Pertumbuhan ekonomi Kepri masuk lima besar nasional. Sensus Ekonomi 2026 memetakan potensi setiap daerah.
TANJUNGPINANG (gokepri) — Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) mencapai 7,04 persen pada triwulan I 2026 secara tahunan (year on year/yoy). Capaian itu menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kelima di Indonesia, sekaligus melampaui rata-rata nasional yang sebesar 5,61 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI Amalia Adininggar Widyasanti saat menghadiri Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 tingkat Provinsi Kepri di Aula Wan Seri Beni, Dompak, Tanjungpinang, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Di Balik Pertumbuhan Pesat Ekonomi Singapura
Pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata nasional menunjukkan aktivitas usaha di Kepri terus berkembang. Kondisi itu ditopang karakter ekonomi yang berbeda di setiap kabupaten dan kota, mulai dari industri manufaktur, kawasan ekonomi khusus, pariwisata, hingga sektor perikanan dan pertanian.
“Perekonomian Kepri triwulan I berada di atas rata-rata nasional sebesar 5,61 persen secara year on year,” ujar Amalia.
Berdasarkan data BPS, Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan I 2026, yakni 19,64 persen. Posisi berikutnya ditempati Nusa Tenggara Barat sebesar 13,64 persen, Sulawesi Tengah 8,32 persen, Gorontalo 7,68 persen, dan Kepulauan Riau 7,04 persen.
Di tingkat kabupaten dan kota, sebagian besar wilayah di Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi daerah dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 18,80 persen, disusul Kabupaten Natuna 15,37 persen.
Kabupaten Bintan mencatat pertumbuhan 6,34 persen, Kabupaten Karimun 6,14 persen, dan Kota Batam 5,78 persen. Kelima daerah tersebut tumbuh di atas rata-rata nasional.
Sementara itu, Kota Tanjungpinang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,23 persen dan Kabupaten Lingga 4,48 persen. Kedua daerah tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional.
Menurut Amalia, capaian tersebut menunjukkan setiap wilayah di Kepri memiliki karakter dan sumber pertumbuhan ekonomi yang berbeda.
“Secara umum, seluruh wilayah Kepri memiliki beragam aktivitas dan potensi ekonomi yang luar biasa,” kata Amalia.
Potensi Ekonomi Beragam
Di Kota Tanjungpinang, aktivitas ekonomi didominasi sektor usaha makanan dan minuman, terutama kedai kopi. Sektor ini menjadi salah satu penopang kegiatan ekonomi perkotaan yang tumbuh bersama sektor perdagangan dan jasa.
Berbeda dengan Tanjungpinang, Kota Batam bertumpu pada kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan industri, pertokoan, dan pusat perbelanjaan. Struktur ekonomi tersebut menjadikan Batam sebagai motor pertumbuhan ekonomi Kepri sekaligus salah satu pusat industri nasional.
Kabupaten Bintan mengandalkan sektor pariwisata dan industri. Kawasan wisata Pantai Trikora dan Lagoi menjadi destinasi utama, sementara KEK Galang Batang dan kawasan industri Lobam menjadi basis kegiatan manufaktur dan investasi.
Di Kabupaten Kepulauan Anambas, sektor pariwisata bahari berkembang melalui destinasi Pulau Bawah yang kerap dijuluki Maldives Indonesia. Daerah ini juga memiliki Matak Base yang menjadi pusat kegiatan industri minyak dan gas.
Sementara itu, Kabupaten Natuna mengandalkan kombinasi sektor pariwisata, perikanan, dan pertanian. Geopark Natuna menjadi salah satu destinasi unggulan yang dikenal hingga mancanegara. Di saat yang sama, sektor perikanan dan pertanian masih menjadi sumber penghidupan utama masyarakat di berbagai pulau.
Kabupaten Karimun memiliki basis ekonomi yang ditopang sejumlah perusahaan besar yang tersebar di Karimun Besar, Kundur, dan Belat. Adapun usaha kecil dan menengah banyak terkonsentrasi di Karimun Besar.
Berbeda dengan daerah lain, Kabupaten Lingga masih bertumpu pada sektor pertanian. Menurut BPS, aktivitas ekonomi di wilayah ini belum banyak berkembang ke sektor industri pengolahan yang dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
Data untuk Arah Pembangunan
Keragaman aktivitas ekonomi tersebut akan menjadi salah satu fokus pendataan dalam Sensus Ekonomi 2026 yang berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Melalui sensus tersebut, petugas BPS akan mendata unit usaha dan aktivitas ekonomi rumah tangga di seluruh wilayah Kepri. Pendataan dilakukan untuk memperoleh gambaran mutakhir mengenai struktur ekonomi daerah dan potensi pengembangannya.
BPS berharap pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat mendukung pelaksanaan sensus agar data yang terkumpul lengkap dan akurat.
“Melalui Sensus Ekonomi, kita ingin menghadirkan data potensi ekonomi Kepri terkini sebagai acuan pemerintah merumuskan pembangunan ekonomi sepuluh tahun ke depan,” ujar Amalia. ANTARA
Baca Juga: Siapa yang Potensial Bertarung di Pilkada Kepri 2029?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








