Pariwisata Bali setelah Tertatih-Tatih

Pariwisata Bali
Kawasan Batubulan di Bali. Foto: Rony Zakaria/The New York Times

Daerah pariwisata Bali perlahan pulih meski bagi warga setempat lalu lalang turis belum kembali seperti sebelum dihantam pandemi. Hotel kembali penuh dengan tamu, pekerja pariwisata mulai menikmati kembali aktivitas menyambut turis.

Penulis: Candra Gunawan

Ratusan ribu wisatawan yang mulai mengunjungi Bali sepanjang 2022 menumbuhkan harapan buat I Wayan Subali. Sejak pandemi merebak pada awal 2020, Subali banting setir. Pria 41 tahun itu berjualan mulai dari minuman es, makanan ringan dan pakaian sekitar dua tahun pandemi. “Supaya tetap ada penghasilan menghidupi keluarga,” kata Subali di atas bus ketika perjalanan di atas Jalan Tol Mandara, Bali, yang membawa rombongan dari Batam, akhir pekan lalu.

Profesi Subali adalah pemandu wisata dari Bali Trip. Dia ingat betul sejak Juli 2022, ia kembali sibuk sebagai pemandu wisata karena kunjungan turis mulai ramai ke Bali. Pintu internasional ke Bali sudah dibuka sejak 4 Februari 2022, namun kunjungan turis justru baru terasa ramai sejak pertengahan tahun. “Sekarang, di hari biasa kami bisa sekaligus menurunkan tiga tim untuk memandu rombongan turis,” ungkap Subali.

Satu tim pemandu wisata di tempat Subali bekerja bisa terdiri dari empat orang yakni satu pemandu wisata, satu sopir bus dan dua fotografer untuk mengambil foto dan video. Sepanjang perjalanan menuju Jimbaran, Subali menceritakan pariwisata Bali termasuk patung Garuda Wisnu Kencana yang tampak dari kejauhan dari Jalan Tol Mandara. “Patung GWK diinisiasi menteri pariwisata pertama Indonesia, Joop Ave,” ungkap Subali.

Subali menggambarkan bagaimana Bali bisa kaya dari sektor pariwisata, contohnya dari data yang menyatakan Kabupaten Badung adalah kabupaten terkaya kedua di Indonesia. Saking kayanya, ada anggaran dana untuk penunggu pasien maksimal dua orang dan orang tua. “Penunggu orang sakit dikasih uang Rp400 ribu,” ungkap Subali.

Pemandu wisata, I Wayan Subali, di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Akhir pekan lalu, I Wayan Subali memandu rombongan dari Batam yang terdiri dari 20 orang menuju Jimbaran kemudian ke Legian, tempat mereka menginap selama dua malam. “Legian adalah place that never sleeps,” kata Subali.

Setali tiga uang dengan I Wayan Subali. Harapan Dewa menggantungkan hidup pada pariwisata mulai terbuka setelah makin banyak orang datang ke Bali. Dewa bekerja sebagai Front Office The Magani Hotel dan Spa. Selama pandemi, hotel di Legian ini tutup total. Pulihnya pariwisata Bali mulai terasa sejak pintu internasional dibuka pada Februari 2022, hotelnya setiap hari selalu penuh dengan turis. “80 persen okupansi diisi turis dari Australia,” ungkap Dewa.

Segendang seirama, kebangkitan juga terasa di destinasi dan fasilitas wisata Bali. Di Legian, turis tak berhenti lalu lalang. Pasar Seni Kuta, Pantai Legian, spa sampai klub malam padat dengan turis. Komang Vina, salah satu pekerja spa menyebut, tempatnya bekerja sudah mulai ramai meski belum terasa seperti sebelum wabah merebak. “Belum seperti dulu, hari biasa paling ada 15 pelanggan,” sebut dia.

Pariwisata Bali memang bangkit. Setelah lebih dari dua tahun terdampak pandemi Covid-19, industri pariwisata di Bali akhirnya mulai pulih. Hal ini terlihat dari tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke pulau Dewata yang terus meningkat.

Suasana di Pantai Jimbaran, Bali.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah wisman yang berkunjung ke Bali mencapai 276.659 kunjungan pada Agustus 2022. Angka ini naik 12,23 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/m-o-m).

Jumlah kunjungan wisman ke Bali ini pun menjadi rekor tertinggi semenjak pandemi Covid-19. Berdasarkan pintu masuknya, wisman yang berkunjung ke Bali melalui udara tercatat sebanyak 276.627 kunjungan, sementara yang melewati laut tercatat sebanyak 32 kunjungan.

Berdasarkan negara asalnya, wisman yang paling banyak berkunjung ke Bali pada Agustus 2022, yakni wisman yang berasal dari Australia sebanyak 79.102 kunjungan. Diikuti oleh wisman asal India (20.731 kunjungan), Prancis (19.235 kunjungan), Inggris (18.642 kunjungan), dan Jerman (15.555 kunjungan).

Secara akumulatif, jumlah kunjungan wisman ke Bali tercatat sebanyak 894.667 kunjungan pada Januari hingga Agustus 2022. Jumlah ini naik hingga 2.080.520,93% jika dibandingkan dengan periode Januari-Agustus 2021 yang hanya sebanyak 43 kunjungan.

“Berbeda dengan Kepri, Provinsi Bali mengandalkan sektor pariwisata sehingga ketika pandemi, Bali paling terpukul,” ungkap Miftahul Choiri, Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi Daerah Bank Indonesia Kepri di sela-sela capacity building kehumasan di The Magani Hotel.

Di antara 34 provinsi, Bali paling mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Pada 2020, ekonomi Bali terjungkal minus 9,31 persen dibanding tahun sebelumnya, tiga kali lebih rendah dibanding Kepulauan Riau yang minus 3,80 persen dan Banten minus 3,38 persen. Tiga provinsi ini adalah provinsi dengan kontraksi terdalam. Angka itu lebih dalam dari ekonomi nasional yang hanya terkontraksi minus 2,07 persen.

Pada 2021, Bali kembali kontraksi tapi tak sedalam tahun sebelumnya. Ekonomi Bali mengalami kontraksi minus 2,47 persen. Sedangkan Provinsi Kepri berhasil keluar dari kontraksi. Pada 2021, ekonomi Kepri tumbuh 3,4 persen.

Menurut Miftahul, Kepri tak terlalu bergantung pada pariwisata seperti Bali sehingga pertumbuhan ekonominya cenderung lebih baik selama pandemi karena mengandalkan sektor manufaktur dan belanja domestik.

Secara kunjungan turis di Kepri, jauh di bawah Bali. Pada periode Januari-Juli 2022, kunjungan turis Kepri hanya 95 ribu yang didominasi turis Singapura. Sedangkan Bali, sudah menyentuh 894 ribu.

Berdasarkan negara asalnya, wisman yang paling banyak berkunjung ke Bali yakni wisman yang berasal dari Australia sebanyak 79.102 kunjungan pada Agustus 2022. Diikuti oleh wisman asal India (20.731 kunjungan), Prancis (19.235 kunjungan), Inggris (18.642 kunjungan), dan Jerman (15.555 kunjungan).

Keterpurukan Bali tak lepas dari ketergantungan pada pariwisata. Pariwisata yang diwakili sektor akomodasi, makanan dan minuman. Pada 2019, sektor ini memegang kontribusi hingga 23,7 persen. Pada 2020, sektor ini jungkir balik jatuh terkontraksi minus 27,52 persen. Kejatuhan sektor ini berefek panjang ke sektor lain yang kompak kontraksi.

Angka pengangguran pun melompat. Data BPS mencatat, sebanyak 2,57 orang menganggur di Bali gara-gara pandemi. Dari 1,21 persen angka pengangguran terbuka pada Februari 2020, menjadi 5,63 persen dalam tujuh bulan pada Agustus 2020.

Harapan pekerja pariwisata Bali tentang kebangkitan daerahnya sejalan dengan data terkini. Pada kuartal II 2022 perekonomian Bali kian menguat seiring dengan kebangkitan industri pariwisata.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali pada kuartal II 2022 tumbuh 3,04 persen (year-on-year/yoy), melanjutkan tren pemulihan yang terlihat sejak akhir 2021. Menurut BPS, perekonomian Bali bangkit lebih lanjut dari pandemi seiring dengan pembukaan kembali Bandara Internasional Ngurah Rai pada Februari 2022.

Rapat G20 dan pertemuan-peremuan lembaga pemerintahan dan korporasi di Bali juga mendorong kunjungan ke pulau seribu pura ini. Muhammad Ahmad, misalnya, dalam sebulan harus dua kali ke Nusa Dua, Bali, untuk menghadiri rapat dan workshop kendaraan listrik. “Bali sudah mulai ramai,” ungkap pria yang bekerja di PT KAI ini di Bandara Ngurah Rai ketika ingin kembali ke Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca Juga: 

BAGIKAN