Seberapa Kuat Ekonomi Indonesia Menahan Tekanan Global?

Ekonomi Indonesia 2021
Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto: Reuters)

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Permintaan domestik menjadi penopang utama.

JAKARTA (gokepri) – Ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Permintaan domestik, investasi, dan belanja pemerintah masih menopang aktivitas ekonomi.

Pertumbuhan tersebut membawa ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara kumulatif pada semester I 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kekuatan dari dalam negeri menjadi penyangga utama pertumbuhan.

Baca Juga: Menata Batam, Memperkuat Fondasi Pertumbuhan Ekonomi

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi mengatakan kinerja tersebut menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia.

“Pertumbuhan terutama ditopang permintaan domestik, termasuk investasi dan konsumsi pemerintah,” kata Ari dalam agenda Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Salah satu penopang terbesar berasal dari belanja pemerintah. Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2026 tumbuh 15,97 persen secara tahunan, sejalan dengan implementasi berbagai program pembangunan dan belanja prioritas.

Ekonomi indonesia 2026
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi dalam agenda Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook bertajuk “Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability”, di Jakarta, Kamis (3/9/2026). ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas

Sementara itu, konsumsi rumah tangga mulai mengalami moderasi setelah mencatat pertumbuhan tinggi pada triwulan sebelumnya. Berdasarkan Mandiri Spending Index, konsumsi rumah tangga tumbuh 6,1 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.

Pada Juli-Agustus 2026, pertumbuhannya kembali melandai menjadi 5,8 persen secara tahunan.

Meski konsumsi mulai melambat, tekanan terhadap daya beli masih relatif terkendali. Inflasi pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.

“Kondisi ini memberikan fondasi positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi,” ujar Ari.

Neraca Eksternal Mulai Menguat

Ketahanan ekonomi juga terlihat dari perbaikan neraca pembayaran Indonesia. Pada triwulan II 2026, neraca pembayaran masih mencatat defisit US$0,9 miliar.

Namun, angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada triwulan sebelumnya.

Tekanan terutama muncul dari transaksi berjalan. Defisit melebar akibat kenaikan impor minyak dan gas seiring tingginya harga energi, serta peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi domestik.

Tekanan itu tertahan oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus US$12 miliar. Arus investasi langsung dan investasi portofolio menjadi penopang utama surplus tersebut.

Perbaikan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Hingga akhir Agustus 2026, rupiah menguat 1,56 persen setelah sebelumnya menghadapi tekanan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga stabilitas kebijakan moneter. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam rapat terakhir Dewan Gubernur.

Di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, ketahanan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada pertumbuhan domestik. Koordinasi kebijakan antara pemerintah, bank sentral, dan industri keuangan juga menjadi semakin penting.

Ari menilai pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, serta industri keuangan perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan ketersediaan likuiditas.

“Kita perlu menjaga stabilitas makroekonomi, kecukupan likuiditas, serta keberlanjutan fungsi intermediasi,” kata Ari.

Keseimbangan itu penting agar perbankan tetap mampu menyalurkan pembiayaan ketika aktivitas ekonomi membutuhkan dukungan, tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.

Dengan pertumbuhan yang masih berada di atas 5 persen, Indonesia memiliki penyangga domestik untuk menghadapi tekanan dari luar. Namun, moderasi konsumsi rumah tangga dan kenaikan impor tetap menjadi indikator yang perlu dicermati ketika ketidakpastian global masih membayangi. ANTARA

Baca Juga: Tiga Sektor yang Bisa Menggerakkan Ekonomi Masyarakat Rempang-Galang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait