Cegah Jerat Calo Pekerja Migran, BP3MI Gandeng Mubaligh

Kepala BP3MI Kepri Imam Riyadi dalam edukasi migrasi aman bagi calon pekerja migran Indonesia.
Proses pemulangan 89 Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah dari KJRI Johor Bahru di Pelabuhan Internasional Batam Center di Batam, Kepri, Jumat (7/8/2026). Foto: BP3MI Kepri

TANJUNGPINANG (gokepri) – BP3MI Kepulauan Riau menggandeng tokoh agama untuk mencegah migrasi nonprosedural melalui khutbah Jumat dan kajian keagamaan. Rumah ibadah dinilai efektif menyampaikan risiko calo kepada calon pekerja migran.

Kerja sama itu dijalin BP3MI Kepri dengan Forum Komunikasi Mubaligh Kota Tanjungpinang. Edukasi diarahkan pada masyarakat yang berencana bekerja ke luar negeri.

Kepala BP3MI Kepri Kombes Polisi Imam Riyadi mengatakan rumah ibadah dan tokoh agama memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran tentang migrasi aman.

Baca Juga: Tembus 2.500 Orang, Penempatan Pekerja Migran asal Kepri Terus Bertambah 

Melalui khutbah dan kajian rutin, informasi mengenai prosedur penempatan pekerja migran dapat disampaikan dalam bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat.

BP3MI Kepri akan memasok data serta perkembangan terbaru mengenai penanganan warga negara Indonesia dan pekerja migran Indonesia. Data itu menjadi bahan penyusunan materi khutbah.

Menurut Imam, informasi lapangan diperlukan agar masyarakat memahami risiko migrasi nonprosedural sekaligus mengetahui bentuk perlindungan yang tersedia dari pemerintah.

“Kami ingin masyarakat semakin memahami hak-haknya dan tidak mudah terpengaruh bujuk rayu calo,” kata Imam di Tanjungpinang, Ahad, 16 Agustus 2026.

Risiko itu menjadi perhatian karena calon pekerja migran kerap berhadapan dengan tawaran pekerjaan melalui jalur informal. Informasi mengenai hak, prosedur, dan negara tujuan menjadi penting sebelum keberangkatan.

Catatan BP3MI Kepri menunjukkan 2.948 PMI memperoleh layanan penempatan secara prosedural sepanjang Januari hingga 12 Agustus 2026.

Sebanyak 1.862 orang di antaranya merupakan warga Kepulauan Riau. Adapun 1.086 lainnya berasal dari daerah lain yang mendapat layanan penempatan melalui BP3MI Kepri.

Data tersebut juga memperlihatkan jenis pekerjaan yang paling banyak ditempati. Juru mudi atau able seaman menempati urutan pertama dengan 411 pekerja.

Berikutnya ialah juru las atau welder sebanyak 365 orang, nakhoda atau captain/master 153 orang, pekerja pertanian 152 orang, serta mualim I atau chief officer 142 orang.

Dari sisi negara tujuan, Singapura menjadi tujuan terbesar dengan 1.357 PMI. Malaysia berada di urutan berikutnya dengan 839 pekerja.

Uni Emirat Arab menerima 132 PMI, Taiwan 124 orang, dan Serbia 95 orang.

Angka tersebut sekaligus menunjukkan besarnya arus pekerja yang membutuhkan informasi penempatan resmi. Bagi BP3MI, jalur prosedural menjadi salah satu cara mengurangi kerentanan pekerja sejak sebelum berangkat.

Karena itu, keterlibatan mubalig tidak berhenti pada penyampaian imbauan. BP3MI ingin informasi mengenai hak pekerja, prosedur penempatan, dan risiko migrasi ilegal masuk ke ruang komunikasi yang rutin ditemui masyarakat.

Imam berharap keterlibatan tokoh agama memperkuat kesadaran calon pekerja migran untuk memilih perusahaan dan jalur penempatan yang sesuai ketentuan. ANTARA

Baca Juga: Singapura Masih Magnet Utama Pekerja Migran dari Kepri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait