LINGGA (gokepri.com) – Jika berkunjung ke Kabupaten Lingga, banyak destinasi wisata yang patut disinggahi. Di balik jejak Kesultanan Lingga-Riau yang melekat kuat, daerah berjuluk Bunda Tanah Melayu ini juga menyimpan pesona bahari dan alam yang masih alami.
- Pantai Dungun, Lingga Timur
Salah satunya Pantai Dungun di Kecamatan Lingga Timur. Pantai ini memang tidak berada di pusat keramaian. Dari kawasan utama Lingga, wisatawan masih harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam untuk tiba di Desa Dungun. Namun, perjalanan tersebut terbayar ketika hamparan pasir putih sepanjang lebih dari satu kilometer mulai terlihat di hadapan mata.
Air laut yang jernih, hamparan pasir putih dan suasana yang relatif tenang menjadi daya tarik Pantai Dungun yang menghadap langsung ke Laut Natuna Utara.
Kabid Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardi, mengatakan Pantai Dungun merupakan salah satu potensi wisata bahari yang patut dikunjungi ketika wisatawan menjelajahi Lingga.
“Pantai Dungun ini indah, terpencil, dengan hamparan pasir putih yang luas. Garis pantainya lebih dari satu kilometer dan berhadapan langsung dengan Laut Natuna Utara,” kata Lazuardi.
Wisatawan dapat menikmati air laut yang jernih untuk mandi dan bermain air. Karang serta kehidupan laut di sekitar pantai juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan destinasi tersebut.

Yang menarik, perjalanan ke Pantai Dungun sekaligus membawa wisatawan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Hasil tangkapan nelayan yang masih segar dapat dipesan dari masyarakat setempat.
“Ikan teri menjadi salah satu hasil laut yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan atau dinikmati setelah tiba di kampung pesisir tersebut,” kata dia.
- Pantai Dungun Punya Daya Tarik Ekologis
Pada periode tertentu, terutama sekitar Maret, kawasan pantai menjadi tempat penyu bertelur. Wisatawan yang datang pada waktu yang tepat berkesempatan menyaksikan kegiatan pelepasan penyu.
Potensi tersebut membuat Pantai Dungun tidak hanya menarik sebagai tempat menikmati panorama laut, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai wisata edukasi dan konservasi.
Saat ini, wisatawan belum dikenakan tiket masuk maupun retribusi. Sejumlah homestay milik masyarakat juga mulai tersedia meski jumlahnya masih terbatas.
Keterbatasan fasilitas dan jarak tempuh menjadi tantangan pengembangan destinasi ini. Pemerintah daerah pun secara bertahap berencana melakukan pembenahan, termasuk dari sisi akses jalan.
“Selain wisata sejarah, kita juga perlu wisata bahari. Kami juga perlu bersolek supaya wisatawan bisa datang. Akses jalan nanti pemerintah juga akan benahi,” ujar Lazuardi.
- Tugu Khatulistiwa
Perjalanan wisata di Lingga dapat dilanjutkan menuju Tanjung Teludas, Desa Mentuda, tempat berdirinya Tugu Khatulistiwa.
Lingga merupakan salah satu daerah di Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa. Yang membuatnya berbeda, titik tersebut berada tidak jauh dari kawasan laut.
“Indonesia tidak banyak daerah yang dilalui garis khatulistiwa. Lingga salah satunya. Bedanya, titik khatulistiwa di Lingga berada dekat dengan laut,” kata Lazuardi.
Untuk mencapai kawasan tersebut, wisatawan dapat menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari Daik menuju Pelabuhan Sei Tenam. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan pompong sekitar 15 menit menuju Tanjung Teludas.

Selain menikmati panorama laut, pengunjung juga dapat mengenal fenomena kulminasi matahari ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa sehingga benda yang berdiri tegak dapat kehilangan bayangannya pada waktu tertentu.
Kawasan tersebut saat ini masih belum menerapkan tiket masuk. Namun, pengembangannya masih membutuhkan perhatian terutama dari sisi akses dan fasilitas pendukung.
- Menapak Jejak Kesultanan Lingga-Riau
Setelah menikmati wisata bahari dan fenomena geografis, perjalanan dapat diarahkan ke pusat sejarah Lingga.
Masjid Jami Sultan Lingga menjadi salah satu tujuan yang penting dikunjungi bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Kesultanan Lingga-Riau.

Masjid tersebut berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah yang memerintah pada 1761-1812. Sosok Sultan Mahmud Riayat Syah kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena perannya dalam sejarah Kesultanan Lingga-Riau dan perjuangannya menghadapi kolonialisme.
Bangunan masjid yang berdiri saat ini merupakan hasil pembangunan kembali pada masa Sultan Abdurrahman Muazham Syah setelah bangunan sebelumnya yang banyak menggunakan material kayu mengalami kerusakan.
Sejumlah peninggalan lama masih tersimpan di dalam masjid, termasuk mimbar yang diperkirakan berasal dari sekitar 1212 Hijriah atau 1798 Masehi.
Keunikan lain terletak pada konstruksi masjid yang tidak memiliki tiang penyangga di bagian tengah.
Menurut Lazuardi, kondisi tersebut memiliki filosofi tersendiri.
“Tiang tengahnya memang sengaja tidak ada penopang. Filosofinya, tiang masjid adalah jemaah. Hidup atau tidaknya masjid bergantung kepada jemaah,” katanya.
Di belakang masjid terdapat kompleks makam tokoh-tokoh Kesultanan Lingga-Riau, termasuk makam Sultan Mahmud Riayat Syah beserta keluarga dan keturunannya.
- Air Terjun Resun
Setelah menyusuri sejarah, wisatawan dapat mengakhiri perjalanan dengan menikmati alam di Air Terjun Resun, Desa Resun.
Air terjun tersebut merupakan bagian dari aliran sungai yang berasal dari kawasan Gunung Sepingkan. Masyarakat mengenalnya sebagai air terjun bertingkat.
“Menurut masyarakat ada yang menghitung tujuh tingkat. Ada juga yang menghitung lima karena hanya menghitung bagian yang paling tinggi. Tetapi kebanyakan menyebut sampai tujuh tingkat,” ujar Lazuardi.

Air Terjun Resun kini menjadi salah satu destinasi yang cukup ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Suasana alam, aliran air yang jernih dan pepohonan di sekitarnya menjadikan tempat ini cocok untuk melepas penat setelah menjelajahi sejumlah destinasi di Lingga.
Pulau Lingga bahkan masih memiliki sejumlah air terjun lain, seperti Air Terjun Jelutung, Air Terjun Tanda dan Air Terjun Kado. Namun, tidak semuanya mudah dijangkau.
Air Terjun Jelutung, misalnya, memiliki panorama menarik dan termasuk salah satu yang paling tinggi, tetapi akses kendaraan menuju lokasi belum tersedia.
Sementara Air Terjun Tanda menawarkan pengalaman berbeda. Dari ketinggian, wisatawan dapat menikmati pemandangan laut dan permukiman. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki sekitar empat kilometer atau hampir satu jam karena belum tersedia akses kendaraan langsung.
“Pulau Lingga ini dibelah oleh gunung. Di bagian depan dan belakang gunung terdapat aliran sungai, sehingga banyak air terjun. Tinggal bagaimana akses dan pengembangannya,” kata Lazuardi. *
Penulis: Engesti









