Tanker Tertahan di Teluk Persia, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Selat hormuz minyak
Selat Hormuz. Foto: The Economist

JAKARTA (gokepri) — Krisis keamanan di Selat Hormuz membuat arus minyak dunia tersendat. Puluhan kapal tanker raksasa bermuatan penuh tertahan di Teluk Persia, memicu risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga energi global.

Data pelacakan kapal Kpler yang dikutip Bloomberg, Selasa (3/3/2026), mencatat sedikitnya 40 very large crude carrier (VLCC) tertahan di kawasan tersebut. Setiap kapal mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah. Artinya, puluhan juta barel kini “menganggur” di laut.

Sejumlah pemilik kapal dan nakhoda memilih menunggu kejelasan situasi keamanan sebelum mencoba melintasi selat sempit itu. Perusahaan pelayaran besar pun menginstruksikan armada mereka untuk berlindung di lokasi aman.

HBRL

Baca Juga: Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasokan Energi Asia

“Ketidakefisienan kemungkinan akan meningkat karena para pemilik kapal mengadopsi pendekatan wait and see,” tulis analis Fearnley Securities, Fredrik Dybwad dan Sigurd Gjone Gabrielsen.

Iran memang belum mengumumkan penutupan resmi Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel dimulai akhir pekan lalu. Namun Teheran telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas. Hingga Senin pagi, sedikitnya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Tekanan juga datang dari sektor asuransi. Lebih dari separuh klub asuransi maritim terbesar dunia menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki Teluk. Tanpa jaminan tersebut, biaya dan risiko operasional melonjak drastis. Praktis, jalur penghubung produsen minyak utama dengan pasar global itu nyaris tak dapat dilalui.

Data Vortexa menunjukkan hanya empat supertanker melintasi selat pada 1 Maret, anjlok dari 22 kapal sehari sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, hanya segelintir tanker besar tercatat keluar. Dua di antaranya adalah kapal tanker Iran yang terkena sanksi AS.

Jumlah kapal yang tertahan diperkirakan lebih besar jika menghitung tanker berukuran kecil. Sebagian kapal memilih mematikan sinyal transponder atau “go dark” untuk mengurangi risiko, sementara gangguan sinyal memperumit pelacakan.

Joint Maritime Information Center (JMIC) telah menaikkan tingkat peringatan keamanan ke level kritis—tingkat tertinggi. Peningkatan ini menyusul serangan rudal dan drone terhadap kapal komersial di Teluk Oman, sekitar Musandam, hingga pesisir Uni Emirat Arab. Satu kapal tanker berbendera AS, Stena Imperative, dilaporkan terkena proyektil.

Situasi berubah cepat. JMIC menyebut kapal tanker Sea La Donna yang sebelumnya dilaporkan terdampak kini tidak lagi dikategorikan sebagai korban serangan—menunjukkan dinamika dan kaburnya informasi di lapangan.

Otoritas registrasi kapal seperti Liberia dan Kepulauan Marshall—dua registri kapal terbesar dunia—menginstruksikan penerapan tingkat keamanan tertinggi. Artinya, operasi bongkar muat kargo dihentikan sementara.

Dampaknya merembet ke hulu dan hilir. Dengan kapasitas penyimpanan di darat terbatas dan minimnya kapal kosong di dalam Teluk, tangki bisa penuh jika krisis berlarut. Produsen berisiko terpaksa memangkas atau bahkan menghentikan produksi. Analis JPMorgan memperkirakan penutupan efektif lebih dari 25 hari dapat memaksa penghentian produksi minyak.

Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak mentah. Gas alam cair (LNG) dari Qatar—eksportir LNG terbesar kedua dunia dengan sekitar 20 persen pasokan global—juga harus melintas di sana menuju Asia dan Eropa.

Kekhawatiran meluas hingga Laut Merah. Ancaman milisi Houthi di Yaman terhadap kapal kargo membuat sejumlah operator kontainer global mengalihkan rute. Biaya logistik meningkat, waktu tempuh memanjang, dan rantai pasok kembali diuji. BLOOMBERG

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 13 Persen, Pasar Cemas Selat Hormuz Terganggu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait