JAKARTA (gokepri) – PLN menjalankan konsolidasi entitas usaha setelah Presiden Prabowo memerintahkan pemangkasan lapisan BUMN. Program ini menyasar anak dan cucu usaha yang dinilai perlu disederhanakan.
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mulai mengeksekusi program streamlining dengan target memangkas 44 entitas usaha menjadi 23 entitas. Konsolidasi tersebut memasuki tahap eksekusi pada kuartal II dan III 2026.
Program itu resmi diumumkan PLN pada 12 Mei 2026. Perusahaan menyebut perampingan ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan memperkuat fokus pada bisnis inti.
Baca Juga: Rencana Garuda Jadi Holding Maskapai BUMN
“PLN terus menjalankan program streamlining dan konsolidasi entitas usaha,” kata Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto, Selasa, 11 Agustus 2026, dikutip dari Bloomberg Technoz.
Tahap awal konsolidasi menyasar sejumlah entitas dalam kelompok usaha PLN. PLN Electricity Services akan digabung dengan PLN Nusa Daya.
Konsolidasi berikutnya mencakup PLN Indonesia Power Services, PLN Nusantara Power Services, dan PLN Suku Cadang. Setelah itu, PLN menargetkan penggabungan Haleyora Powerindo, Paguntaka Cahaya Nusantara, dan Mitra Karya Prima.
Selain penggabungan, PLN menyiapkan divestasi entitas yang dinilai nonstrategis. Perusahaan juga menyiapkan likuidasi bagi perusahaan yang berstatus dormant.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa program streamlining tidak hanya berbentuk merger antarentitas. PLN juga menata kembali portofolio usaha dengan melepas atau menutup perusahaan yang tidak lagi memiliki peran strategis.
Gregorius mengatakan tahap eksekusi berlangsung pada kuartal II dan III 2026. Target akhirnya adalah mengurangi jumlah entitas dari 44 menjadi 23.
Perampingan PLN berlangsung ketika pemerintah sedang menata ulang struktur BUMN. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengurangan lapisan birokrasi serta anak dan cucu perusahaan pada BUMN besar.
Perintah tersebut mencakup PLN dan PT Pertamina (Persero). Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan perintah itu setelah pertemuan dengan Presiden pada Senin, 10 Agustus 2026.
“Presiden Prabowo juga memerintahkan pengurangan layer-layer dan anak cucu perusahaan,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis.
Sehari sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani juga mengungkapkan arahan serupa. Menurut Rosan, Presiden meminta penyederhanaan struktur pada Pertamina, PLN, dan BUMN besar lainnya.
Pemangkasan lapisan tersebut diarahkan untuk mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, dan menjaga efisiensi perusahaan. Dengan struktur yang lebih pendek, keputusan bisnis diharapkan tidak perlu melewati terlalu banyak jenjang korporasi.
“Arahan beliau juga untuk pengurangan layer-layer terutama di perusahaan-perusahaan BUMN yang besar,” kata Rosan di Istana Negara, Kamis, 6 Agustus 2026.
Penataan PLN menjadi bagian dari agenda yang lebih luas di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Lembaga tersebut telah menutup 274 BUMN hingga akhir Juli 2026.
Penutupan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah merampingkan jumlah dan struktur perusahaan negara. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN tersisa sekitar 350 perusahaan hingga akhir 2026.
Pengurangan entitas di PLN tidak berdiri sendiri. Pemerintah juga mengarahkan penataan struktur pada Pertamina dan BUMN besar lain melalui pemangkasan anak serta cucu perusahaan.
PLN kini memasuki tahap eksekusi konsolidasi 44 entitas menjadi 23. Selain merger sejumlah perusahaan, perseroan akan menyeleksi entitas nonstrategis untuk divestasi serta perusahaan dormant untuk likuidasi. BLOOMBER TECHNOZ
Baca Juga: Prabowo Perintahkan Perampingan Anak-Cucu Perusahaan Pertamina-PLN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









