Visa 7 Hari demi Kejar Target Kunjungan Wisman ke Kepri

visa 7 hari
Wisatawan mancanegara di area Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, 17 Desember 2023. ANTARA/Teguh Prihatna

Tanjungpinang (gokepri) – Dinas Pariwisata Kepulauan Riau tengah berupaya menarik lebih banyak wisatawan mancanegara pada 2024. Berharap pemerintah pusat memberlakukan kebijakan khusus tarif visa agar kunjungan turis asing meningkat.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau Guntur Sakti mengungkapkan pihaknya mengusulkan skema short time visa yaitu visa kedatangan tujuh hari. Tarif visa ini lebih murah yakni USD10 atau sekitar Rp150.000 dari rata-rata sekarang USD50.

Baca Juga:

Namun pihaknya masih menunggu skema usulan itu disetujui pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan. “Pak Sandiaga sudah bersurat ke Kemenkeu untuk penyediaan tarif PNBP VoA tapi memang belum disahkan,” kata dia belum lama ini.

Guntur menjelaskan perubahan tarif Visa on Arrival (VoA) 7 sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan mancanegara di Kepulauan Riau. Apalagi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menargetkan 3 juta kunjungan untuk provinsi ini.

Guntur melanjutkan jika tarif Visa on Arrival 7 hari tidak dikabulkan maka target kunjungan turis di Kepri harus diturunkan.

“Kalau semester kedua ini, VoA 7 hari ini belum juga dikabulkan pemerintah pusat, Pak Menparekraf bersedia akan merevisi target kunjungan wisman ke Kepri,” katanya.

Penumpang penerbangan perdana dari Kunming China tiba di Batam disambut dengan kalungan bunga oleh Kepala Dispar Kepri Guntur Sakti dan Dirut BIB Pikri Ilham Kurniansyah, Minggu (21/1/2024). Foto: Gokepri.com/Muhammad Ravi

Berdasarkan usulan, permintaan VoA 7 hari ini tetap sebesar USD10 atau setara sekitar Rp150.000. Permintaan pengurangan biaya VoA tersebut sudah gencar diusulkan pemerintah daerah terutama Provinsi Kepri sejak pandemi COVID-19 terjadi. Upaya itu dilakukan untuk memperbaiki ekonomi Kepri melalui sektor pariwisata.

“Selama ini biaya VoA untuk kunjungan turis hanya berlaku 50 hari. Batas waktu 50 hari tersebut dianggap masih memberatkan turis,” kata dia.

Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) termasuk tiga daerah tertinggi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) setelah Bali dan Jakarta. Setidaknya terdapat dua skema turis masuk ke Kepri yang saat ini sudah berjalan.

Pertama, skema bebas visa kunjungan. Skema ini berlaku untuk 9 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. “Plus satu lagi Timor Leste,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepri Guntur Sakti pada Kamis, 15 Mei 2024.

Skema kedua yaitu turis membayar visa on arrival untuk 30 hari sebesar USD50 atau lebih kurang Rp750 ribu. Ini berlaku untuk 97 negara di dunia.

Jika skema yang ketiga ini disahkan oleh pemerintah pusat otomatis akan menaikkan jumlah kunjungan wisman ke Kepri. “Kalau ini (VoA 7 hari) ada, insyaallah sampai target (kunjungan wisman) kita,” katanya.

Kata Guntur, apalagi saat ini target pasar wisman sangat besar untuk daerah Kepulauan Riau. “Sebenarnya target tersebut sudah berada di depan mata,” kata Guntur.

Saat ini menurut data Disbudpar Kepri jumlah kunjungan turis ke Kepri selama Januari-Maret 2024 masih berada di angka 377.000 kunjungan. Artinya angka tersebut masih 10 persen dari target yang diberikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno sebesar 3 juta kunjungan selama 2024.

“Pak Menteri sekarang istikamah berjuang,” kata Guntur.

Dispar Kepri berambisi menyerap 23-25 persen volume kunjungan wisatawan asing yang datang ke Indonesia pada 2024. Pada akhir 2023, kunjungan pelancong dari luar negeri ke Kepri ini menembus 1,5 juta orang. Sebanyak 70 persen dari jumlah itu masuk melalui Batam.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan otoritas wisata daerah di wilayah Kepulauan Riau sedang gencar melobi pemerintah pusat agar menyediakan skema visa khusus. “Kami sedang memohon pemberlakukan free visa atau setidaknya diskon visa on arrival (VoA) untuk turis dari empat negara jauh yang berpotensi menjadi pasar utama kami,” ujar Ardiwinata awal 2024.

Kota Batam, lanjut dia, butuh dukungan regulasi agar jumlah turis asing terus bertambah. Salah satunya adalah penerapan aturan keringanan imigrasi. Permintaan itu tak hanya datang dari pemda, tapi juga dari pelaku usaha pariwisata.

Mereka meminta tarif pengurusan VoA oleh turis asing diturunkan dari rata-rata USD50 per dokumen menjadi USD10. Jenis visa yang kini disediakan pemerintah dan berlaku untuk pengunjung 97 negara itu bisa dipakai untuk masa tinggal sebulan, tapi durasinya bisa diperpanjang hingga maksimal 180 hari.

“Bila dikabulkan, kemudian dipromosikan, kami yakin diskon ini menarik banyak turis,” ujar Ardi.

Para turis yang datang ke Batam umumnya akan menghabiskan rata-rata USD50 jika tinggal dalam kurun waktu 3-5 hari. Namun besaran pengeluaran yang sudah mencakup akomodasi, kuliner dan kegiatan rekreasi itu belakangan melandai. Salah satu penyebabnya adalah ongkos penerbangan yang kian mahal. “Harapan kami, wisatawan bisa tertarik berkunjung lewat relaksasi visa,” tambah Ardi.

Penulis: Engesti Fedro

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BAGIKAN