BATAM (gokepri.com) – Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau mendorong agar pertumbuhan investasi dan ekonomi di Batam tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai investasi, tetapi juga mampu memperkuat daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
Asisten Direktur/Kepala Tim Perumusan KEKDA Yanny mengatakan, perekonomian Kepulauan Riau pada triwulan II 2026 tumbuh kuat sebesar 6,99 persen secara tahunan (yoy), ditopang antara lain oleh industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tersebut turut didorong oleh peningkatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi, konsumsi rumah tangga, dan konsumsi pemerintah.
Namun, menurut dia, tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut masih menyisakan tantangan karena belum sepenuhnya diikuti peningkatan konsumsi masyarakat.
“Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga Kepri hanya tumbuh 4,06 persen, berada di bawah capaian nasional sebesar 5,06 persen,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri yang banyak ditopang industri padat modal dan kinerja ekspor belum sepenuhnya terkonversi menjadi peningkatan pendapatan siap pakai dan daya beli masyarakat lokal.
Karena itu, BI menilai pertumbuhan investasi di Batam perlu diarahkan agar memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.
Selain daya beli, BI juga menyoroti perkembangan inflasi di Kepri dan Batam. Pada Juli 2026, Kepri mengalami deflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan, namun secara tahunan masih mencatat inflasi sebesar 4,24 persen.
Sementara itu, Kota Batam mengalami deflasi 0,26 persen pada Juli 2026, berbalik dari inflasi 0,68 persen pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi Batam tercatat 4,33 persen.
Yanny mengatakan capaian inflasi Batam tersebut perlu menjadi perhatian karena masih berada di atas inflasi nasional dan melampaui rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Menurut dia, kondisi geografis Kepri sebagai wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga stabilitas harga. Rantai distribusi yang panjang dan ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah dapat meningkatkan risiko tekanan harga.
Untuk mengantisipasinya, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjalankan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.
Langkah tersebut dilakukan melalui operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah, penguatan urban farming, pengembangan klaster hortikultura, kerja sama antardaerah hingga pemantauan gudang.
- Tiga Sektor Baru Batam
Di tengah tantangan tersebut, BI melihat terdapat tiga sektor yang berpotensi menjadi penopang baru ekonomi Batam pada 2026, yakni pariwisata, industri kreatif dan industri digital.
Menurut Yanny, sektor digital memiliki prospek kuat karena posisi Batam yang berdekatan dengan Singapura serta berada di jalur kabel bawah laut utama.
Kondisi tersebut membuat Batam berpeluang berkembang menjadi salah satu pusat data center kawasan.
“Posisi geografis Batam yang dekat dengan Singapura dan jalur kabel bawah laut utama menjadikan Batam kandidat kuat sebagai hub data center kawasan,” ujarnya.
Selain digital, industri kreatif juga dinilai memiliki peluang besar. Batam memiliki Infinite Studios yang berorientasi ekspor dan turut membina sekitar 22 studio animasi UMKM.
Sektor pariwisata juga tetap menjadi potensi penting dengan posisi Kepri sebagai salah satu destinasi wisata strategis.
Namun, Yanny mengingatkan Batam perlu memperkuat daya saing karena menghadapi persaingan dengan kawasan ekonomi lain, termasuk Johor-Singapore Special Economic Zone yang menawarkan fasilitas fiskal dan konektivitas kompetitif.
- Investasi Harus Berkelanjutan
BI menilai momentum pertumbuhan Batam dan Kepri masih terbuka lebar selama sinergi antara pemerintah daerah, otoritas, dunia usaha dan lembaga terkait terus diperkuat.
Menurut Yanny, stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi bagian penting untuk memastikan investasi yang masuk tidak berhenti pada angka pertumbuhan, tetapi memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
“Stabilitas nilai tukar dan inflasi akan tetap menjadi prioritas kami agar investasi yang terus mengalir ke Batam dapat diterjemahkan menjadi daya beli dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Batam,” katanya.
Ia mengatakan BI Kepri juga terus mendorong pengembangan sektor prioritas melalui berbagai program, termasuk Sumatera Investment Day, Sumatera Connect, Kepri Ramadan Fair, Gebyar Melayu Pesisir, business matching dengan investor Malaysia, serta forum bersama BP Batam dan kawasan ekonomi khusus.
Dengan berbagai peluang dan tantangan tersebut, BI optimistis pertumbuhan ekonomi Kepri dan Batam dapat terus dijaga dengan mengedepankan ketangguhan, kemandirian dan kolaborasi.
“Momentum pertumbuhan ekonomi Kepri dan Batam dapat terus dijaga sepanjang sinergi antara pemda, otoritas, instansi dan lembaga serta seluruh pelaku usaha terus diperkuat,” ujarnya.
Penulis: Engesti









