SINGAPURA (gokepri) — Harga minyak dunia melonjak hingga 13 persen saat perdagangan dibuka kembali di tengah eskalasi konflik udara antara Iran dan gabungan Amerika Serikat serta Israel. Pasar khawatir pasokan energi global yang melintasi Selat Hormuz akan terganggu.
Brent crude sempat menyentuh US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Harga kemudian terkoreksi ke US$79,86, namun tetap 9,5 persen lebih tinggi dibanding penutupan 27 Februari dan naik sekitar 30 persen sejak awal 2026.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat naik 6,95 persen ke US$71,68 setelah sempat menyentuh US$75,33, tertinggi sejak Juni 2025.
Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah Berpotensi Guncang Harga Minyak Dunia
Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Setiap hari, sekitar 15 juta barel minyak mentah dan 290 juta meter kubik LNG dikirim dari Timur Tengah ke Asia dan Eropa.
Konflik memanas sejak 28 Februari ketika Iran membalas serangan udara AS-Israel dengan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah negara Arab yang menampung fasilitas militer Amerika.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sedikitnya empat insiden kapal terkena proyektil tak dikenal sejak 1 Maret di sekitar Hormuz.
Meski otoritas Iran menyatakan tidak berniat menutup selat itu, sejumlah kapal melaporkan siaran radio yang menyebut transit dilarang. Banyak kapal memilih menunggu di luar perairan tersebut setelah perusahaan asuransi memperingatkan pembatalan polis dan kenaikan premi.
Max Layton, kepala riset komoditas global Citibank, memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel selama konflik berlangsung setidaknya sepekan ke depan.
Jika konflik berkepanjangan, harga bisa melonjak hingga US$120 per barel.
“Iran belum resmi menutup Selat Hormuz, tetapi kehati-hatian pelayaran sudah nyata. Volume transit menurun dan kapal-kapal parkir di luar selat,” ujarnya.
Serangan terhadap tanker Skylight milik Oman dan platform lepas pantai Abu Al Bukhoosh di Uni Emirat Arab menunjukkan risiko terhadap aset energi juga meningkat.
Di tengah ketegangan ini, OPEC+ pada 1 Maret memutuskan menaikkan target produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April. Kenaikan tersebut lebih besar dibanding tambahan 137.000 barel pada Desember lalu.
Namun Jorge Leon dari Rystad Energy menilai tambahan produksi itu tidak serta-merta menenangkan pasar.
“Pasar lebih khawatir apakah minyak bisa keluar lewat Hormuz. Jika arus terganggu, tambahan produksi hanya memberi sedikit kelegaan,” katanya.
Selama akses ke jalur ekspor belum sepenuhnya aman, risiko terhadap harga tetap tinggi. REUTERS
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, 201 Tewas dalam Serangan ke Iran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







