Indonesia–Singapura Matangkan Ekspor Listrik Bersih

Ekspor listrik singapura
Menteri ESDM Republik Indonesia Bahlil Lahadalia melakukan Bilateral Meeting dengan Minister for Manpower and Minister Science sekaligus penanggung jawab energi Singapura Tan See Leng di Tokyo, Jepang pada Minggu (15/3/2026). Foto: Kementerian ESDM

Pertemuan dua menteri di Tokyo membahas ekspor listrik dari PLTS serta pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun.

JAKARTA (gokepri) — Pemerintah Indonesia dan Singapura membahas rencana ekspor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura dalam pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Tenaga Kerja Singapura Tan See Leng di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3).

Menurut Bahlil, kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada perdagangan energi. Pemerintah juga ingin memanfaatkan ketersediaan energi bersih untuk menarik investasi industri berteknologi tinggi di Kepulauan Riau.

HBRL

Baca Juga: 

“Rencana ini bukan sekadar ekspor listrik. Pemerintah juga mendorong masuknya investasi industri berbasis teknologi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun,” kata Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/3).

Ia mengatakan kawasan industri di wilayah tersebut sedang dipersiapkan untuk mendukung pengembangan industri berbasis energi hijau. Menurut Bahlil, proses perencanaan kawasan industri itu hampir selesai.

“Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri. Saat ini saya sedang meng-clear-kan beberapa hal,” ujar Bahlil.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga membahas pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun. Pemerintah Indonesia, menurut Bahlil, tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik domestik sebelum melakukan ekspor.

Selain ekspor listrik, pembahasan juga mencakup peluang kerja sama teknologi rendah karbon, seperti penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS). Teknologi ini digunakan untuk menangkap emisi karbon dari kegiatan industri sebelum dilepaskan ke atmosfer.

“Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan. Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi,” kata Bahlil.

Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Singapura Tan See Leng mengatakan pembahasan teknis terkait kerja sama energi antara kedua negara menunjukkan kemajuan.

“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng.

Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia menawarkan ekspor listrik yang berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Rencana ini sejalan dengan program pengembangan kelistrikan nasional yang menargetkan kapasitas tambahan hingga 100 gigawatt.

Menurut Bahlil, sebagian listrik tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara sisanya dapat diekspor ke negara tetangga, termasuk Singapura.

Namun, ia mengakui terdapat tantangan dalam pengembangan energi hijau, terutama terkait harga yang lebih tinggi dibandingkan energi berbasis fosil.

Pemerintah Indonesia dan Singapura berharap kerja sama ini dapat memperkuat kolaborasi energi di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara juga membuka peluang implementasi proyek percontohan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun.

Proyek percontohan tersebut diharapkan dapat menjadi tindak lanjut dari tiga nota kesepahaman yang sebelumnya telah ditandatangani kedua negara. ANTARA

Baca Juga: Indonesia Ekspor Listrik ke Singapura hingga 2035

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait