Jalur perdagangan dunia melintasi wilayah utara Indonesia. Potensi pelabuhan dan pariwisata dinilai belum tergarap.
JAKARTA (gokepri) — Posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan internasional belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi di wilayah utara Nusantara.
Kawasan yang berbatasan langsung dengan pusat-pusat perdagangan Asia itu dinilai memiliki peluang besar di sektor pelabuhan, jasa maritim, dan pariwisata, tetapi masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.
Baca Juga: Bupati Iskandarsyah Paparkan Peluang Potensi Ekonomi Karimun Sebagai Wilayah Perbatasan
Pandangan itu disampaikan Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring. Menurut dia, perhatian pembangunan nasional selama ini lebih banyak bertumpu pada kawasan selatan Indonesia, sementara wilayah utara belum memperoleh pengembangan yang sebanding dengan potensi yang dimilikinya.
Apabila Indonesia ingin memperkuat daya saing ekonomi dan memanfaatkan posisinya di jalur perdagangan global, kawasan utara perlu ditempatkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru. Langkah tersebut dinilai penting karena wilayah ini berada di lintasan pelayaran internasional yang menghubungkan berbagai pusat ekonomi dunia.
Tifatul menyebut sejumlah daerah yang dapat menjadi bagian dari pengembangan konsep “Ekonomi Utara”, yakni Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua.
Kepulauan Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus. Provinsi ini berada di sekitar Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik melalui jaringan perdagangan global.
Menurut Tifatul, aktivitas ekonomi yang lahir dari lalu lintas kapal di kawasan tersebut selama ini lebih banyak dinikmati Singapura. Padahal, wilayah Indonesia yang berdekatan dengan jalur pelayaran itu memiliki peluang untuk mengembangkan layanan pelabuhan, logistik, dan jasa maritim.
“Selama ini Singapura yang mengambil keuntungan lebih banyak dari kapal-kapal yang lewat,” ujar Tifatul dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Ia merujuk pada tingginya arus peti kemas di Singapura yang mencapai 41,12 juta TEU pada 2024. TEU atau twenty-foot equivalent unit merupakan satuan standar untuk mengukur kapasitas peti kemas dalam perdagangan internasional.
Menurut dia, peningkatan konektivitas transportasi menjadi prasyarat penting agar wilayah utara Indonesia mampu menarik lebih banyak investasi dan kunjungan wisatawan. Infrastruktur yang terhubung dinilai dapat membuka akses menuju berbagai destinasi yang selama ini belum berkembang optimal.
Selain perdagangan dan jasa maritim, kawasan utara Indonesia juga dinilai memiliki modal besar di sektor pariwisata. Sejumlah destinasi seperti Sabang, Danau Toba, Bunaken, Raja Ampat, dan Maluku Utara telah dikenal sebagai tujuan wisata yang memiliki daya tarik alam dan budaya.
Tifatul menilai kualitas destinasi tersebut tidak kalah dibandingkan kawasan wisata utama di Indonesia. Namun, aksesibilitas dan konektivitas masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat setempat.
Kepulauan Riau, menurut dia, juga berpeluang memperkuat perannya sebagai gerbang utara Indonesia. Letaknya yang berdekatan dengan Singapura dan Selat Malaka membuka peluang pengembangan layanan peti kemas, jasa kepelabuhanan, hingga pengisian bahan bakar kapal.
Batam dan Karimun disebut memiliki posisi strategis untuk menangkap sebagian aktivitas ekonomi yang selama ini terkonsentrasi di negara tetangga. Pengembangan sektor tersebut, menurut Tifatul, dapat memperluas basis ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan maritim regional.
Meski demikian, gagasan pengembangan “Ekonomi Utara” masih memerlukan dukungan kebijakan yang lebih konkret, mulai dari pembangunan infrastruktur, integrasi kawasan, hingga strategi investasi yang mampu menarik pelaku usaha. Tanpa langkah tersebut, keunggulan geografis Indonesia berisiko tetap menjadi potensi yang belum menghasilkan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional. ANTARA
Baca Juga: Membedah Potensi Karimun, PKS Dorong Pulau Terdepan Kepri Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








