Target Jaringan Gas Rumah Tangga Bertambah, Pendanaan Disiapkan

Bedah dapur gaskita PGN
PGN menghadirkan Program Bedah Dapur GasKita 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat yang memilih menggunakan gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga. Melalui program ini, pelanggan baru GasKita berkesempatan memperoleh renovasi dapur yang lebih modern, nyaman, dan fungsional. Foto: PGN

Target sambungan gas bumi untuk rumah tangga bertambah. Pemerintah siapkan tiga skema pendanaan.

JAKARTA (gokepri) – Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan gas rumah tangga dengan menambah target sambungan menjadi 119.379 pada 2025–2026 untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG. Percepatan itu ditopang kesiapan konstruksi, pendanaan, dan pasokan gas domestik.

Pemerintah menempatkan perluasan jaringan gas sebagai salah satu cara memperkuat ketahanan energi nasional. Karena itu, target pembangunan sambungan rumah (SR) periode 2025–2026 dinaikkan dari 115.264 menjadi 119.379 SR yang tersebar di 15 kabupaten dan kota.

Baca Juga: PGN Targetkan 150 Ribu Sambungan Jargas di Batam, Subsidi LPG Bisa Hemat Rp79 Miliar per Bulan

Penambahan target berasal dari tambahan 1.765 sambungan di Kota Jambi, 2.000 sambungan di Kota Bontang, dan 350 sambungan di Kabupaten Gresik.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan seluruh target tersebut telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 3 Agustus 2026. “Seluruhnya sudah memasuki tahap penyelesaian konstruksi,” kata Qodari.

Selain menyelesaikan proyek yang berjalan, pemerintah mulai membuka pengembangan baru di Kabupaten Cirebon. Tahap pertama mencakup target 41.043 sambungan rumah di Kecamatan Gempol, Palimanan, Dukupuntang, dan Depok.

Proyek yang dikontrak sejak 20 Mei hingga 31 Desember 2026 itu masih berada pada tahap awal. Pemerintah masih memetakan jalur pipa, menentukan lokasi stasiun pengatur dan pengukur tekanan gas, serta mendata calon pelanggan.

Percepatan tersebut menjadi lanjutan pembangunan jaringan gas nasional yang hingga akhir 2025 telah mencapai 949.008 sambungan rumah. Sebanyak 703.308 sambungan berasal dari pendanaan APBN, sedangkan 245.700 sambungan dibangun melalui skema non-APBN.

Dari capaian itu, pemerintah mulai menyiapkan ekspansi yang lebih besar pada periode 2026–2028. Targetnya mencapai 959.232 sambungan rumah di delapan kabupaten dan kota.

Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan target terbesar, yakni 182.665 sambungan rumah. Setelah itu Kota Depok sebanyak 156.134 sambungan, Kabupaten Bekasi 120.691 sambungan, Kabupaten Cirebon 117.142 sambungan, Kabupaten Lamongan 101.295 sambungan, Kabupaten Tangerang 100.247 sambungan, Kabupaten Pasuruan 93.772 sambungan, dan Kabupaten Jombang 87.286 sambungan.

Menurut Qodari, dokumen Front End Engineering Design (FEED) dan Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk proyek tersebut telah selesai disusun. Saat ini pemerintah memasuki tahap persiapan pelaksanaan.

“Dengan demikian, pada periode 2025 hingga 2028, pembangunan jaringan gas ditargetkan mencapai 1.119.654 sambungan rumah,” ujarnya.

Besarnya target membuat pemerintah menyiapkan tiga jalur pembiayaan. Pendanaan berasal dari APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan investasi badan usaha milik negara (BUMN).

Pada 2025, pembangunan 100.000 sambungan rumah dibiayai melalui investasi BUMN. Sementara pada 2026 pemerintah menargetkan pembangunan 150.000 sambungan melalui APBN, 50.000 sambungan melalui KPBU, dan 100.000 sambungan melalui investasi BUMN.

Selanjutnya pada 2027, 2028, dan 2029, pemerintah menargetkan pembangunan masing-masing 350.000 sambungan rumah setiap tahun. Komposisinya terdiri atas 150.000 sambungan melalui APBN, 100.000 melalui KPBU, dan 100.000 melalui investasi BUMN.

Secara keseluruhan, pembangunan jaringan gas rumah tangga pada periode 2025–2029 diproyeksikan mencapai 1,45 juta sambungan rumah. Rinciannya, 600.000 sambungan melalui APBN, 350.000 melalui KPBU, dan 500.000 melalui investasi BUMN.

Qodari mengatakan kebutuhan anggaran dihitung menggunakan pendekatan sekitar Rp10 juta untuk setiap sambungan rumah. Nilai itu masih dapat berubah sesuai hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, lokasi pembangunan, dan hasil pengadaan.

Pasokan Dipastikan Cukup

Menurut pemerintah, percepatan pembangunan tidak terkendala pasokan gas. Sekitar 70–75 persen produksi gas nasional telah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Pemerintah terus memastikan kesiapan pasokan berdasarkan ketersediaan sumber atau alokasi gas, volume dan profil kebutuhan pelanggan, kesinambungan pasokan selama umur operasi, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi,” kata Qodari.

Pemerintah kini menyiapkan penyelesaian proyek yang sedang berjalan sekaligus memasuki tahap pelaksanaan pengembangan berikutnya agar target pembangunan 1,45 juta sambungan rumah hingga 2029 dapat tercapai. ANTARA

Baca Juga: Bayar Tagihan Jargas PGN Kini Bisa Pakai MyPertamina

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait