Pulau Laut Krisis Listrik dan Jaringan Telekomunikasi

Camat Pulau Laut, Bambang Erawan. Foto: Gokepri.com/Usman

NATUNA (gokepri.com) – Pulau Laut merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara kini dinyatakan sedang krisis listrik dan jaringan telekomunikasi.

Pernyataan ini disampaikan Camat Pulau Laut, Bambang Erawan di Ranai, Jumat, 20 Januari 2023 melalui telepon.

Dikatakannya, sektor kelistrikan di Pulau Laut sejak beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan kacau balau. Listrik di wilayah kecamatan paling utara Kabupaten Natuna itu sering sekali mengalami pemadaman mendadak.

HBRL

“Sudah begitu padamnya tidak dalam hitungan jam, tapi hitungan hari, kadang bisa sampai tiga hari mati listrik, betul-betul krisis. Pokoknya kacau lah,” tutur Bambang.

Menurutnya, kekacauan itu terjadi karena jumlah mesin listrik yang disediakan untuk mensuplai daya di Pulau Laut tidak cukup untuk mengatasi kondisi-kondisi darurat yang terjadi.

Mesin listrik yang tersedia di Pulau Laut sebanyak 2 unit yang terdiri dari mesin utama dan mesin cadangan. Parahnya kedua mesin ini sering mengalami gangguan dan kerusakan yang mengakibatkan pemadaman mendadak dalam wakut yang lama.

“Kondisi ini sudah saya sampaikan ke Menejer PLN Natuna, katanya waktu itu mesinnya sedang dalam perbaikan. Maunya kami paling tidak cadangannya bisa tetap standbay sehingga kalau mesin utamanya rusak pemadaman tidak sampai lama-lama,” kata Bambang.

Keadaan listrik yang kacau balalau ini disebutnya berdampak buruk pada jaringan telekomunikasi di wilayah kecamatan perbatasan yang ia pimpin.

Pria lulusan Universitas Andalas tahun 1999 itu menyatakan warga Pulau Laut sudah sekitar tujuh hari ini tidak dapat layanan jaringan telekimunikasi, khususnya internet.

“Salah satu dampak listrik sangat sering mati itu kami di Pulau Laut tidak dapat menggunakan internet. Tanda jaringannya ada, tapi kami tidak bisa mengirim ataupun menerima pesan melalui jaringan telekomunikasi,” paparnya.

Kondisi ini juga diakuinya sudah disampaikan kepada PT Telkomsel selaku provider yang melayanai jaringan telekomunikasi di wilayah Pulau Laut.

“Mereka bilang ada alatnya yang rusak di tower akibat listrik yang sering mati mendadak. Jadi kami di pemerintah tidak dapat melakukan transaksi elektonik dan melakukan tugas-tigas yang berkenaan dengen telekomunikasi,” kata Bambang.

Warga Pulau Laut sejak beberapa tahun belakangan ini banyak memggunakan transkasi elektronik untuk menjalankan usaha dan menyelesaikan urusan-urusan lainnya.

Bambang mengatakan sejak adanya android dan masuknya jaringan, warga Pulau Laut banyak yang melakukan transaksi elektronik yang memudahkan warga karena lokasi Pulau Laut jau hari mana-mana.

“Misal, orang tua bisa mengirimkan biaya sekolah anaknya yang bersekolah di luar daerah melalui transaksi elektronik itu. Maka kami bersyukur sekali ada teknologi ini, tapi sayangnya masih sering mengalami gangguan,” ungkapnya.

Dampak lain yang tidak kalah parahnya dari kekacauan kelistrikan ini juga terdapat di sektor ekonomi. Sebagian besar kegiatan masyarakat bergantung pada daya listrik PLN.

Menurutnya sektor perikanan yang paling terdampak baik perikanan tangkap dan industri karena sektor ini sudah sangat bergantung pada listrik.

“Jadi jangankan listrik mati sampai tiga hari, mati dua jam saja sudah banyak sekali kerugian yang dialami masyarakat. Karena kebanyakan kegiatan masyarakat bergantung pada tenaga listrik. Nelayan kalau tidak ada es batu, ikannya jadi busuk dan tidak laku dijual,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengaku kini listrik di Pulau Laut sudah hidup kembali karena proses perbaikan mesinnya sudah selesai dilakukan oleh PLN.

“Tapi listriknya sering mati, bahkan bukan sering lagi tapi sangat sering mati. Jadi jangankan alat rumah tangga tidak rusak, alat telkomsel aja rusak karena seringnya mati listrik,” kata Bambang.

Baca Juga: Pagu Anggaran Pendidikan untuk Natuna Rp22 Miliar di 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Usman

Pos terkait