Batam (gokepri) – Siswa baru SMAN 1 Batam dan SMAN 3 Batam akan mengikuti pembelajaran online karena jumlah peserta didik di kedua sekolah tersebut melebihi kapasitas yang tersedia. Menjadi solusi sementara akibat pendaftaran PPDB di dua sekolah itu membeludak.
Kepala Sekolah SMAN 1 Batam, Bahtiar, menjelaskan siswa kelas 11 akan menjalani pembelajaran dengan sistem shift ganda bersama dengan siswa baru kelas 10. “Nanti kami akan buka kelas Online,” ungkapnya, Senin 17 Juli 2023.
Bahtiar menjelaskan saat ini SMAN 1 hanya memiliki 25 kelas, di mana 14 kelas telah dialokasikan untuk kelas 12 dan kelas 10. SMAN 1 juga telah menampung 257 siswa baru. “Jumlah siswa sudah membeludak,” tambahnya.
Tak hanya SMAN 1, SMAN 3 Batam juga menghadapi situasi yang serupa. Kepala Sekolah SMAN 3 Batam, Silvia Andriani, mengungkapkan jumlah siswa di sekolah tersebut juga telah melebihi kapasitas yang tersedia. Selain itu, orang tua murid juga terus mendesak agar anak-anak mereka diterima di sekolah tersebut. “Solusinya nanti dibagi menjadi dua kelas, online dan offline,” jelasnya.
Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2023, SMAN 3 Batam membuka 12 kelas dengan total 432 siswa atau rata-rata 36 siswa per kelas. Namun, saat ini kapasitasnya sudah terlampaui.
“Dalam prosesnya, karena masih banyak siswa yang belum tertampung, ditambah lagi saat ini satu kelas hampir mencapai 60 orang,” tambahnya. Silvia berharap ada kebijakan tegas dari pemerintah terkait PPDB di Batam.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, mengakui permasalahan jumlah peserta didik di jenjang SMAN di Batam memang kompleks. Banyak siswa yang bertahan di satu sekolah, meskipun di sekolah lain masih tersedia tempat kosong. “Contohnya di SMAN 26 Batam, masih ada tempat kosong, namun masih ada siswa yang memilih bertahan di sekolah tersebut,” ungkapnya.
Andi menjelaskan pembelajaran online dilakukan sebagai solusi sementara. “Terpaksa kita harus belajar online dulu. Sebelumnya, karena COVID-19, juga dilakukan pembelajaran online. Jadi, itu merupakan solusi sementara,” kata Andi.
Ia menjelaskan peserta didik yang tidak diterima di satu sekolah harus ditampung di sekolah lain agar proses pembelajaran dapat berjalan. “Kami berharap orang tua dapat memahami bahwa sekolah lain juga memiliki kualitas yang sama baiknya,” tambahnya.
Dalam menghadapi sejumlah masalah yang muncul selama pembelajaran online, pihak terkait akan mencari solusi tambahan. “Solusi saat ini adalah demikian, dan jika ada masalah, kami akan mencari solusi lainnya,” tutupnya.
Baca Juga:
- PPDB SMA di Batam Amburadul, Uba Kritik Gubernur Ansar
- Temuan Ombudsman Kepri Soal PPDB SMA/SMK 2023 Mengejutkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









