Akhirnya Gas Bumi dari Blok Natuna akan Mengalir ke Batam

FPSO Belanak di Natuna. Foto: istimewa

Batam (gokepri) – Dirancang rampung tahun 2017, pipa gas bumi dari blok Natuna ke Pulau Pemping, Batam akhirnya akan dibangun pada 2024. Pemerintah ingin tak semua gas dari sana diekspor ke Singapura tapi juga dimanfaatkan untuk dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pembangunan pipa gas dari West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Batam yakni titik landing Pulau Pemping. Tujuannya agar gas dari blok Natuna terserap untuk kebutuhan domestik.

Koordinator Program Migas Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Rizal Fajar Muttaqien, menjelaskan pipa ini akan dibangun oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Selama ini, gas dari Natuna tidak memiliki pembeli (offtaker) domestik.

HBRL

Baca Juga:

“Ada juga ruas yang akan dibangun PGN, ruas pipa WNTS yang nantinya akan mengalirkan gas dari Natuna yang selama ini tidak ada offtaker gas, selama ini offtaker-nya hanya diekspor,” tuturnya dalam webinar Menelisik Kesiapan Pasokan Gas untuk Sektor Industri dan Pembangkit, akhir Februari. Rizal berharap, setelah pembangunan pipa gas transmisi ini rampung, gas dari kawasan Natuna bisa memenuhi kebutuhan domestik secara optimal.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Kurnia Chairi, menambahkan bahwa infrastruktur gas memiliki peran sangat penting bagi optimalisasi produksi gas nasional.

Saat ini, pemerintah sedang mempersiapkan pembangunan pipa gas Sei Mangkei-Dumai dan pembangunan pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (Cisem) yang memasuki tahap II. Keduanya, kata Kurnia, akan dibangun menggunakan dana APBN agar biaya penyaluran gasnya lebih rendah dibandingkan jika dibangun oleh swasta.

Pipa gas WNTS menuju Pulau Pemping juga sangat penting agar industri domestik bisa menyerap gas dari Natuna yang saat ini hanya bisa disalurkan ke ekspor, terutama ke Singapura.

“Nanti dengan dibangunnya pipa Wemping yang sebenarnya tidak panjang, hanya sekitar 6 km, maka gas-gas yang di Natuna bisa disalurkan ke wilayah Sumatera, dan dari wilayah Sumatera itu bisa mengisi kembali ke Jawa,” ungkapnya.

Kurnia menjelaskan, berbagai infrastruktur gas tersebut diharapkan bisa mengalirkan pasokan gas yang melimpah dari Jawa Timur dan Aceh, terutama untuk menopang wilayah Jawa Barat yang kini mengalami defisit gas.

“Pembangunan pipa transmisi ini sebagai backbone untuk pengaliran gas bumi dari Arun sampai Gresik yang nantinya akan tersambung, diharapkan dapat meningkatkan optimalisasi pemanfaatan gas bumi terutama di Jatim yang saat ini kelebihan pasokan dan adanya potensi baru di Aceh,” pungkasnya.

Berdasarkan catatan gokepri, Kementerian ESDM telah menugaskan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun infrastruktur pipa gas bumi dari pipa WNTS ke Pulau Pemping, Provinsi Kepulauan Riau, melalui Kepmen ESDM Nomor 6105 K/12/MEM/2016 tanggal 19 Juli 2016.

Awalnya, Kementerian ESDM menargetkan pipa ini rampung dibangun pada tahun 2017. Pipa sepanjang 5 km dan berukuran 16 inch dengan kapasitas 120 MMSCFD tersebut akan menghubungkan WNTS ke Pulau Pemping sehingga gasnya bisa digunakan untuk PT PLN Batam.

Gas yang akan dialirkan ke pipa WNTS ini berasal dari Lapangan Gajah Baru, Blok A Natuna. Selama ini, gas yang diproduksi dari lapangan tersebut diekspor ke Singapura melalui pipa sebesar 325 MMSCFD.

Sebelumnya, terdapat opsi agar pipa WNTS dibangun oleh PLN, namun hanya untuk PLN di Tanjung Ucang saja. Sementara jika dibangun oleh Premier Oil sebagai pengelola Lapangan Gajah Baru, mengingat kontraknya akan habis pada 2028, maka modalnya harus kembali sebelum tahun itu.

Infrastruktur Gas Dikebut

Tak hanya pipa WNTS-Pemping, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan sejumlah proyek gas “raksasa” yang akan dibangun hingga 10 tahun mendatang.

Hal ini telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.01/MEM.M/2023 tentang Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional (RIJTDGBN) Tahun 2022-2031.

Adapun dalam Rencana Induk tersebut tercantum rencana pembangunan infrastruktur dan Wilayah Jaringan Distribusi (WJD) Gas Bumi.

Pertama, ruas transmisi Kalimantan-Jawa di mana pemenang lelang telah diperoleh sejak 2006, namun hingga saat ini infrastrukturnya belum terbangun karena belum adanya suplai dan permintaan gas yang signifikan.

Kedua, ruas transmisi Dumai-KEK Sei Mangkei yang diusulkan dibangun dengan skema APBN. Uji kelayakan atau feasibility study direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ini.

Ketiga, ruas transmisi WNTS-Pemping. Infrastruktur ini sangat diperlukan untuk menyalurkan gas dari wilayah Natuna ke Pemping, sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik.

Terakhir, ruas transmisi Cirebon – Semarang di mana saat ini sedang dibangun ruas Semarang – Batang. Direncanakan, pipa Cirebon-Semarang ini dapat diperpanjang hingga Kandang Haur Timur untuk selanjutnya tie-in dengan pipa yang eksisting untuk mempermudah integrasi pengaliran gas dari arah barat maupun timur.

Sementara itu, terkait rencana WJD dalam Rencana Induk 2022-2031 ini, terdapat 72 kabupaten/kota di mana kabupaten/kota yang dicantumkan sebagai WJD pada RIJTDGBN 2022-2031 adalah wilayah yang telah memiliki infrastruktur pipa gas bumi (pipa distribusi) dan/atau yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi WJD.

Selain itu, wilayah tersebut juga memiliki potensi permintaan gas, seperti Kawasan Industri atau industri gas bumi atau dilewati pipa transmisi dan dikelilingi pipa distribusi dan mendukung ibukota negara baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: KUMPARAN | CNBC

Pos terkait