Pembangkit Baru Solusinya?

Ekspor listrik
Petugas sedang melakukan pengecekan di sebuah pembangkit listrik tenaga surya. Istimewa - PLN

Penggunaan listrik yang besar pada subuh 1 Januari 2023 ditengarai memicu beban berlebihan pada pembangkit sampai membuat sistem kelistrikan Batam-Bintan padam. Gejala kecil darurat pembangkit yang berdampak besar, apa solusi PLN Batam?

Penulis: Engesti dan Candra Gunawan

Konferensi pers PT PLN Batam pada Senin malam 2 Januari 2023 belum rinci soal detik-detik penyebab mati listrik yang dampaknya luas di Batam-Bintan. Pemberi keterangan kepada pers adalah Sekretaris Perusahaan Hamidi Hamid. Direktur PT PLN Batam yang baru bertugas sejak September 2022, Muhammad Irwansyah Putra, tak kelihatan di ruangan sepanjang setengah jam sesi konferensi pers. Irwansyah sempat ditelepon Walikota Batam Muhammad Rudi pada hari yang sama ihwal listrik. Ia mendapat teguran dari Rudi. “Baru kemarin apel siaga, nyatakan pasokan listrik aman. Kok paginya mati?” tanya Rudi. Selanjutnya ia tak ingin berpanjang-panjang. Ia minta Senin malam ini juga harus sudah beres.

Listrik padam ini bukan kejadian pertama bagi PLN Batam. Tapi mati listrik massal di Batam-Bintan saat subuh pertama 2023 menjadi pukulan telak bagi perseroan. Menurut Hamidi kejadian blackout serupa pernah terjadi pada 2022. “Namun tak separah kali ini,” kata Hamidi.

PLN Batam masih meneliti penyebab utama mati listrik massal tersebut. Kejadian blackout 1 Januari 2023 pun masih misteri. Namun Hamidi mengindikasikan ada beberapa pembangkit yang terlepas dari sistem kelistrikan Batam-Bintan saat kejadian. Tanpa menyebut pembangkit mana pertama, tapi kemudian pembangkit lain ikut kolaps. Inilah yang menyebabkan aliran setrum di Batam dan Bintan mati total dari subuh hingga siang. “Ada gangguan sistem, pertama itu PLTU Tanjung Kasam unit 1 dan 2, lalu PLTGU Tanjung Uncang,” kata Hamidi.

Dari daya 400 megawatt, ada sekitar 350 megawatt yang hilang saat transfer listrik subuh itu yang akhirnya membuat suplai dan beban tidak seimbang, tapi lagi-lagi Hamidi tidak menyebut lokasi pembangkitnya. Namun ia memaparkan ada indikasi awal beban pengguna listrik yang besar saat malam pergantian tahun baru. “Sumbernya masih dicari,” sambung Hamidi.

Lalu soal kendala keandalan pembangkit saat tahun baru bisa dieliminisir jika alasannya ada pembangkit yang ditahan pemeliharaaanya. Hamidi menyatakan tidak ada pembangkit listrik yang lepas dari jadwal pemeliharaan. Apalagi, PLN Batam baru saja menggelar apel besar-besar soal kesiapan kelistrikan Batam-Bintan untuk Natal dan Tahun Baru. Hamidi mengarahkan ke satu analisa: pembangkit tak sanggup memikul beban pada 1 Januari 2023 “Malam itu penggunaan listrik sangat besar sehingga pembangkit tidak kuat,” kata dia.

Hamidi juga sempat menyebut pemadaman terjadi karena adanya gangguan di 11 gardu induk di Batam dan 5 gardu induk di Bintan. Benarkah gangguan 16 gardu induk di Batam – Bintan itu yang menyebabkan lumpuhnya produksi daya 565 MW pada jam 4 subuh kemarin?. Jika dikaitkan dengan kondisi cuaca pada malam pergantian tahun, info dari laman BMKG pada tanggal 31 Desember 2022, cuaca Batam relatif cerah sejak pagi hingga malam.

Gokepri mengkroscek poin-poin Hamidi itu dengan cara membandingkannya dengan data neraca daya di situs PLN Batam. Paparan Hamidi cocok dengan data subuh 1 Januari 2023 tersebut meski masih menyisakan lubang penjelasan, terutama satu jam sebelum kejadian gulita di Batam-Bintan.

Mengacu data neraca realtime itu, posisi daya terpasang seluruh pembangkit masih di posisi aman sebesar 565 megawatt sepanjang malam pergantian tahun baru. Keseimbangan suplai dan beban masih stabil, kemudian tiba-tiba kapasitas terjun ke posisi 0 megawatt tepat pada pukul 04.00 subuh. Artinya seluruh sistem pembangkit lumpuh total. Batam gulita termasuk Pulau Bintan yang setrumnya melalui jaringan interkoneksi.

Namun yang anehnya, satu jam sebelum pembangkit kolaps atau pukul 03.00, pada grafik realisasi beban nyungsep mendadak dan lantas baru lenyap menjadi 0 pada pukul 07.00 lewat atau 4 jam setelah detik-detik terjadi pelepasan beban.

Jika mengacu grafik itu, kemungkinan ada pembangkit atau transmisi yang menurunkan atau melepas beban pada pukul 3 baru satu jam kemudian semua pembangkit melepaskan diri dari sistem kelistrikan Batam-Bintan. Mengapa pelepasan beban ini terjadi masih misteri.

Pembangkit mulai menyala pelan-pelan dan bertahap mulai pukul 09.00 di kapasitas 10 megawatt lalu menjadi 30 megawatt dalam satu jam. Realisasi beban baru bergerak pada jam yang sama sebelum menanjak naik sejak pukul 10.00. Sepanjang Minggu 1 Januari 2023, kapasitas pembangkit baru menyentuh 366 megawatt, sementara beban sudah di level 400 megawatt sejak pukul 18.00. Keseimbangan suplai dan beban baru tampak kembali stabil sejak Selasa dini hari 3 Januari 2023.

Grafik terbaru neraca daya ini juga cocok dengan paparan Hamidi Hamid yang menyatakan kelistrikan bisa pulih pada Selasa 3 Januari. Hamidi Hamid menyatakan pemulihan terus dilakukan secara bertahap. PLN terus mengupayakan agar suplai listrik ke pelanggan tetap aman, walaupun ada pemadaman bergilir.

Pemadaman bergilir dilakukan untuk memantau kekuatan pembangkit listrik yang sudah diperbaiki. Jika pun ada beberapa wilayah yang tidak mati, itu hanya soal prioritas wilayah yang diutamakan. “Dengan masuknya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Kasam unit 1 dan 2 ke sistem kelistrikan besok pagi (Selasa 3 Januari), pelayanan kelistrikan akan normal kembali,” ujar Hamidi.

Hamidi menjelaskan sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Uncang, direncanakan masuk ke sistem pada malam hari Senin, karena harus menunggu perkembangan dari PLTU Tanjung Kasam.

“Artinya, kondisi kelistrikan menjelang penormalan hari kemarin, untuk malam hari ini (Senin) sampai seterusnya sudah normal secara keseluruhan. Jadi, untuk penormalan gangguan kita sudah selesai, penormalan terkait realisasi beban sedang dilakukan,” katanya.

PLN Batam menjamin, mulai Selasa 3 Januari 2023 tak ada lagi pemadaman listrik. Pihaknya juga telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menambah daya dan melakukan pemeliharaan pembangkit.

Terkait kerugian yang dialami masyarakat, pihak PLN akan menyusun tingkat mutu pelayanan untuk menghitung kompensasi yang ada diberikan. “Kami akan hitung dulu, nanti ada pemotongan bulanan,” kata dia.

Hamidi menyebutkan sebagai antisipasi terjadinya gangguan kelistrikan kembali, pihaknya akan terus melakukan pengecekan dan optimalisasi terkait perbaikan dan pemeliharaan.

Pihaknya juga akan terus mengusahakan agar kapasitas pembangkit akan lebih tinggi daripada kebutuhan di sistem saat ini. “Kami sedang dalam pembangunan pembangkit-pembangkit baru,” ucapnya.

Batam Butuh Pembangkit Baru?

PT b’right PLN Batam memiliki kapasitas terpasang kurang lebih 565 MW dan daya mampu kurang lebih 554 MW dengan beban puncak Batam-Bintan 519 MW. Sebesar 80 persen suplai listrik berasal dari pembangkit tenaga gas, sedangkan pembangkit uap berkontribusi sebesar 18 persen, dan sisanya masih mengandalkan dari pembangkit diesel sebagai cadangan.

Pembangkit PLN Batam terdiri dari dua sumber, yaitu pembangkit sendiri yang mayoritas merupakan pembangkit tenaga diesel (PLTD) yang tersebesar di Baloi, Batu Ampar, Sekupang, dan Tanjung Sengkuang dengan total produksi 27 MW.

Sedangkan pembangkit milik mitra yang disebut dengan independent power producer (IPP) terdiri dari PLTG dan PLTGU Tanjung Uncang masing-masing berkapasitas 70 MW dan 120 MW, PLTG-PLTMG-PLTGU Panaran kapasitas 171 MW, PLTMG Baloi 30 MW, dan PLTU Kasam 102 MW.

PLN Batam menetapkan cadangan sebesar 6,3 persen atau total produksi daya, dan panjang kabel interkoneksi yang menghubungkan transmisi Batam-Bintan sepanjang 183 km. Jumlah gardu induk di sistem kelistrikan yang disinyalir sebagai biang pemadaman ada sebanyak 16 gardu terdiri dari 11 gardu di Batam dan 5 gardu di Bintan.

Mantan Direktur PLN Batam Nyoman S Astawa dalam seminar dengan regional.co.id, 13 April 2022 lalu, pernah menyebut peningkatan kapasitas pembangkit di Batam Bintan menjadi tantangan bagi perseroan. “Tugas kami infrastruktur dan ketersediaan (suplai), security of supply,” ujar Nyoman. Di luar rencana pembangkit baru, Nyoman berharap ada pembangunan pipa gas baru dari sumber West Natuna sehingga tak terlalu mengandalkan suplai gas eksisting.

Konteks paparan Nyoman ketika seminar itu memang soal kesiapan suplai listrik Batam untuk melayani investasi pusat data yang membutuhkan daya besar. Tapi dengan suplai sekarang, kejadian blackout dan pertumbuhan konsumsi listrik, PLN Batam berkejaran waktu setidaknya dengan ancang-ancang banyak pusat data yang akan beroperasi dalam beberapa tahun ke depan. Pilihannya peningkatan kapasitas eksisting atau membangun pembangkit baru. Jika membangun pembangkit baru, PLN punya rencana proyek PLTS sebagai energi baru terbarukan yang menjadi masa depan sumber energi.

***

Baca Juga: 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BAGIKAN