Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan

proyek PLTS di Batam
Operator PLTS melakukan pengecekan terhadap panel surya PLTS PT PLN Batam. GOKEPRI/Engesti Fedro

Singapura memperluas bauran energi demi mengurangi ketergantungan pada gas alam. Indonesia dipandang menjadi mitra utama dalam pasokan listrik rendah karbon.

BATAM (gokepri) – Ketergantungan Singapura pada gas alam mendorong negara itu mempercepat diversifikasi sumber energi. Di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan global, Indonesia diposisikan sebagai salah satu mitra utama untuk memasok listrik rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi kawasan.

Perubahan strategi itu tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan listrik domestik. Singapura juga menyiapkan fondasi menuju target emisi nol bersih (net zero) pada 2050, sembari membangun sistem energi yang lebih tahan terhadap gejolak geopolitik.

Ekspor listrik ke singapura
Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri Gan Siow Huang menjawab pertanyaan peserta Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa (14/7/2026). Dalam forum itu, Gan memaparkan perkembangan negosiasi perdagangan listrik hijau Indonesia-Singapura. Foto: MDDI Singapura

Baca Juga: 

Strategi tersebut dipaparkan Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri, Gan Siow Huang, saat sesi fireside chat bersama wartawan dalam 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa, 14 Juli 2026.

Gan menjelaskan, selama ini pembangkit listrik Singapura masih didominasi gas alam. Kondisi tersebut membuat negeri itu rentan ketika terjadi gangguan pasokan energi dunia.

Konflik di Timur Tengah, misalnya, memicu gangguan distribusi minyak dan gas global. Sebagian pasokan gas Singapura berasal dari kawasan tersebut sehingga pemerintah menilai sumber energi tidak boleh lagi bergantung pada satu komoditas.

“Kami tetap akan menggunakan gas alam, tetapi kami harus melakukan diversifikasi,” kata Gan.

Untuk mengurangi ketergantungan itu, Singapura menyiapkan empat sumber energi utama atau four switches sebagai fondasi sistem kelistrikan pada masa mendatang.

Pilar pertama tetap gas alam. Pemerintah Singapura menilai bahan bakar tersebut masih menjadi pilihan paling realistis dalam jangka pendek hingga menengah karena lebih rendah emisi dibanding batu bara dan diesel serta pasokannya masih melimpah di berbagai negara.

Gan menyebut cadangan gas baru masih terus ditemukan, termasuk di Afrika, Amerika Serikat, dan Australia. Karena itu, gas alam masih akan mendominasi bauran energi Singapura dalam beberapa tahun ke depan.

Pilar kedua adalah tenaga surya. Meski wilayahnya terbatas, Singapura berhasil mencapai target kapasitas pembangkit surya sebesar 2 gigawatt peak (GWp) pada akhir 2025, lebih cepat dari target semula pada 2030.

Keberhasilan tersebut mendorong pemerintah menaikkan target menjadi 3 GWp pada 2030.

Gan mengakui kapasitas itu masih kecil dibanding potensi Indonesia. Namun, bagi Singapura, peningkatan satu gigawatt merupakan langkah besar mengingat keterbatasan lahan.

Pilar ketiga adalah impor listrik dari negara tetangga, termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara Asia Tenggara lainnya melalui pengembangan ASEAN Power Grid (APG).

Gan mengatakan konsep APG sebenarnya telah dibahas lebih dari 20 tahun. Bedanya, kini negara-negara ASEAN mulai menunjukkan keseriusan untuk merealisasikannya karena kebutuhan energi kawasan terus meningkat.

Pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara diperkirakan terus meningkat hingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Pertumbuhan itu membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.

Pusat data, kecerdasan buatan (AI), industri manufaktur, hingga ekonomi digital akan bergantung pada ketersediaan energi yang stabil.

Karena itu, Singapura memandang Indonesia memiliki posisi strategis. Selain memiliki potensi energi surya yang besar, Indonesia dinilai dapat memimpin penyusunan kebijakan, pembangunan infrastruktur, serta kerangka perdagangan energi terbarukan di kawasan.

“Saya percaya Indonesia dapat memainkan peran besar dalam membentuk kebijakan dan perdagangan energi terbarukan di kawasan,” ujar Gan.

Gan juga menilai setiap negara ASEAN memiliki keunggulan berbeda. Laos memiliki potensi tenaga air, Vietnam unggul pada energi angin, sedangkan Indonesia dan Malaysia memiliki sumber daya surya yang sangat besar.

Potensi tersebut, kata dia, masih belum dimanfaatkan secara optimal dibanding kawasan lain seperti Eropa dan Afrika yang lebih dahulu mengembangkan perdagangan energi terbarukan lintas negara.

Nuklir Masih Jangka Panjang

Selain gas, surya, dan impor listrik, Singapura juga menempatkan energi nuklir sebagai sumber energi keempat. Namun, opsi ini masih berada pada tahap awal.

Gan menegaskan pemerintah Singapura belum mengambil keputusan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Singapura baru memulai tahapan awal penilaian bersama Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melalui Integrated Nuclear Infrastructure Review (INIR) fase pertama.

Kajian tersebut bertujuan menilai kesiapan kelembagaan, regulasi, sumber daya manusia, hingga kemampuan teknis sebelum pemerintah memutuskan apakah energi nuklir layak dikembangkan.

Menurut Gan, proses itu diperkirakan masih membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun.

Teknologi Small Modular Reactor (SMR) juga masih dipantau karena pengembangannya belum mencapai skala komersial yang luas.

Dalam pengembangan energi nuklir, Singapura justru melihat Indonesia memiliki pengalaman lebih panjang.

Gan menyebut Indonesia telah membangun kapasitas riset nuklir selama puluhan tahun, termasuk mengoperasikan tiga reaktor riset dan mengembangkan sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Karena itu, Singapura membuka peluang memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan kapasitas, penelitian, hingga pertukaran pengetahuan mengenai energi nuklir sipil.

Ia juga menyinggung rencana Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir sekitar 2032. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi perkembangan penting bagi transisi energi di Asia Tenggara.

Namun, dalam waktu dekat, fokus Singapura tetap berada pada penguatan bauran energi melalui gas alam, tenaga surya, dan impor listrik dari negara tetangga, termasuk Indonesia, sembari menyiapkan fondasi menuju pemanfaatan teknologi nuklir pada masa depan.

Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait