Kepri Berjuang Menarik Wisman di Tengah Persaingan Regional

Bintan Triathlon 2024
Silhoutte Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau dengan latar belakang logo Bintan Triathlon 2024. Foto: Kemenparekraf

Batam (gokepri) – Di tengah berbagai tantangan dan persaingan yang dihadapi industri pariwisata, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus berupaya untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Upaya-upaya tersebut antara lain bernegosiasi dengan operator feri untuk menurunkan harga tiket Singapura-Batam dan mendorong penerapan visa kunjungan 7 hari.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri mengalami penurunan signifikan pada periode Januari-April 2024. Dibandingkan dengan Maret 2024 yang mencapai 144.768 kunjungan, total wisman yang datang pada periode tersebut hanya 102.894, turun sebesar 24 persen.

Baca Juga:

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Guntur Sakti, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kunjungan wisman ini. Salah satu faktor utama adalah kenaikan harga tiket kapal feri yang melayani rute Kepri-Singapura dan sebaliknya.

“Salah satu faktornya harga tiket kapal feri yang mahal tujuan Batam-Singapura-Batam-Malaysia,” ujar Guntur pada Selasa (4/6/2024).

Menyadari dampak kenaikan harga tiket feri terhadap sektor pariwisata, Pemprov Kepri aktif melakukan upaya untuk menekan harga. Guntur menjelaskan masalah harga tiket feri ini telah dibahas dengan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) dan operator feri.

“Pemprov sudah berupaya agar harga tiket kapal bisa ditekan. Tapi ini kan kesepakatan dari operator kapal,” jelas Guntur.

visa 7 hari
Wisatawan mancanegara di area Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, 17 Desember 2023. ANTARA/Teguh Prihatna

Baca Juga:

Ia berharap agar permasalahan harga tiket ini dapat segera diselesaikan, mengingat hal tersebut menjadi salah satu faktor penghambat pemulihan sektor pariwisata di Kepri. “Pemprov belum bisa intervensi. Intinya kenaikan harga tiket menjadi pemicu ekonomi pariwisata kita tidak kondusif, karena di mata turis itu ada komponen itu yang tidak terjangkau (harga),” imbuhnya.

Selain upaya menekan harga tiket feri, Pemprov Kepri juga mendorong penerapan visa kunjungan 7 hari (VoA) untuk menarik lebih banyak wisman. Guntur mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk mempercepat penetapan tarif VoA 7 hari.

“Kami sudah berikhtiar dengan melayangkan surat ke pada pemerintah pusat meminta visa 7 hari. Agar PNBP-nya disiapkan. Ternyata sampai hari ini belum ada hasil,” kata Guntur.

Guntur menjelaskan VoA 7 hari dengan harga 10 Dollar AS (sekitar Rp150.000) dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik Kepri bagi wisatawan. “Kita baru dapat bebas visa untuk 10 negara ASEAN. 97 negara masih masuk ke Kepri dengan membayangkan VoA sebesar Rp500 ribu,” ujarnya. “Kompetisi di negara ASEAN makin sengit untuk mencari cuan dari turis. Kita masih terkendala dengan regulasi visa,” tambahnya.

Selain harga tiket feri dan regulasi visa, Guntur juga menyebut faktor lain yang menyebabkan penurunan kunjungan wisman, yaitu kebijakan resiprokalitas atau pertukaran bebas visa yang dilakukan oleh negara-negara tetangga seperti Singapura dan Tiongkok.

“Singapura memberikan bebas visa begitu juga Tiongkok ini menjadi salah satu faktornya juga,” kata Guntur. Kebijakan resiprokalitas tersebut membuat wisatawan dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pasar utama wisman di Kepri, lebih memilih untuk berkunjung ke negara-negara lain yang menawarkan bebas visa.

“Jadi satu hari sebelum Imlek itu Singapura mendeklarasikan resiprokal dengan Tiongkok. Artinya terbuka industri baru dalam perjalanan pariwisata antar dua negara. Singapura dan Tiongkok memberikan bebas visa. Jadi ini juga menjadi salah satu faktor,” jelas Guntur.

Guntur menambahkan kedua negara tersebut juga mengadakan event berskala internasional dengan mendatangkan penyanyi terkenal seperti Taylor Swift dan Bruno Mars, sehingga semakin menarik minat wisatawan Singapura untuk berkunjung ke sana.

“Mereka menciptakan daya tarik baru bahkan tidak menyedot daya tarik warga Singapura tapi warga ASEAN lainnya,” ujarnya.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemprov Kepri untuk menarik lebih banyak wisman menunjukkan komitmen pemda untuk memulihkan sektor pariwisata di Kepri. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, optimisme tetap ada dalam upaya mereka untuk menjadikan Kepri sebagai destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara.

Keluhan Turis Singapura

Wisatawan Singapura yang sering mengunjungi Batam untuk berlibur dan berbelanja terbebani dengan kenaikan harga tiket feri yang hampir dua kali lipat. Berdampak negatif pada sektor pariwisata Batam.

Zheng Huang, seorang manajer asal Singapura, terkejut mendapati harga tiket feri pulang-pergi ke Batam, Indonesia, melonjak drastis hingga lebih dari SGD70 (Rp1.050.000) selama dua tahun terakhir.

Pria berusia 53 tahun itu, yang dulunya rutin mengunjungi Batam setiap akhir pekan untuk bersantap dan berbelanja, kini mengurangi kunjungannya menjadi hanya sekali atau dua kali dalam sebulan.

“Itulah satu-satunya jalan keluar sekarang… (Jadi) ketika Anda berada di sana, sebaiknya manfaatkan waktu Anda sebaik-baiknya,” keluhnya, dikutip The Straits Times, 1 Juni.

Kekecewaan serupa dirasakan teman-temannya. “Ini di luar kendali kami. Kami seperti disandera,” ujarnya.

Senada dengan Zheng, warga Singapura lainnya yang kerap melancong selama satu jam tersebut dibuat bingung oleh kenaikan harga yang tajam. Harga ini diterapkan secara seragam oleh banyak operator feri. Harga naik setelah Batam dibuka kembali untuk wisatawan internasional pada Januari 2022 seiring meredanya pandemi Covid-19.

Kini, masalah di balik kenaikan harga tersebut mungkin akan segera terpecahkan setelah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkapkan tengah menyelidiki potensi kartel atau praktik oligopoli dalam penetapan harga di antara operator feri yang melayani rute tersebut.

Penyelidikan dimulai pada tahun 2022 setelah adanya keluhan dari penumpang, dan media setempat melaporkan tentang investigasi tersebut pada 29 Mei.

Pada 29 Mei, KPPU mengungkapkan operator mengenakan biaya antara Rp800.000 (S$67) hingga Rp900.000 rupiah untuk tiket pulang-pergi dari Januari hingga Juni 2022, lebih dari dua kali lipat dari harga normal yang berada di kisaran Rp270.000 hingga Rp450.000.

Berdasarkan situs web operator feri, harga tiket pulang-pergi dari HarbourFront Centre Singapura ke Terminal Feri Internasional Batam Centre, Indonesia, tercatat sebesar $34 hingga $60 pada tahun 2021 dan $56 hingga $76 pada tahun 2024.

Ridho Pamungkas, Kepala Kantor Wilayah KPPU Sumatera Bagian Utara, mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki empat operator atas dugaan praktik kartel. Perusahaan induk mereka yang berbasis di Singapura belum dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Harga saat ini terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Tampaknya para pelaku usaha telah sepakat untuk mematok harga pada level tinggi yang serupa, sehingga tidak ada persaingan di antara mereka,” kata Ridho.

Lebih lanjut, Ridho mencatat harga tiket feri antara Batam dan Johor Bahru justru lebih rendah padahal waktu tempuhnya lebih lama, yaitu dua jam. Hal ini menunjukkan bahwa tarif feri Batam-Singapura berada pada kondisi yang tidak sehat.

Selama penyelidikan yang berlangsung selama dua tahun terakhir, KPPU menghadapi banyak hambatan, seperti dalam hal memperoleh informasi mengenai biaya operasional operator feri.

“Manajemen operator feri tidak kooperatif dalam memberikan data, sehingga menyulitkan pengumpulan bukti,” kata Ridho. Ia menambahkan bahwa keberadaan perusahaan induk di Singapura – yang berada di luar wilayah hukum Indonesia – semakin mempersulit masalah ini.

Kantor pusat KPPU di Jakarta mengadakan forum grup diskusi dengan Kementerian Perhubungan, BP Batam, dan pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Riau pada 28 Mei untuk membahas tingginya harga tiket feri dan dugaan kartel.

Rencananya, pertemuan lanjutan akan diadakan di Batam pada 11 Juni, kali ini dengan dihadiri oleh operator feri. “Kami berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini,” tegas Ridho.

Menurut Ridho, sekitar 200.000 orang dari berbagai negara setiap bulannya melakukan perjalanan dari Singapura ke Batam.

Direktur Badan Usaha Pelabuhan BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan harga tiket feri ke tujuan nondomestik memang mengalami kenaikan pascapandemi.

Sebelum pandemi, layanan feri antara Batam dan Singapura melayani 3,9 juta penumpang setiap tahun, termasuk 1,9 juta wisatawan mancanegara. Sejak saat itu, penjualan tiket feri telah pulih hingga 60 persen dari angka sebelum pandemi.

Dendi mengatakan operator mengaitkan kenaikan harga dengan kenaikan biaya bahan bakar dan penurunan jumlah penumpang.

Sementara itu, wisatawan asal Singapura khawatir kenaikan harga tiket feri akan berdampak buruk pada sektor pariwisata Batam. Kenaikan harga ini dinilai akan membuat Batam kehilangan daya tarik sebagai destinasi wisata akhir pekan yang terjangkau. Akibatnya, beberapa wisatawan Singapura berencana untuk mengurangi kunjungan mereka.

“Bagi saya, perjalanan feri ini menjadi mahal karena jarak Batam yang sebenarnya dekat. Jika harga terus naik, saya tidak akan bisa sering ke sana,” ujar Benson Toh, seorang manajer layanan publik berusia 47 tahun.

Penulis: Engesti Fedro

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait