Pelaku UMKM menghadapi tekanan biaya produksi. Kualitas produk diminta tetap dijaga.
BATAM (gokepri) — Kenaikan harga bahan baku menempatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Batam pada situasi sulit. Di satu sisi biaya produksi terus meningkat, di sisi lain menurunkan kualitas produk berisiko membuat pelanggan beralih ke pesaing.
Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskum) Kota Batam menilai menjaga kualitas menjadi strategi paling penting agar UMKM tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi. Penyesuaian ukuran produk dinilai lebih bijak dibanding mengurangi mutu bahan baku.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Bekali UMKM Tembus Ekspor
Kepala Diskum Kota Batam Salim mengatakan perubahan komposisi bahan dapat mengubah cita rasa yang selama ini menjadi identitas sebuah produk.
“Jangan mengurangi kualitas produknya. Misalnya selama ini memakai lima butir telur, jangan karena harga bahan baku naik kemudian dikurangi menjadi empat,” ujar Salim di Batam, Selasa (14/7).
Menurut dia, pelaku UMKM lebih baik menyesuaikan ukuran atau porsi produk apabila biaya produksi tidak lagi dapat ditekan. Langkah itu dinilai mampu menjaga kepercayaan konsumen sekaligus mempertahankan daya saing usaha.
Konsumen, kata Salim, umumnya membeli kembali sebuah produk karena kualitasnya sudah dikenal. Ketika rasa berubah, pelanggan berpotensi berpindah ke produk lain meskipun harganya tetap.
Tekanan biaya produksi tidak hanya dirasakan pelaku usaha makanan. Produk kerajinan, terutama batik, juga menghadapi persoalan serupa karena bahan bakunya relatif mahal dan sebagian besar proses produksinya masih dikerjakan secara manual.
“Kalau memang harus berhemat, mungkin kemasannya yang disesuaikan, tetapi jangan mengurangi kualitas produknya,” kata Salim.
Ia mengakui Diskum terus menerima keluhan dari pelaku UMKM mengenai kenaikan biaya produksi. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi harga bahan baku dunia dan nilai tukar dollar Amerika Serikat karena sebagian kebutuhan produksi di Batam mengikuti harga internasional.
Di tengah tantangan tersebut, akses pasar produk UMKM Batam terus berkembang. Sebanyak 12 produk UMKM binaan kini telah masuk ke jaringan ritel modern di K-Square, One Batam Mall, dan Uniqlo Batam.
Perluasan pasar itu dinilai menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan penjualan. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila kualitas produk tetap terjaga dan mampu memenuhi standar pasar modern.
Saat ini Diskum membina sekitar 4.000 UMKM. Pemerintah juga menyediakan fasilitas pinjaman modal usaha hingga Rp 20 juta melalui kerja sama dengan Bank BTN dan BRK Syariah.
Sebanyak 22 pelaku UMKM telah memperoleh pembiayaan melalui Bank BTN, sedangkan enam pelaku UMKM telah menyelesaikan akad pembiayaan melalui BRK Syariah. Dukungan permodalan itu diharapkan membantu pelaku usaha bertahan tanpa mengorbankan kualitas produk. ANTARA
Baca Juga: Pengemudi Ojol Akan Berstatus UMKM, Bisa Akses KUR
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









