Di Banjarmasin, rindu tak pernah berjalan lurus. Ia berpilin di antara jalanan yang tak lagi lembap oleh embun, di bawah langit pagi yang menyala-nyala. Kota Seribu Sungai ini menyambut kami dengan senyum ramah, sapaan lembut Sungai Martapura, dan mentari yang perlahan menaikkan panasnya. Dari kejauhan, suara dayung, deru mesin perahu, dan roda yang berputar berpadu menjadi satu irama yang akrab di telinga, seolah-olah Banjarmasin memang ditakdirkan menjadi tempat di mana air, darat, dan manusia saling menyapa tanpa batas.
Kami, para pengguna sepeda lipat, datang dari berbagai penjuru mata angin, membawa “senjata” yang telah menemani banyak perjalanan, dan semangat yang sama: merangkai persaudaraan di atas dua roda. Pada Sabtu (18/10/2025) pagi itu, dari berbagai ceruk jalanan menuju Siring Balai Kota Banjarmasin, tempat pelepasan peserta, tampak raut wajah yang sama di antara kami: antusias, hangat, dan penuh kebahagiaan.
Ketika bendera start diangkat oleh Wakil Wali Kota Hj Ananda, semuanya larut dalam keriangan. Tak ada batas kota, tak bicara merek sepeda, tak ada perbedaan asal. Yang ada hanya irama pedal yang berpadu, langkah yang seirama, dan napas yang satu: napas kebersamaan.
Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) selalu punya cara menyatukan yang jauh dan menautkan yang berbeda. Di Banjarmasin, pada Jamselinas ke-14, ikatan itu terasa lebih kuat. Di tengah terik dan riuh, di antara sapaan warga dan deru kendaraan lainnya, kami menemukan makna lain dari perjalanan: bahwa bersepeda bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tapi tentang hati yang saling bertemu di setiap kayuhan. Ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Seperti lagu lama yang tiba-tiba terasa dekat, atau kenangan yang hidup kembali tanpa diminta.
Lagu-lagu lama memang menjadi pengiring malam penutup di acara Gala Dinner. Malam itu, seluruh peserta larut dalam kegembiraan. Apalagi dengan jumlah hadiah sepeda terbanyak sepanjang sejarah Jamselinas: 35 unit, di antaranya empat Brompton dan dua Tern, disertai United serta berbagai merek lainnya hasil dukungan para sponsor.
Lagu demi lagu mengalun, dari yang lawas hingga yang kekinian, membuat semua ikut bernyanyi dan bergoyang. Ketika lagu “Ini Rindu” karya Farid Hardja dan Lucky Resha didendangkan, suasana pun mencapai puncaknya. Semua ikut berdendang dan bergoyang, termasuk Sekda Kota Banjarmasin Ikhsan Budiman dan Ketua Umum Indonesia Folding Bike, Nte Ipung.
Lagu “Ini Rindu” malam itu bukan lagi tentang kisah cinta antardua insan, melainkan cermin dari rasa yang tumbuh di antara pesepeda: rasa yang lahir dari kebersamaan, perjalanan, dan kenangan yang tak tergantikan. Dalam setiap baitnya, terpantul gema roda yang berputar, langkah yang berpisah, dan tawa yang tinggal menjadi cerita. Rindu di sini bukan pada seseorang, tapi pada momen yang menyatukan hati di atas dua roda, pada teman-teman seperjalanan yang kini kembali ke kotanya masing-masing.


Indonesia Folding Bike, rumah besar pesepeda lipat yang berdiri sejak 11 Maret 2007, terus menumbuhkan persaudaraan hingga ke seluruh nusantara dan negeri tetangga. Tahun ini, komunitas Seli Banjarmasin menjadi tuan rumah bagi “hari raya” pesepeda lipat se-Indonesia. Founder IdFB, Azwar “Om Bugs” Hadi Kusuma, malam itu, mengumumkan calon tuan rumah 2026: Bandung, Tangerang, Kendari, Pare-Pare, Magelang dan konsorsium Muria: Demak, Pati, Kudus, Jepara.
Sepanjang rute pagi itu, banyak jeda yang menumbuhkan bahagia: berfoto bersama, saling berbagi air dan cemilan, tawa ringan, atau sekadar menepuk bahu teman di sebelah. Hal-hal kecil itu yang menenun kebersamaan; seperti benang yang saling pilin, erat dan tak terurai. Ketika sore tiba, saat matahari mulai turun di balik sungai, kami tahu hari itu bukan hanya tentang garis finish, tapi tentang rasa yang tumbuh sepanjang perjalanan.
Kini, ketika semua kembali ke kota masing-masing, rindu itu mulai terasa. Rindu pada bendera start yang berkibar, pada canda di antara pesepeda, pada kota yang menerima kami dengan tangan terbuka. Namun rindu seperti ini indah, karena ia tanda bahwa sesuatu pernah begitu berarti, pernah begitu hidup di dada.
Di Banjarmasin, kami tahu bahwa Jamselinas bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan perjalanan batin yang terus berputar. Setiap edisi adalah satu bab dari kisah panjang persaudaraan pesepeda lipat. Banyak cerita yang tercipta. Seperti kayuhan 1014 kilometer teman-teman dari Selitangs —Tangerang. Juga perjalanan 1.000 kilometer pesepeda lipat dari Makasar (komunitas Slim) dan sepasang suami istri dari Merauke (Slimer). Serta kayuhan 12 jam sepanjang 200 kilometer teman-teman dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Di sanalah cinta pada sepeda, persahabatan, dan rasa memiliki komunitas berpadu menjadi satu, berpilin erat seperti rantai yang menggerakkan roda. Dari setiap perpisahan, lahir satu janji yang sama: akan bertemu lagi di “Lebaran Pesepeda Lipat” berikutnya, di kota yang berbeda, dengan tawa dan bahagia yang sama.
Maka biarlah rindu ini terus berpilin, seperti jalanan Banjarmasin yang disatukan banyak jembatan, seperti rantai yang tak berhenti berputar. Sebab di balik setiap perjalanan, selalu ada yang tersisa: kenangan yang hidup, tawa yang tertinggal, dan rasa yang enggan pergi. Banjarmasin bukan sekadar tempat kami berkumpul tahun ini, ia pernah menjadi simpul rindu, tempat segala kenangan terikat erat.
Setiap Jamselinas melahirkan rindu, karena di atas dua roda kita temukan makna: cinta bukan soal jarak, melainkan arah yang selalu membawa kita kembali kepada sahabat.
Terima kasih, Banjarmasin. Rugi Kada Umpat.
Sampai jumpa di Jamselinas 15.
***
Baca Juga: Jamselinas 13 Malang: Antara Rindu dan Lagu-lagu Itu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






