Bagaimana Menteri Dody Membenahi Sistem Pengendalian Banjir Tanjungpinang?

Waduk Srikaton dan aliran Sungai Terusan menjadi bagian dari penanganan pengendalian banjir di Kota Tanjungpinang.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mendorong penanganan pengendalian banjir di Kota Tanjungpinang dilakukan secara menyeluruh. Foto:Kementerian PU

TANJUNGPINANg (gokepri) – Pengendalian banjir Tanjungpinang tak cukup hanya mengandalkan Waduk Srikaton karena hambatan aliran juga perlu ditangani hingga muara. Pemerintah kini memetakan kondisi Sungai Terusan dengan drone untuk menentukan titik yang perlu dibenahi.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meminta penanganan banjir melihat seluruh sistem aliran air, mulai dari sungai di bagian hulu hingga hilir dan muara.

Menurut Dody, kondisi di bagian hilir dapat memengaruhi kemampuan sungai mengalirkan air ketika hujan deras. Karena itu, sempadan sungai perlu dijaga dari bangunan liar dan saluran harus diperiksa untuk menemukan sedimentasi berat maupun penyempitan aliran atau bottleneck.

Baca Juga: 29 Titik Banjir Ditangani, Li Claudia Pastikan Infrastruktur Terus Dibenahi

“Saluran dari hilir sampai muara perlu dicek untuk memastikan tidak ada sedimentasi parah ataupun bottleneck yang menyebabkan banjir,” kata Dody, Senin (31/8).

Pendekatan tersebut melengkapi fungsi Waduk Srikaton sebagai salah satu infrastruktur pengendali banjir di Tanjungpinang. Waduk itu memiliki luas lahan 2,93 hektare dengan kapasitas tampungan 80.588 meter kubik.

Saat hujan lebat, Waduk Srikaton mampu menampung hingga 51.588 meter kubik volume air atau debit banjir puncak yang masuk ke kolam. Infrastruktur tersebut juga disebut mampu mereduksi banjir sebesar 1,79 persen dari luas daerah aliran sungai (DAS).

Namun, keberadaan waduk tidak menghilangkan persoalan pada jaringan sungai. Salah satu titik yang menjadi perhatian pemerintah adalah Sungai Terusan.

Dody mengarahkan revitalisasi Sungai Terusan agar fungsi alirannya kembali optimal. Kanal tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk mendukung aktivitas masyarakat, terutama nelayan.

Untuk mengetahui kondisi Sungai Terusan secara menyeluruh, Dody menginstruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV Batam memantau jalur aliran sungai menggunakan drone.

Pemetaan dari udara diharapkan memperlihatkan kondisi aliran secara utuh, termasuk titik penyempitan, hambatan, dan kondisi saluran yang sulit terlihat dari darat. Hasilnya akan menjadi dasar untuk menentukan penanganan sesuai kondisi lapangan.

Saat ini, Sungai Terusan mengalami penyempitan yang antara lain dipengaruhi pertumbuhan tanaman bakau. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan dalam upaya mengembalikan fungsi kanal.

Dengan pemetaan tersebut, pemerintah tidak hanya melihat banjir sebagai persoalan kapasitas tampungan air. Kondisi sungai, sempadan, saluran, hilir, dan muara juga menjadi bagian dari sistem yang harus bekerja bersama agar aliran air tidak tersumbat ketika hujan deras. ANTARA

Baca Juga: Mengapa Penanganan Banjir Batam Tak Bisa Instan?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait