JAKARTA (gokepri) – Program Magang Nasional dibanjiri 300 ribu pendaftar untuk 50 ribu kursi tahap pertama. Persaingan tinggi mendorong pemerintah mengatur strategi agar peluang kerja lebih merata.
Pendaftaran Magang Nasional 2026 Tahap I resmi ditutup pada 28 Juli dengan angka yang menunjukkan besarnya kebutuhan lulusan terhadap akses masuk dunia kerja. Dari 300 ribu pendaftar, hanya 50 ribu peserta yang akan lolos pada gelombang pertama.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan tingginya minat tersebut mencerminkan antusiasme lulusan perguruan tinggi terhadap program yang dirancang untuk memperkuat kompetensi sekaligus membuka jalan menuju industri.
Baca Juga: 13 dari 44 Peserta Magang Hub di Batam Direkrut Jadi Pekerja Tetap
“Posisi 50 ribu, yang daftar sudah 300 ribu. Ini luar biasa,” kata Yassierli di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.
Program itu merupakan tahap pertama dari target 150 ribu peserta sepanjang 2026. Pemerintah membaginya ke dalam tiga gelombang, masing-masing berkapasitas 50 ribu peserta.
Karena itu, peserta yang belum lolos pada tahap pertama masih memiliki kesempatan mengikuti seleksi tahap kedua dan ketiga.
“Bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan magang di batch 1, kita dorong mereka untuk ikut di batch 2 dan batch 3,” ujar Yassierli.
Tingginya persaingan membuat Kementerian Ketenagakerjaan meminta peserta lebih cermat menentukan lokasi magang. Informasi jumlah pelamar di setiap perusahaan dapat menjadi pertimbangan sebelum memilih tempat magang.
Menurut Yassierli, peluang diterima umumnya lebih besar jika peserta memilih perusahaan atau daerah yang tingkat persaingannya tidak terlalu tinggi.
Selain memperbesar peluang lolos, strategi tersebut juga diharapkan menciptakan pemerataan peserta sehingga manfaat program tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta, tetapi menjangkau berbagai daerah sesuai kebutuhan industri.
Pemerintah memosisikan Program Magang Nasional sebagai salah satu cara mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia usaha.
Yassierli mengatakan pengembangan tenaga kerja menjadi salah satu fokus pemerintah pada 2026 agar lulusan lebih siap memasuki industri.
“Pak Presiden punya fokus untuk mempersiapkan tenaga kerja masuk kepada dunia industri,” kata dia.
Kuota program tahun ini meningkat menjadi 150 ribu peserta dari 100 ribu peserta pada tahun sebelumnya. Seluruh peserta menjalani magang selama enam bulan dengan uang saku yang mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota sesuai lokasi penempatan.
Sebagai gambaran, peserta di Jakarta menerima uang saku sekitar Rp5,7 juta per bulan, sedangkan di Bekasi dan Karawang sekitar Rp5,9 juta. Peserta juga memperoleh perlindungan BPJS Ketenagakerjaan yang mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan sekitar 30 persen dari 100 ribu peserta program tahun lalu memperoleh tawaran bekerja di perusahaan tempat mereka magang sebelum masa program berakhir.
Tingginya angka penyerapan itu turut menarik minat perusahaan. Menurut Yassierli, kini ratusan hingga ribuan perusahaan mengajukan permintaan kuota peserta magang kepada pemerintah.
Namun, Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan setiap posisi magang tetap melalui proses verifikasi agar sesuai dengan kompetensi peserta dan tidak dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah.
“Kami tidak mau lulusan S1 teknik disuruh magang jadi resepsionis,” kata Yassierli.
Setelah pendaftaran ditutup pada 28 Juli, proses seleksi berlangsung hingga 5 Agustus 2026. Penetapan peserta dijadwalkan pada 6 Agustus, pengumuman hasil seleksi pada 7 Agustus, pelaksanaan magang dimulai 10 Agustus, dan peluncuran resmi Magang Nasional Tahap I berlangsung pada 11 Agustus 2026. ANTARA
Baca Juga: Kuota 80.000! Magang Bergaji UMK Dibuka 6 November
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








