Pemko Batam menempatkan produk lokal di pintu masuk wisatawan. Galeri menjadi kanal baru pemasaran UMKM.
BATAM (gokepri) – Pemerintah Kota Batam menempatkan 550 produk dari 27 UMKM di Terminal Feri Internasional Sekupang. Ruang transit wisatawan itu diarahkan menjadi akses pasar baru bagi produk lokal.
Pemilihan terminal sebagai lokasi Pojok UMKM D’KUMI Galeri berkaitan dengan arus wisatawan mancanegara yang melewati pintu gerbang utama Batam tersebut. Wisatawan dari Singapura dan Malaysia menjadi sasaran utama promosi produk lokal.
Baca Juga: Mengapa Ojek Daring Menolak Status sebagai Pelaku UMKM?
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan galeri itu memberi ruang bagi UMKM bertemu langsung dengan calon pembeli. Produk yang ditampilkan diharapkan menjadi pilihan oleh-oleh bagi wisatawan sebelum meninggalkan Batam.
“Kami ingin setiap wisatawan membawa oleh-oleh khas Batam yang berkualitas tinggi,” kata Amsakar, Rabu, 19 Agustus 2026.
Dari pendekatan tersebut, terminal tidak hanya berfungsi sebagai tempat kedatangan dan keberangkatan penumpang. Pemerintah mencoba memanfaatkan arus manusia di kawasan itu sebagai saluran pemasaran produk UMKM.
Pada tahap awal, D’KUMI Galeri menampilkan sekitar 550 jenis produk dari 27 pelaku UMKM Batam. Produk tersebut mencakup kuliner, olahan makanan dan minuman, kerajinan tangan, fesyen, serta produk kreatif lainnya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam Salim mengatakan galeri tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal. Pemerintah juga menargetkan pemasaran produk menembus pasar nasional dan internasional.
“Inisiatif ini diambil sebagai langkah strategis untuk memperluas akses pasar,” ujar Salim.
Produk yang dipajang antara lain kerajinan, fesyen seperti kain tenun dan pakaian jadi, serta makanan ringan khas Batam. Komposisi tersebut menunjukkan galeri menyasar kebutuhan wisatawan yang mencari produk praktis untuk dibawa pulang.
Namun, akses pasar tidak berhenti pada penyediaan ruang pajang. Pemko Batam menyatakan pendampingan akan mencakup mutu produk, pengemasan, legalitas, hingga kemudahan perizinan.
Pendampingan itu penting karena penempatan produk di titik kedatangan wisatawan tidak otomatis membuat produk mampu bersaing. Kualitas, kemasan, kepastian legalitas, dan konsistensi pasokan menjadi bagian dari kesiapan UMKM memasuki pasar yang lebih luas.
Karena itu, Pemko Batam berencana menerapkan kurasi dan pembinaan secara berkelanjutan. Pemerintah juga menyiapkan perluasan jaringan Pojok UMKM ke sejumlah lokasi dengan arus pengunjung tinggi.
Selain Terminal Feri Internasional Sekupang, Pojok UMKM sedang dikembangkan di Gedung DPRD Kota Batam. Lokasi itu menyasar tamu kedinasan dan peserta kunjungan kerja dari berbagai daerah di Indonesia.
Jaringan tersebut kemudian diarahkan berkembang ke bandara dan fasilitas publik lainnya. Dengan pola itu, pemerintah mencoba membangun lebih dari satu titik pemasaran bagi produk UMKM Batam.
Dari sisi ekonomi daerah, strategi tersebut mempertemukan dua aset yang sudah tersedia: arus wisatawan dan produk UMKM. Tantangannya adalah mengubah pertemuan itu menjadi transaksi dan pasar berulang bagi pelaku usaha.
Galeri di terminal menjadi tahap awal untuk menguji strategi tersebut. Keberlanjutannya akan bergantung pada kualitas produk yang lolos kurasi, kemampuan pembinaan, serta seberapa efektif titik-titik itu menghasilkan akses pasar bagi UMKM.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah produk yang terpajang. Ukuran yang lebih penting adalah bertambahnya pembeli, jaringan distribusi, dan pasar baru yang dapat dipertahankan pelaku UMKM setelah wisatawan meninggalkan Batam.
Baca Juga: Gaji Ditanggung Pemerintah, UMKM Diminta Serap Peserta MagangHub
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









