BATAM (gokepri) – Industri animasi Indonesia mencatat pendapatan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Nilainya melonjak dari sekitar Rp240 miliar pada 2015 menjadi Rp800 miliar pada 2025, ditopang pertumbuhan IP lokal dan meningkatnya kapasitas talenta animator dalam negeri.
Kenaikan pendapatan ini menandai perubahan arah industri animasi nasional. Selama bertahun-tahun studio lokal lebih banyak bergerak sebagai penyedia jasa produksi untuk IP internasional. Kini, sumber pertumbuhan mulai bergeser ke penciptaan karakter, cerita, dan semesta kreatif buatan dalam negeri.
Laporan Indonesia Animation Report 2026 mencatat pendapatan berbasis kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) di sektor animasi pada 2025 naik 280 persen dibanding satu dekade sebelumnya. Pergeseran itu dinilai menjadi sinyal lahirnya ekonomi kreatif berbasis IP.
Baca Juga: Industri Animasi Jadi Motor Ekonomi Kreatif, DPR Dorong Insentif Pajak
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan industri animasi Indonesia bertumbuh lebih dari 3,3 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dengan rata-rata kenaikan sekitar 13 persen per tahun.
“Industri animasi Indonesia berhasil tumbuh dari sekitar Rp240 miliar pada tahun 2015 menjadi Rp800 miliar pada tahun 2025,” kata Riefky saat peluncuran dan konferensi pers Indonesia Animation Report 2026 di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut tidak lagi bertumpu pada model jasa produksi semata. Industri animasi nasional mulai menghasilkan IP orisinal yang memberi nilai tambah lebih besar.
“Fenomena ini menegaskan transformasi industri animasi Indonesia yang tadinya penyedia jasa atau services bagi berbagai IP internasional namun kemudian dapat menciptakan berbagai IP original karya anak bangsa,” ujar Riefky.
Data Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) menunjukkan anggotanya kini memiliki 299 IP karakter lokal. Pemerintah juga menyoroti keberhasilan film animasi Jumbo produksi Visinema yang meraih lebih dari 10 juta penonton bioskop.
“Keberhasilan ini membuktikan secara nyata bahwa kualitas karya animator kita sudah berada di level yang sangat kompetitif dan siap berdaulat secara ekonomi,” kata dia.

Penilaian serupa datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Aulia Hadi mengatakan industri animasi Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi kapasitas teknis maupun kualitas sumber daya manusia.
“Hari ini tentunya menggarisbawahi bahwa saat ini kita memiliki kapasitas teknis, kemudian juga kualitas talenta, dan daya kreasi anak bangsa yang sudah mencapai standar kompetitif global,” kata Aulia.
Menurut dia, lonjakan pendapatan IP pada 2025 menjadi penanda lahirnya fase baru industri kreatif nasional yang bertumpu pada kekayaan intelektual. Indonesia dinilai memiliki peluang besar karena ditopang keragaman cerita, karakter lokal, dan potensi pengembangan semesta kreatif.
“Nah, lebih dari itu, juga tadi lonjakan pendapatan IP yang ada di sektor animasi ini, khususnya pada tahun 2025, ini juga menjadi penanda bahwa lahirnya era baru di ekonomi kreatif yang berbasis kepada kekayaan intelektual,” ujarnya.
Aulia mengatakan laporan Indonesia Animation Report 2026 tidak hanya memotret pertumbuhan industri, tetapi juga memetakan struktur industri, pembiayaan, perubahan model bisnis, hingga dampak kecerdasan buatan atau AI terhadap ekosistem animasi nasional.
Di tengah pertumbuhan itu, persoalan pembiayaan masih membayangi. Pemerintah mencatat sekitar 85 persen studio animasi menghadapi kendala akses modal. Untuk menjawab masalah tersebut, pemerintah menyiapkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis kekayaan intelektual senilai Rp10 triliun pada 2026.
Selain itu, Kementerian Ekraf telah melantik 64 penilai kekayaan intelektual atau IP valuator pertama di Indonesia guna mendukung penilaian aset kreatif. ANTARA
Baca Juga: Jurusan Animasi Menjanjikan Peluang Kerja, Program Andalan Diterapkan SMKN 9 Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








