El Nino Datang, Singapura Optimistis Mitigasi RI Cegah Kabut Asap

Kabut asap
Kabut asap di Karimun, Kepri, Januari 2022. Foto: GOKEPRI/Ilham

SINGAPURA (gokepri) – Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap lintas batas diperkirakan meningkat pada Agustus hingga September 2026 seiring pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole. Namun, Indonesia dan Singapura menilai peluang mencegah krisis seperti tahun-tahun sebelumnya lebih besar karena langkah mitigasi telah dijalankan sebelum musim kering mencapai puncaknya.

Berbagai upaya pencegahan kini dilakukan lebih awal, mulai dari pengelolaan lahan gambut, pengawasan kawasan rawan kebakaran, hingga pertukaran informasi antarlembaga. Pengalaman menghadapi kabut asap pada masa lalu menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi tahun ini.

Pandangan itu disampaikan Menteri Negara Senior Singapura Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungap Hidup, Janil Puthucheary, dalam sesi fireside chat Program 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 14 Juli 2026.

IJVP 2026 Singapura
Senior Minister of State for Sustainability and the Environment Singapura Janil Puthucheary bersama jurnalis Program 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 14 Juli 2026. Foto: IJVP

Baca Juga: Kepercayaan Jadi Kunci Perdagangan Karbon RI-Singapura

Isu kabut asap mengemuka setelah jurnalis Indonesia menyinggung laporan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) yang memperkirakan peluang kabut asap kembali muncul pada Agustus hingga September akibat kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole.

Janil mengakui kondisi cuaca tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Namun, ia menilai kondisi operasional saat ini berbeda dibanding periode ketika kawasan mengalami kabut asap cukup parah.

“Kami memiliki hubungan antarlembaga yang lebih kuat, pengalaman yang lebih banyak, dan platform kerja sama yang lebih baik dibanding sebelumnya,” kata Janil.

Janil mengatakan pemerintah Indonesia telah memulai berbagai langkah pencegahan sebelum dampak penuh El Nino dirasakan.

Ia bertemu Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat serta Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dalam pertemuan di Bali. Salah satu pembahasan utama adalah kesiapan Indonesia menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia memaparkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari pembasahan kembali lahan gambut melalui penyekatan kanal (canal blocking), pengawasan kawasan gambut, hingga upaya menjaga kelembapan lahan untuk menekan potensi kebakaran.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha, meningkatkan pengawasan lapangan, serta memperketat penegakan aturan terhadap pembukaan lahan yang berisiko memicu kebakaran.

Menurut Janil, langkah-langkah tersebut dilakukan sebelum kondisi cuaca mencapai titik paling kering sehingga peluang mengurangi risiko kebakaran menjadi lebih besar.

“Semoga tahun ini tidak mengulang kondisi ketika kawasan mengalami kabut asap yang cukup berat,” ujarnya.

Upaya pencegahan kabut asap juga tidak lagi bergantung pada hubungan Indonesia dan Singapura.

Janil mengatakan pembahasan terbaru dilakukan dalam Sub-Regional Ministerial Steering Committee di Bali yang dihadiri sejumlah negara ASEAN, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Timor-Leste.

Forum tersebut membahas langkah bersama menghadapi pencemaran asap lintas batas yang berpotensi memengaruhi beberapa negara sekaligus.

Menurut Janil, persoalan kabut asap tidak dapat diselesaikan oleh satu negara karena penyebab dan dampaknya melintasi batas wilayah.

Karena itu, pertukaran informasi, koordinasi antarpemerintah, dan penyelarasan langkah mitigasi menjadi bagian penting dari kerja sama kawasan.

Ia menilai komitmen negara-negara ASEAN untuk mengurangi kabut asap kini semakin kuat dibanding beberapa tahun lalu.

Janil mengatakan pengalaman menghadapi kebakaran hutan pada masa lalu menjadi modal penting untuk memperbaiki respons tahun ini.

Hubungan antara lembaga pemerintah, dunia usaha, dan otoritas di kedua negara kini dinilai lebih siap menjalankan langkah pencegahan maupun penanganan apabila titik api mulai muncul.

Peringatan dari ilmuwan maupun lembaga kajian seperti SIIA, kata Janil, tetap harus menjadi perhatian seluruh negara di kawasan.

“Semua peringatan itu harus kita tanggapi dengan serius,” kata Janil.

Ia menambahkan tantangan menghadapi El Nino tidak akan berhenti pada tahun ini. Siklus cuaca serupa akan kembali terjadi pada masa mendatang sehingga kerja sama yang telah dibangun perlu terus diperkuat.

Karena itu, Indonesia dan Singapura tidak hanya berfokus menghadapi musim kering tahun ini, tetapi juga membangun mekanisme kerja sama jangka panjang agar ancaman kabut asap lintas batas dapat ditekan pada tahun-tahun berikutnya.

Baca Juga: Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait