Perikanan, pariwisata, dan UMKM menjadi tumpuan ekonomi Barelang. Tantangannya, mengubah pelatihan menjadi usaha berkelanjutan.
BATAM (gokepri) — Kawasan Transmigrasi Batam, Rempang dan Galang atau Barelang memiliki pasar dan sumber daya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Membutuhkan pendampingan yang menghubungkan pelatihan dengan usaha yang benar-benar menghasilkan pendapatan.
Temuan itu muncul dalam diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) yang digelar Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) bersama pemerintah, koperasi, pelaku usaha, dan masyarakat di Kantor Koperasi Produsen Transmigrasi (KOPTRANS) Barelang.
Baca Juga: Serap Tenaga Kerja hingga 21.000 Orang, Kawasan Transmigrasi Galang Dibidik Jadi Pusat Industri
Ketua Ekspedisi Patriot UI Daerah Transmigrasi Barelang, Dr Vishnu Juwono, mengatakan ukuran keberhasilan pendampingan bukan banyaknya pelatihan yang diberikan, melainkan kemampuan masyarakat menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan pasar.
“Pendampingan dan pelatihan harus menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat sehingga memperoleh pendapatan konsisten,” kata Vishnu dalam keterangannya, Kamis (27/8).
Menurut dia, program pemerintah semestinya menjadi titik awal bagi masyarakat untuk membangun kemampuan usaha yang tetap bertahan ketika kebijakan atau prioritas pemerintah berubah.
Karena itu, pelaku usaha juga perlu menguasai pengelolaan keuangan sederhana. Pendapatan dan biaya perlu dicatat, sebagian uang disisihkan sebagai kas, dan modal pengembangan usaha perlu disiapkan sejak awal.
Bantuan pemerintah, kata Vishnu, dapat menjadi pemicu. Namun, keberlanjutan usaha bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola pendapatan dan mengembangkan usahanya secara mandiri.
Tiga sektor menjadi perhatian utama dalam pembahasan tersebut, yakni perikanan, pariwisata, dan UMKM. Ketiganya dinilai memiliki potensi saling terhubung sehingga pengembangannya tidak perlu berjalan sendiri-sendiri.
Pasar Ikan Sudah Tersedia
Gambaran paling jelas terlihat pada sektor perikanan. Camat Galang Danang Prilasandi menyebut pasar hasil tangkapan nelayan sudah tersedia. Sebagian produk bahkan telah menjangkau luar daerah dan pasar ekspor.
Persoalannya justru berada di sisi produksi. Nelayan masih menghadapi keterbatasan alat tangkap dan kapasitas produksi sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar secara optimal.
“Kalau pasarnya sudah jelas, bahkan kita kekurangan dari segi produksi,” ujar Danang.
Menurut dia, tambahan alat tangkap dapat meningkatkan kemampuan nelayan menghasilkan ikan. Nelayan juga perlu memperluas jenis tangkapan agar tidak bergantung pada satu komoditas, seperti tenggiri.
Alat tangkap dan strategi penangkapan dapat disesuaikan dengan musim serta komoditas yang tersedia, termasuk bawal, kepiting, dan lobster.
Potensi tersebut menunjukkan persoalan ekonomi Barelang tidak selalu terletak pada ketiadaan pasar. Dalam kasus perikanan, permintaan sudah ada, tetapi kemampuan masyarakat memasoknya masih terbatas.
Peluang lain berada di sektor pariwisata. Vishnu melihat sektor ini dapat menjadi penghubung berbagai aktivitas ekonomi masyarakat Barelang.
Pokdarwis didorong membangun jejaring dengan pelaku perjalanan wisata di Batam sehingga kawasan REC dapat masuk dalam pilihan destinasi yang ditawarkan kepada wisatawan.
Konsepnya bukan menjual satu objek secara terpisah. Potensi mangrove, pengalaman wisata perikanan, kuliner lokal, kerajinan, dan produk UMKM dapat dirangkai menjadi satu paket perjalanan.
“Pariwisata itu mengintegrasikan perikanan, kuliner, UMKM, batik, kerajinan pesisir, dan potensi lainnya,” kata Vishnu.
Gagasan pengembangan kawasan sebagai kampung wisata juga muncul dalam FGD. Konsep tersebut memungkinkan aktivitas ekonomi yang sebelumnya berdiri sendiri saling terhubung melalui kunjungan wisatawan.
Dengan pola itu, wisatawan tidak hanya datang melihat kawasan, tetapi juga membelanjakan uang untuk jasa wisata, makanan, hasil perikanan, kerajinan, dan produk UMKM masyarakat setempat.
FGD tersebut menjadi dasar bagi Ekspedisi Patriot UI untuk menentukan bentuk pendampingan dalam beberapa bulan ke depan. Pendampingan akan diarahkan pada kebutuhan yang muncul di lapangan, bukan sekadar menambah kegiatan pelatihan.
Persoalan yang mengemuka memiliki pola serupa. Pelatihan telah banyak diberikan, tetapi belum selalu menghasilkan produk dan layanan yang siap dipasarkan.
Karena itu, tim diharapkan mendampingi masyarakat hingga produk, layanan, kelembagaan, dan model bisnis benar-benar berjalan.
Forum tersebut mempertemukan Camat Galang, Lurah Sembulang, Staf Ahli Kementerian Transmigrasi Yudo Pramono, pengurus KOPTRANS dan koperasi, Pokdarwis, Kelompok Wanita Tani (KWT), pelaku UMKM, serta perwakilan masyarakat.
Pertemuan berbagai unsur tersebut membuat persoalan ekonomi dibahas dari hulu hingga hilir. Keterbatasan alat produksi, pengembangan produk, akses pasar, hingga pengemasan potensi wisata dapat dilihat sebagai satu rangkaian persoalan.
Bagi Barelang, tantangannya kini bukan sekadar menemukan potensi baru. Yang lebih penting ialah memastikan potensi yang sudah ada—ikan, destinasi wisata, kuliner, kerajinan, dan UMKM, berubah menjadi kegiatan ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan secara konsisten. ANTARA
Baca Juga: Transmigrasi Modern di Galang untuk Pastikan Warga Tak Jadi Penonton
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









