Menyusuri Pesona Lingga, dari Titik Khatulistiwa hingga Jejak Kesultanan

masjid jami sultan lingga. (foto:ngesti/gokepri.com)

LINGGA (gokepri.com) – Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, menyimpan beragam potensi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga jejak sejarah Kesultanan Lingga-Riau dan keunikan geografis yang tidak banyak dimiliki daerah lain di Indonesia.

Potensi tersebut tersebar mulai dari kawasan pesisir hingga pedalaman Pulau Lingga, di antaranya Tugu Khatulistiwa di Tanjung Teludas, Masjid Jami Sultan Lingga, serta Air Terjun Resun yang menjadi salah satu tujuan wisata alam yang terus ramai dikunjungi wisatawan.

Pemerhati sejarah, budayawan sekaligus staf ahli/pegawai Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga Lazuardy mengatakan, keberadaan berbagai destinasi tersebut menjadi modal penting bagi Lingga untuk mengembangkan wisata berbasis sejarah, budaya dan alam secara bersamaan.

“Lingga ini terkenal akan sejarahnya. Termasuk kesultanan Riau-Lingga lahir disini,” kata dia, Senin.

  • Tugu Katulistiwa

Salah satu destinasi yang memiliki keunikan tersendiri adalah Tugu Katulistiwa Lingga yang berada di Tanjung Teludas, Desa Mentuda.

Tugu tersebut menandai titik yang dilalui garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat yang membelah bumi menjadi wilayah utara dan selatan.

“Indonesia tidak banyak daerah yang dilalui garis khatulistiwa. Lingga salah satunya. Bedanya, titik khatulistiwa di Lingga berada dekat dengan laut,” kata Lazuardy.

Untuk mencapai lokasi tersebut, wisatawan dapat menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari Daik menuju Pelabuhan Sei Tenam. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan pompong atau perahu sekitar 15 menit menuju kawasan Tanjung Teludas.

Tugu Katulistiwa Lingga. (foto: ngesti/gokepri.com)

Selain menawarkan panorama laut, kawasan tersebut juga menjadi lokasi fenomena kulminasi matahari ketika posisi matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa sehingga benda yang berdiri tegak dapat kehilangan bayangannya pada waktu tertentu.

Pembangunan tugu tersebut telah dimulai sekitar 2009-2010. Namun, pengembangan kawasan wisata di sekitar titik khatulistiwa masih membutuhkan perhatian, terutama dari sisi aksesibilitas dan fasilitas pendukung.

“Masuk ke sini masih gratis. Jadi memang belum ada pengelolaan tiket,” ujarnya.

  • Menapak Jejak Kesultanan

Tidak jauh dari pusat sejarah Lingga, wisatawan juga dapat mengunjungi Masjid Jami Sultan Lingga yang menyimpan jejak penting Kesultanan Lingga-Riau.

Masjid tersebut memiliki keterkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah yang memerintah pada 1761-1812. Sultan Mahmud Riayat Syah kemudian dikenal sebagai pahlawan nasional dan memiliki peran penting dalam sejarah Kesultanan Lingga-Riau.

Menurut Lazuardy, bangunan masjid yang ada saat ini merupakan masjid yang dibangun kembali setelah bangunan sebelumnya yang banyak menggunakan material kayu mengalami kerusakan. Pembangunan kembali dilakukan pada masa Sultan Abdurrahman Muazham Syah.

Sejumlah bagian peninggalan lama masih dapat ditemukan di dalam masjid, termasuk mimbar dan dinding pembatas yang memiliki nilai sejarah.
Mimbar tersebut diperkirakan berasal dari sekitar 1212 Hijriah atau sekitar 1798 Masehi.

Keunikan lainnya terdapat pada konstruksi masjid yang tidak memiliki tiang penyangga di bagian tengah.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, konsep tersebut memiliki filosofi bahwa “tiang” masjid adalah para jemaah yang menghidupkan dan memakmurkan masjid.

“Tiang tengahnya memang sengaja tidak ada penopang. Filosofinya, tiang masjid adalah jemaah. Hidup atau tidaknya masjid bergantung kepada jemaah,” katanya.

Di bagian belakang masjid juga terdapat kompleks makam sejumlah tokoh penting Kesultanan Lingga-Riau, termasuk makam Sultan Mahmud Riayat Syah beserta sejumlah keluarga dan keturunannya.

Keberadaan masjid dan kompleks makam tersebut menjadikan kawasan itu bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga bagian penting dari wisata sejarah dan budaya Lingga.

  • Menikmati Air Terjun Resun

Setelah menyusuri jejak sejarah, wisatawan dapat menikmati suasana alam di Air Terjun Resun yang berada di Desa Resun.

Air terjun tersebut merupakan bagian dari aliran sungai yang berasal dari kawasan Gunung Sepingkan. Masyarakat setempat mengenal Air Terjun Resun sebagai air terjun bertingkat.

“Menurut masyarakat ada yang menghitung tujuh tingkat. Ada juga yang menghitung lima karena hanya menghitung bagian yang paling tinggi. Tetapi kebanyakan menyebut sampai tujuh tingkat,” ujar Lazuardy.

Air Terjun Resun. (foto: engesti/gokepri.com)

Air Terjun Resun kini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup ramai, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika kunjungan wisatawan belum seramai sekarang.

Bahkan, kawasan tersebut juga menjadi lokasi pelaksanaan tradisi masyarakat yang mampu menarik hingga ribuan orang dalam satu kegiatan.

Untuk masuk ke kawasan wisata, pengunjung saat ini dikenakan biaya parkir sekitar Rp2.000. Pengelola juga tengah melakukan sosialisasi terkait rencana penataan dan penyesuaian biaya hingga sekitar Rp5.000.

Selain Air Terjun Resun, Pulau Lingga masih memiliki sejumlah air terjun lain seperti Air Terjun Jelutung, Air Terjun Tanda, Air Terjun Kado dan sejumlah air terjun lainnya.

Lazuardy mengatakan Air Terjun Jelutung menjadi salah satu yang paling tinggi dan memiliki panorama yang sangat menarik. Namun, akses menuju lokasi tersebut masih menjadi tantangan karena belum tersedia jalan darat yang dapat dilalui kendaraan.

Sementara Air Terjun Tanda menawarkan pengalaman berbeda. Dari kawasan air terjun tersebut, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut dan permukiman dari ketinggian.

Untuk mencapai lokasi, wisatawan harus berjalan kaki sekitar empat kilometer atau hampir satu jam karena akses kendaraan belum tersedia.

“Pulau Lingga ini dibelah oleh gunung. Di bagian depan dan belakang gunung terdapat aliran sungai, sehingga banyak air terjun. Tinggal bagaimana akses dan pengembangannya,” katanya.

Dengan kekayaan alam, sejarah dan budaya tersebut, Lingga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan karakter yang berbeda dari daerah lain di Kepulauan Riau.

Tantangannya kini adalah bagaimana membuka akses ke sejumlah destinasi potensial sekaligus menjaga kelestarian alam dan peninggalan sejarah agar pengembangan pariwisata tidak menghilangkan identitas Lingga sebagai salah satu pusat penting sejarah Melayu di masa lalu.

Penulis: Engesti

Pos terkait