BATAM (gokepri) – Industri animasi disebut sebagai motor pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Kementerian Ekonomi Kreatif dan Komisi VII DPR RI menilai subsektor ini mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, sekaligus membuka peluang investasi.
Staf Ahli Menteri Bidang Sistem Pemasaran dan Infrastruktur Kemenkraf, Septriana Tangkary, mengatakan animasi, film, dan video termasuk dalam tujuh subsektor prioritas. “Kontribusinya nyata, baik pada nilai ekspor, lapangan kerja, maupun pembangunan infrastruktur,” kata Septriana saat kunjungan kerja ke Infinite Studios di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa Digital Park, Batam, Rabu, 1 Oktober 2025.
Ia menambahkan, melalui ajang seperti Indonesia Film Platform, potensi animasi Indonesia makin terlihat. “Talenta lokal sudah mampu bersaing di pasar global. Kolaborasi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah kuncinya,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi VII DPR, Chusnunia Chalim, menegaskan pentingnya keringanan pajak untuk perfilman Indonesia. Beberapa negara, katanya, sudah memberi insentif berupa potongan pajak dan sistem rabat, sehingga daya saing meningkat. “Indonesia secara teknis lebih murah, tapi tanpa insentif sulit bersaing,” ucapnya.

Sistem rabat atau tax rebate adalah pengurangan pajak berdasarkan nominal yang dibayarkan di tahun yang sama. Chusnunia membuka peluang pembentukan Panitia Kerja (Panja) Ekonomi Kreatif agar rekomendasi ini bisa ditindaklanjuti. “Begitu dua panja yang kami proses selesai, kami akan dorong panja ekonomi kreatif,” katanya.
Septriana menekankan, isu pajak mendesak dibicarakan dengan Kementerian Keuangan. “Banyak pelaku kreatif terbebani pajak. Regulasi perlu segera memberi solusi,” ujarnya.
General Manager Infinite Studios, Ghea Lisanova, juga menyoroti pentingnya insentif fiskal. “Thailand memberi insentif 30 persen, Malaysia 40 persen. Indonesia harus menandingi itu,” katanya.
Ghea menyebut Infinite Studios yang berdiri sejak 2005 kini memiliki lebih dari 300 tenaga kreatif lokal dan melayani klien internasional. Saat ini mereka tengah menggarap proyek orisinil untuk pasar Indonesia.
Selain insentif fiskal, Komisi VII juga menyoroti peran KEK Nongsa Digital Park sebagai pusat edukasi. Septriana berharap kawasan ini bisa menjadi ruang belajar animasi bagi generasi muda. “Film animasi dunia banyak dikerjakan di sini. Anak-anak harus tahu mereka juga bisa berkontribusi,” ujarnya.
Anggota Komisi VII, Rico Mendoza, mendorong sekolah-sekolah mengadakan studi ke kawasan ini. “Batam bisa menjadi pusat edukasi kreatif, semacam ‘Universal Studios’ Indonesia di Sumatera,” kata dia.
Ia menilai posisi Batam strategis, dekat dengan Singapura dan berstatus KEK, sehingga bisa sekaligus menjadi destinasi wisata industri kreatif. ANTARA
Baca Juga: Infinite Studio Batam Terus Garap Film Internasional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









