-kali ia memimpin gowes bersama, termasuk saat Hari Bhakti BP Batam hingga perayaan Hari Jadi Batam ke-196 yang diikuti ribuan pesepeda. Batam kembali bergerak, bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam semangat kebersamaan.
Barangkali benar, dari atas sepeda, kota terlihat lebih jernih. Bukan hanya jalan dan bangunan, tapi juga celah-celah yang bisa diperbaiki, ruang-ruang yang bisa dipercantik. Pelan-pelan, itu mulai terjadi. Taman-taman dibenahi. Pot-pot bunga tertata di bundaran. Kabarnya, bougenville disiapkan untuk mekar di sepanjang jalan dan akan memberi warna pada perjalanan, memberi jeda pada lelah.
Menjelang finis, di antara napas yang mulai berat dan tawa yang tetap ringan, seseorang bertanya,
“Bu, kapan bunga-bunga ini mulai ditanam?”
Li menoleh. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk menenangkan.
“Sebentar lagi.”
Dua kata yang sederhana. Tapi di dalamnya ada keyakinan yang utuh: bahwa perubahan sedang berjalan, tanpa perlu gaduh.
Di situlah kita paham, bahwa bersepeda ini tak lagi sekadar tentang olahraga atau membakar kalori. Ini tentang cara memandang kota, cara merawat kebersamaan, dan cara percaya bahwa sesuatu yang baik bisa tumbuh, selama ada yang mau mengayuh lebih dulu.
Maka, marilah bersepeda. Seperti Li Claudia. Karena kota ini tak dibangun oleh mereka yang menunggu di garis akhir, melainkan oleh mereka yang berani mengayuh dari garis depan. ***
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi
Baca Artikel Opini Lain:
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






