Rapor Merah PPDB di SMAN 1 Batam

PPDB SMAN 1 Batam
Sosialisasi PPDB kuota tambahan di aula SMAN 1 Batam, Jumat 14 Juli 2023. Foto: Dok. Ombudsman Kepri

Batam (gokepri) – PPDB di SMAN 1 Batam menyisakan masalah. Solusi penambahan rombongan kelas demi menampung siswa justru akan mengurangi kualitas kegiatan belajar mengajar.

Kepala Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia (RI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Lagat Siadari, angkat bicara mengenai penambahan rombongan belajar (rombel) di SMA Negeri 1 Batam.

Ia menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan penambahan rombel tersebut karena tidak sesuai dengan solusi yang telah disarankan oleh Ombudsman RI Perwakilan Kepri kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri.

“Harapannya didistribusikan ke sekolah terdekat lainnya. Atau setidaknya dipadatkan dari 36 siswa dalam satu rombel, ditambah 4. Sisanya didistribusikan ke sekolah yang belum penuh kuotanya. Bukannya ditambah rombel,” ungkapnya usai menghadiri Sosialisasi PPDB Kuota Tambahan di Aula SMA Negeri 1 Batam pada Jumat (14/07/2023).

Diketahui, penambahan empat rombel di SMAN 1 Batam akan menggunakan sistem kelas online sementara, dan menurutnya ini akan mengganggu proses belajar mengajar.

“Meskipun ada pengajuan permohonan 5 kelas yang rusak untuk diperbaiki, tapi selama 6 bulan sampai 1 tahun siswa bersekolah online, tentu ini tidak efektif. Apalagi masih ada sekolah yang belum penuhi kuota. Alihkan saja kesana,” pungkas Lagat.

Lagat mengungkapkan kekecewaannya terhadap oknum pejabat yang melakukan intervensi dalam pelaksanaan PPDB sehingga mendorong sekolah untuk melakukan penyimpangan seperti menambahkan rombel.

“Seharusnya sebagai pejabat juga harus memastikan kualitas pendidikan baik, bukan justru turut andil titip menitip siswa, menekan sekolah melakukan penyimpangan dengan membuka rombel baru yang tidak sesuai ketentuan,” ucapnya.

Menanggapi temuan pelanggaran ini, Lagat menyatakan bahwa Ombudsman RI Perwakilan Kepri akan kembali menyurat kepada Gubernur selaku penanggung jawab PPDB.

“Temuan ini akan kami catat dan laporkan ke Gubernur. Kami juga akan menyerahkan laporan ini kepada Kementerian untuk mendapatkan penilaian dan sanksi jika diperlukan terkait dengan penyimpangan ini,” tegas Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kepri, Lagat Siadari.

Siswa baru SMAN 1 Batam dan SMAN 3 Batam akan mengikuti pembelajaran online karena jumlah peserta didik di kedua sekolah tersebut melebihi kapasitas yang tersedia. Menjadi solusi sementara akibat pendaftaran PPDB di dua sekolah itu membeludak.

Kepala Sekolah SMAN 1 Batam, Bahtiar, menjelaskan siswa kelas 11 akan menjalani pembelajaran dengan sistem shift ganda bersama dengan siswa baru kelas 10. “Nanti kami akan buka kelas Online,” ungkapnya, Senin 17 Juli 2023.

Bahtiar menjelaskan saat ini SMAN 1 hanya memiliki 25 kelas, di mana 14 kelas telah dialokasikan untuk kelas 12 dan kelas 10. SMAN 1 juga telah menampung 257 siswa baru. “Jumlah siswa sudah membeludak,” tambahnya.

Tak hanya SMAN 1, SMAN 3 Batam juga menghadapi situasi yang serupa. Kepala Sekolah SMAN 3 Batam, Silvia Andriani, mengungkapkan jumlah siswa di sekolah tersebut juga telah melebihi kapasitas yang tersedia. Selain itu, orang tua murid juga terus mendesak agar anak-anak mereka diterima di sekolah tersebut. “Solusinya nanti dibagi menjadi dua kelas, online dan offline,” jelasnya.

Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2023, SMAN 3 Batam membuka 12 kelas dengan total 432 siswa atau rata-rata 36 siswa per kelas. Namun, saat ini kapasitasnya sudah terlampaui.

“Dalam prosesnya, karena masih banyak siswa yang belum tertampung, ditambah lagi saat ini satu kelas hampir mencapai 60 orang,” tambahnya. Silvia berharap ada kebijakan tegas dari pemerintah terkait PPDB di Batam.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, mengakui permasalahan jumlah peserta didik di jenjang SMAN di Batam memang kompleks. Banyak siswa yang bertahan di satu sekolah, meskipun di sekolah lain masih tersedia tempat kosong. “Contohnya di SMAN 26 Batam, masih ada tempat kosong, namun masih ada siswa yang memilih bertahan di sekolah tersebut,” ungkapnya.

Andi menjelaskan pembelajaran online dilakukan sebagai solusi sementara. “Terpaksa kita harus belajar online dulu. Sebelumnya, karena COVID-19, juga dilakukan pembelajaran online. Jadi, itu merupakan solusi sementara,” kata Andi.

Ia menjelaskan peserta didik yang tidak diterima di satu sekolah harus ditampung di sekolah lain agar proses pembelajaran dapat berjalan. “Kami berharap orang tua dapat memahami bahwa sekolah lain juga memiliki kualitas yang sama baiknya,” tambahnya.

Dalam menghadapi sejumlah masalah yang muncul selama pembelajaran online, pihak terkait akan mencari solusi tambahan. “Solusi saat ini adalah demikian, dan jika ada masalah, kami akan mencari solusi lainnya,” tutupnya.

Baca Juga: Siswa Membeludak, SMAN 1 dan SMAN 3 Batam Buka Kelas Daring

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Tambunan/Engesti

BAGIKAN