Batam (gokepri.com) – Sejumlah titik yang tergenang air di sejumlah wilayah Provinsi Kepri lepas magrib telah surut seiring hujan reda meski menurun ramalan BMKG masih terjadi hujan ringan. Di Batam, pemda setempat menjanjikan pengerukan saluran-saluran dan pembangunan drainase guna mencegah banjir.
Berdasarkan laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, perkiraan intensitas hujan di wilayah Batam mereda tapi dengan intensitas hujan ringan mulai pukul 19.00 hingga 22.00.
Tapi di Batam, hujan sudah reda lepas petang setelah hujan seharian penuh dari Jumat. Warga pun kembali beraktivitas, seperti yang tampak di Sekupang. Mesin ATM penuh dengan antrean, warung makan ramai dengan pembeli.
Meski begitu, di jalur Southlink masih terjadi kemacetan karena ada genangan air.
“Akhirnya berhenti juga, bisa malam mingguan dekat-dekat rumah. Dari kemarin hujan enggak berhenti-berhenti,” ujar Egi Sari, warga Sekupang.
Tak cuma di Batam, hujan juga mulai reda di Tanjungpinang lepas magrib dan genangan banjir berangsur surut.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di ibu kota Provinsi Kepri itu juga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, seperti Lembah Purnama, Perumahan Sri Andana, Jalan Hanjoyo Putro, Jalan Hang Lekir, Perum Elang Semesta, Bangunsari, Gang Perkutut, Green Camp Jalan Lembah Merpati, Taman Seraya, sekitar kantor KPU Tanjungpinang hingga Perumahan Hangtuah Permai.
Berdasarkan data Basarnas Tanjungpinang, setidaknya 155 warga dievakusi dari rumah mereka ke tempat pengungsian karena terdampak banjir setinggi lutut hingga dada orang dewasa tersebut.
“Warga bahu-membahu membersihkan rumah dari timbunan longsor,” ujar Said Chandra, warga di Perumahan Alam Tirta Lestari, Tanjungpinang, kepada Antara.
Sementar abanjir di sejumlah kawasan di Bintan mulai surut seiring dengan hujan yang mulai mereda. Jalan Raya Tanjunguban di KM 14, depan Perumahan Permata Galaxi contohnya, sudah dapat dilalui.
Di jalan lainnya, seperti Jalan Aisyah Sulaiman arah Dompak juga dapat dilalui kendaraan.
Akses jalan KM 12, dekat Hotel Aston masih ditutup hingga sore. Petugas BPBD Kepri, BPBD Tanjungpinang, pihak kepolisian, TNI dan warga masih berupaya menyingkirkan air yang menggenangi jalan.
Namun akses jalan KM 18 menuju Kijang, Bintan masih terendam air. Ratusan kendaraan terpaksa putar balik menghindari banjir.
Lagi-Lagi Drainase
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau Rudy Chua menduga sistem drainase yang buruk menjadi salah satu penyebab banjir di Kota Tanjungpinang.
“Drainase dari dahulu sampai sekarang menjadi permasalahan yang belum terselesaikan, ditambah lagi kebiasaan buruk membuang sampah tidak pada tempatnya,” ujar Rudy di sela meninjau sejumlah lokasi banjir di Tanjungpinang, Sabtu.
Rudy mengatakan drainase yang dibangun pemerintah daerah di kawasan perkotaan berukuran kecil dan terbatas. Sistem pembuangan air pun di sejumlah kawasan juga tidak jelas, sehingga menyebabkan air meluap hingga ke jalan raya.
Kondisi itu diperburuk dengan sampah-sampah yang menyumbat drainase.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, menyatakan akan melebarkan drainase di dua jalan utama yang banjir.
“Setelah kami cek, drainasenya tidak mampu menampung volume air,” kata Rudi saat meninjau lokasi banjir di Simpang Baloi, Lubukbaja.
Pria yang juga menjabat Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Batam itu mengakui beberapa ruas jalan selalu menjadi lokasi genangan air saat hujan, antara lain di depan Gogo Bengkong, Simpang Bandara, Bida Asri 2, dan Simpang Kabil.
Menurut dia, drainase di sepanjang jalan itu memang tidak mampu menampung luapan air saat hujan.
Ia menyampaikan, saat ini lebar drainase hanya sekitar satu hingga dua meter. Maka rencananya akan dilebarkan hingga tujuh sampai delapan meter agar mampu menampung volume air.
Rudi optimistis, apabila drainase dilebarkan, maka air tidak akan meluap ke jalan lagi.
Rencananya, pembongkaran drainase akan dimulai tahun ini juga.
Sedangkan untuk langkah sementara, ia menginstruksikan pihak kecamatan setempat, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Satpol PP dan Ditpam bersama-sama masyarakat membersihkan drainase agar tidak menyumbat jalan air.
“Besok harus mulai bekerja bersama masyarakat juga yang berada di lingkungan masing-masing,” kata dia.
Rudi mengakui lokasi banjir di Batam bertambah, akibat pembukaan lahan baru dan drainase yang kecil.
Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan pemerintah akan mengupayakan untuk mengantisipasi banjir di kemudian hari dengan mengeruk sungai yang semakin dalam dan sempit.
“Besok kita datangkan alat berat mengeruk sungai yang ada agar tidak meluap lagi,” kata dia.
Ia menyatakan, sebenarnya pemerintah sudah tiga kali melaakukan normalisasi sungai. Namun, karena masih ada lokasi yang tidak memiliki jalur air menuju sungai, maka terjadi banjir.
“Kita coba bikin saluran pintas agar air bisa mengalir ke sungai,” kata dia.
Seorang korban banjir, Boru Sibarani, menyatakan senang dengan perhatian pemerintah. Ia berharap pemerintah memberikan solusi agar musibah banjir tidak terjadi lagi.
“Kami mohon supaya ada jalan keluar bagi kampung kami agar tidak lagi banjir,” katanya.
(can/ard/ant)
|Baca Juga: Kepri dalam Kepungan Banjir: Musim Kemarau Air Kering, Musim Hujan Banjir Datang








