Selat Hormuz Kembali Akan Dibuka, Akankah Krisis Mereda?

Harga minyak 13 april 2026
Kapal melintas di Selat Hormuz. Foto: REUTERS

TEHERAN (gokepri) – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang berakhirnya perang yang mengguncang Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir.

Namun, di balik meredanya konflik dan mulai pulihnya jalur energi global, masih tersisa pertanyaan besar mengenai pelaksanaan perjanjian dan stabilitas kawasan dalam jangka panjang.

Sinyal paling nyata muncul dari Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kapal-kapal kembali melintas di kawasan tersebut dan jalur itu diperkirakan sepenuhnya terbuka pada Jumat (19/6/2026).

Baca Juga: AS-Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Akan Dibuka

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perkembangan penting bagi ekonomi global. Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, Iran menutup jalur tersebut, sedangkan Amerika Serikat membatasi pelayaran menuju dan dari pelabuhan Iran. Gangguan itu memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

“Kapal-kapal mulai bergerak dan banyak yang membawa minyak keluar dari Selat Hormuz,” ujar Trump saat menghadiri pertemuan G7 di Prancis.

Media Iran melaporkan tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo telah melintasi kawasan tersebut pada Senin malam. Informasi itu menjadi indikasi awal bahwa implementasi kesepakatan mulai berjalan.

Menurut pernyataan bersama Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator, perjanjian damai akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat 19 Juni 2026. Namun, seorang pejabat senior pemerintahan AS menyebut Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah lebih dahulu menandatangani dokumen itu secara elektronik.

Meski kedua pihak menyatakan perang telah berakhir, perbedaan pandangan mengenai isi dan pelaksanaan perjanjian masih terlihat.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut kesepakatan tersebut mengakhiri perang secara langsung. Pemerintah Iran juga memandang hasil perundingan itu sebagai pencapaian diplomatik yang penting bagi kawasan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengingatkan bahwa hubungan Teheran dan Washington dibayangi sejarah panjang ketidakpercayaan. “Kami memiliki sejarah komitmen yang dilanggar,” ujarnya.

Pernyataan Araghchi menunjukkan bahwa berakhirnya perang belum otomatis menghapus keraguan kedua negara terhadap kesediaan masing-masing pihak menjalankan kesepakatan.

Lebanon Masih Menjadi Titik Rawan

Ketidakpastian juga muncul di Lebanon, salah satu medan konflik yang terdampak perang Iran dan Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei meminta Amerika Serikat memastikan Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon sesuai semangat perjanjian damai.

Konflik di Lebanon meningkat sejak Maret 2026 ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan roket ke wilayah Israel. Serangan itu memicu operasi militer Israel dan memperluas perang ke luar wilayah Iran.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon, Suriah, dan Gaza selama dianggap perlu demi kepentingan keamanan Israel.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa salah satu sumber ketegangan utama di kawasan belum terselesaikan. Bahkan setelah pengumuman kesepakatan damai, media pemerintah Lebanon melaporkan satu orang tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan negara itu.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut baik perjanjian tersebut. Dalam pembicaraan dengan Araghchi, ia berharap kesepakatan itu menjadi langkah awal untuk menurunkan ketegangan di kawasan.

Isi Kesepakatan Masih Belum Terang

Selain isu keamanan, rincian kesepakatan damai juga belum sepenuhnya terbuka ke publik.

Menurut Baqaei, Amerika Serikat berkomitmen mencairkan dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri serta membahas kompensasi atas kerugian selama perang. Kantor berita Mehr sebelumnya melaporkan nilai aset yang akan dicairkan mencapai 12 miliar dollar AS.

Iran juga menyatakan akan membawa kesepakatan akhir mengenai program nuklirnya ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah proses perundingan lanjutan selesai.

Persoalan nuklir diperkirakan menjadi bagian paling rumit dalam perundingan berikutnya. Washington menginginkan pembatasan program pengayaan uranium Iran, sementara Teheran selama ini menganggap program tersebut sebagai hak kedaulatan negara.

Trump mengatakan pemerintahannya masih membahas kemungkinan penghentian pengayaan uranium Iran selama 15 hingga 20 tahun. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai kesepakatan final dalam isu tersebut.

Pasar Menyambut Positif

Pasar keuangan global merespons positif pengumuman perdamaian.

Harga minyak mentah dunia turun hampir 5 persen menuju kisaran 80 dollar AS per barel setelah sebelumnya sempat menembus 110 dollar AS pada awal perang. Penurunan harga mencerminkan harapan bahwa pasokan energi global akan kembali stabil.

Bursa saham Amerika Serikat juga menguat. Indeks Dow Jones mencetak rekor baru, sedangkan Nasdaq melonjak lebih dari 3 persen.

Meski demikian, pemulihan ekonomi belum tentu diikuti pemulihan psikologis masyarakat yang hidup di tengah konflik.

Arya, seorang guru bahasa Inggris di Teheran, menilai perang telah meninggalkan luka yang tidak mudah hilang. Menurut dia, masyarakat Iran kini memandang hubungan dengan Amerika Serikat secara berbeda dibandingkan sebelum konflik pecah. REUTERS

Baca Juga: AS-Iran Damai: IHSG Menguat, Harga Minyak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait