Pengiriman ikan Batam sepenuhnya bergantung pada pasar Singapura. Bantuan alat tangkap diharapkan menjaga produktivitas nelayan.
BATAM (gokepri) – Ekspor perikanan Batam ke Singapura mencapai 3.678 ton hingga Mei 2026, tetapi nilainya baru Rp125 miliar dari target Rp280 miliar. Capaian volume sudah 53 persen, sehingga pemerintah mengandalkan produktivitas nelayan untuk mengejar target tahunan.
Ekspor perikanan Batam menghadapi tantangan berbeda antara volume dan nilai. Hingga Mei 2026, pengiriman mencapai 3.678 ton atau sekitar 53 persen dari target 7.000 ton. Namun, nilai ekspor baru Rp125 miliar atau sekitar 45 persen dari target Rp280 miliar. Seluruh komoditas tersebut dikirim ke Singapura.
Baca Juga: Ekspor Ikan Natuna Kian Menggeliat
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admajianto mengatakan pemerintah masih mempertahankan target ekspor 2026 sebesar 7.000 ton dengan nilai sekitar Rp280 miliar. “Data yang kami terima sampai Mei sudah mencapai 3.678 ton dengan nilai ekspor Rp125 miliar,” ujar dia.
Data tersebut berasal dari catatan Badan Karantina Indonesia. Pengiriman berlangsung melalui sejumlah pelabuhan, antara lain Belakang Padang, Tanjung Riau, dan Sagulung.
Ketergantungan pada satu negara tujuan membuat kinerja ekspor perikanan Batam sangat terkait dengan permintaan dan kondisi pasar Singapura. Karena itu, peningkatan produksi menjadi salah satu tumpuan pemerintah mengejar target.
Komoditas yang dikirim mencakup berbagai hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi. Di antaranya kerapu, kakap, tenggiri, kaci, dingkis, udang vaname, sotong, kepiting atau rajungan, serta lobster.
Sebagian besar komoditas tersebut berasal dari tangkapan nelayan tradisional di perairan sekitar Batam. Wilayah sumber tangkapan antara lain Belakangpadang, Bulang, dan Galang.
Karakter perairan turut menentukan jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan Batam. Wilayah ini didominasi laut dangkal dan kawasan terumbu karang. “Perairan Batam umumnya laut dangkal dan perairan karang,” kata Yudi.
Kondisi tersebut mendukung tangkapan ikan karang seperti kakap, kerapu, kaci, dan dingkis. Komoditas itu kemudian masuk dalam rantai pasok ekspor Batam menuju Singapura.
Pemerintah Kota Batam melihat peningkatan produksi sebagai salah satu cara menjaga laju ekspor sepanjang tahun. Dukungan kepada nelayan menjadi bagian dari strategi tersebut.
Dinas Perikanan memberikan bantuan alat tangkap dan mesin kapal kepada nelayan. Bantuan itu diharapkan meningkatkan produktivitas sehingga volume tangkapan dapat menopang target ekspor 2026.
Yudi optimistis target tahunan masih dapat dicapai karena realisasi volume hingga Mei telah melampaui separuh sasaran. “Kami optimistis akhir tahun tercapai,” ujar dia.
Namun, pencapaian target tetap bergantung pada kondisi cuaca dan operasional. Dua faktor tersebut dapat mempengaruhi aktivitas penangkapan serta kelancaran pengiriman komoditas.
Target 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi ekspor perikanan Batam pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, ekspor mencapai 6.406 ton dengan nilai Rp263 miliar.
Capaian itu melampaui target nilai ekspor 2025 sebesar Rp250 miliar. Pemerintah kemudian menaikkan sasaran 2026 dengan mempertimbangkan dukungan peralatan bagi nelayan.
“Tahun lalu volume dan nilai ekspor melampaui target,” ujar Yudi.
Hingga Mei, volume ekspor 2026 sudah mencapai lebih dari separuh target tahunan. Nilainya, meski baru 45 persen dari sasaran, masih harus dikejar melalui peningkatan produksi dan kelancaran operasional hingga akhir tahun. ANTARA
Baca Juga: Batam Targetkan Ekspor Ikan 6.500 Ton ke Singapura pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









