Melirik Waroeng Sabut KSM, Menata Hidup dengan Mengolah Limbah Sabut

Fauziah, pemilik Waroeng Sabut KSM menunjukkan salah satu produk kerajinan dari limbah sabut. (Ilfitra/gokepri.com)

Pekanbaru (gokepri.com) – Berawal dari banyaknya limbah sabut yang terbuang di kawasan Enok Dalam, Kabupaten Indragiri Hilir, membuat Fauziah berfikir bagaimana memanfaatkan limbah sabut untuk meraup cuan.

“Kampung saya di Enok Dalam, penghasil kelapa. Di sana, sabut kelapa itu dibuang begitu saja,” ujar Fauziah, pemilik Waroeng Sabut KSM di workshop miliknya di Jalan Karya Labersa, Bukit Raya, Pekanbaru.

Fauziah yang awalnya pedagang kelontong mulai mengolah limbah sabut kelapa tersebut menjadi produk yang berguna. Awalnya, dia membuat spoon pencuci piring pada 2016 silam.

HBRL

“Produk kami yang pertama itu adalah spoon pencuci piring,” sebutnya.

Begitu spoon pencuci piring siap dan dititipkan ke warung-warung, ternyata banyak yang beli. Apalagi, spoon miliknya itu lembut dan tidak meninggalkan bekas goresan di piring. Dia makin bersemangat membuat produk lain.

“Waroeng Sabut berdiri pada tahun 2016 dan puncaknya itu pada 2019 ketika pandemi Covid-19,” jelas Fauziah.

Ternyata, pandemi Covid-19 membawa berkah bagi usaha sabut Fauziah. Sebab, saat itu omset penjualannya meningkat tajam.

“Saat Covid itu meningkat rezekinya. Mungkin karena Covid, bapak-bapak dan ibu-ibu banyak di rumah, karena gak ada kegiatan di luar jadinya mereka belanja-belanja,” tutur Fauziah.

Hasil kerajinan dari limbah sabut di workshop Waroeng Sabut KSM Pekanbaru. (Ilfitra/gokepri.com)

Pada awal buka usaha, UMKM Waroeng Sabut mampu memberdayakan 16 orang pekerja. Rata-rata pekerja di Waroeng Sabut adalah ibu rumah tangga khususnya para janda.

“Usaha kami ini kan Kelompok Swadaya Masyarakat, makanya pekerja di sini rata-rata ibu rumah tangga dan kebanyakan berstatus janda,” ungkapnya.

Beragam hasil kerajinan yang telah dibuat dari limbah sabut milik Fauziah, diantaranya bermacam jenis pot dan tonggak bunga, sebab pemasaran itu lebih banyak untuk usaha taman.

Selain itu, saat ini pihaknya juga lebih banyak menerima orderan membuat filter air apalagi Waroeng Sabut sudah bekerjasama dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PT PHR), salah satu BUMN di Riau.

“Kerjasama dengan pihak Pertamina untuk pelambung tanaman ini sudah berjalan selama 1,5 tahun,” katanya.

Bahkan, pemasaran produk kerajinan Waroeng Sabut saat ini selain Riau sekarang sudah merambah hingga ke Sumatera Utara.

“Kalau di Pekanbaru, kami mensuplai untuk kebutuhan 300 taman, mulai pot hingga tonggak bunga. Rata-rata produk kami untuk kebutuhan taman,” ujarnya.

Fauziah pemilik Waroeng Sabut KSM berada di depan workshop miliknya. (Ilfitra/gokepri.com)

Hanya saja, dalam mengembangkan usaha warung sabutnya, Fauziah kadang tersandung masalah modal.

Beruntung usahanya dilirik BRI dengan mendapatkan bantuan pinjaman. Selain kucuran dana, dia juga sering diikutsertakan dalam berbagai pameran kerajinan produk UMKM.

“Alhamdulillah kami dapat bantuan pinjaman dari BRI. Bahkan, kami juga sering diikutkan dalam berbagai pameran untuk mengenalkan produk kami kepada masyarakat,” sebutnya.

Pimpinan BRI Cabang Pekanbaru Lancang Kuning, I Wayan Mestera membenarkan kalau BRI memberikan kepedulian yang tinggi terhadap pelaku-pelaku UMKM, salah satunya usaha warung sabut.

Salah satu bentuk kepedulian BRI kepada UMKM adalah dengan memberikan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa agunan.

“Salah satu program BRI adalah memberikan pinjaman KUR kepada pelaku UMKM, termasuk UMKM warung sabut. Bukan hanya KUR, usaha itu juga kita bina dan perkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai pameran,” kata Wayan.

Pihaknya akan terus memantau perkembangan pelaku UMKM di bawah binaan BRI. Jika usaha itu makin berkembang, maka akan ada lagi pinjaman yang lebih besar dengan bentuk Kupedes BRI.

“Semua tergantung usahanya, kalau usahanya makin maju dan berkembang tentu saja program lain yang disebut Kupedes. Mudah-mudahan saja usaha sabut itu makin terus berkembang,” pungkasnya.

Penulis: Ilfitra

Pos terkait