Pasar Ragu AS-Iran Damai, Harga Minyak Kembali Naik

Kapal tanker minyak melintas di perairan Selat Hormuz saat pasar global mencermati dampak negosiasi Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi.
Tambang minyak di Kazakhstan, April 2026. REUTERS

TOKYO (gokepri) – Harga minyak dunia kembali menanjak pada Jumat, 22 Mei 2026, setelah pasar meragukan peluang terobosan dalam perundingan Amerika Serikat dan Iran. Kebuntuan soal uranium dan Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Kenaikan ini muncul ketika pasar energi global masih dibayangi perang di kawasan Timur Tengah. Meski gencatan senjata sudah berlangsung enam pekan, jalur distribusi minyak utama belum pulih, sementara sebagian pasokan dunia masih tertahan.

Kontrak minyak mentah Brent naik US$2,38 atau 2,3 persen menjadi US$104,96 per barel. Adapun minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,73 atau 1,8 persen ke level US$98,08 per barel.

HBRL

Baca Juga: Negara ASEAN Berebut Minyak Rusia, Apa Risikonya?

Penguatan itu membalik tekanan sehari sebelumnya. Pada Kamis, kedua acuan harga minyak tersebut turun sekitar 2 persen dan menyentuh posisi penutupan terendah dalam hampir dua pekan.

Pasar menilai perundingan Amerika Serikat dan Iran belum memberi kepastian. Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters belum ada kesepakatan yang tercapai, meski jarak posisi kedua pihak mulai menyempit.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut terdapat “some good signs” atau sinyal positif dalam pembicaraan. Namun, Washington tetap menolak kemungkinan sistem pungutan atau pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz.

“Dengan prospek perundingan damai yang masih tidak pasti, harga minyak naik karena pasar memperkirakan ketidakstabilan Timur Tengah dan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz masih berlanjut,” kata analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida.

Menurut Yoshida, harga WTI pekan depan berpotensi bertahan pada kisaran US$90–US$110 per barel, pola yang relatif bertahan sejak akhir Maret. Proyeksi itu menunjukkan pasar belum melihat normalisasi pasokan dalam waktu dekat.

Selat Hormuz menjadi titik krusial perdagangan energi global. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan energi dunia melewati jalur tersebut. Perang telah memangkas sekitar 14 juta barel minyak per hari dari pasar global atau setara 14 persen pasokan dunia, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Kepala perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab ADNOC bahkan memperkirakan arus penuh minyak melalui Selat Hormuz belum pulih sebelum kuartal pertama atau kedua 2027, bahkan bila konflik berhenti sekarang.

Di tengah ketidakpastian itu, negara produsen OPEC+ justru bersiap menambah produksi. Empat sumber menyebut tujuh negara utama anggota OPEC+ kemungkinan menyetujui kenaikan moderat output Juli dalam pertemuan 7 Juni mendatang. Namun distribusi dari beberapa negara masih terganggu akibat konflik Iran. REUTERS

Baca Juga: Potensi Besar Minyak Atsiri yang Belum Tergarap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait