Investasi AI dan pusat data dinilai membuka peluang baru. Batam perlu mencetak talenta, bukan sekadar menjadi lokasi operasi.
BATAM (gokepri) – Besarnya investasi pusat data dan kecerdasan buatan (AI) di Batam dinilai belum cukup menjamin peningkatan nilai tambah bagi daerah. Pemerintah Singapura menilai tantangan berikutnya adalah memastikan tenaga kerja lokal mampu naik kelas sehingga tidak hanya menjadi operator, tetapi ikut menguasai keahlian dan teknologi.
Pandangan itu disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim saat menjawab pertanyaan jurnalis dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.
Baca Juga: Apa Respons Singapura terhadap Narasi #SellSingapore?
Pertanyaan tersebut muncul dari kekhawatiran bahwa derasnya investasi pusat data di Batam hanya menjadikan kawasan itu sebagai operational backyard bagi Singapura. Sementara itu, kemampuan riset, pengembangan teknologi, dan keahlian strategis tetap terpusat di luar Indonesia.
Zhulkarnain mengakui Batam telah menjadi tujuan penting investasi digital di kawasan. Saat berkunjung ke Batam, ia melihat langsung perkembangan pusat data yang kini melayani perusahaan teknologi berskala global.
“Saya terkesan melihat besarnya pusat data di Batam dan perusahaan-perusahaan besar yang menggunakannya,” kata Zhulkarnain.
Keberadaan industri tersebut, kata dia, sudah memberi manfaat melalui penciptaan lapangan kerja dan tumbuhnya ekosistem digital. Namun manfaat ekonomi akan jauh lebih besar apabila tenaga kerja lokal mampu mengisi pekerjaan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Naik ke Rantai Nilai Lebih Tinggi

Zhulkarnain mengatakan setiap negara yang membangun industri teknologi menghadapi tantangan serupa. Pada tahap awal, investasi umumnya berfokus pada pembangunan fasilitas dan operasional. Setelah itu, tantangan bergeser pada peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Singapura, kata dia, pernah melalui proses yang sama ketika industri manufaktur semikonduktor mulai berkembang. Dari basis produksi, Singapura kemudian mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja agar mampu mengisi pekerjaan yang lebih kompleks.
“Langkah berikutnya adalah memastikan kita naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.”
Ia menilai proses tersebut tidak bisa hanya mengandalkan investasi asing. Pemerintah, lembaga pendidikan, industri, dan masyarakat perlu bersama-sama menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Karena itu, pendidikan dan pelatihan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan transfer teknologi. Semakin tinggi kemampuan tenaga kerja lokal, semakin besar peluang perusahaan global memindahkan pekerjaan dengan nilai tambah lebih tinggi ke Batam.
Bukan Teknologi Singapura
Zhulkarnain menepis anggapan bahwa investasi pusat data di Batam identik dengan perpindahan teknologi milik Singapura. Sebagian besar investasi itu berasal dari perusahaan teknologi multinasional yang memilih Batam karena berbagai keunggulan yang dimiliki kawasan tersebut.

Batam, kata dia, memiliki lokasi strategis, lahan yang memadai, serta kedekatan dengan Singapura. Kondisi itu menjadikan kawasan tersebut menarik bagi perusahaan yang membutuhkan infrastruktur digital berskala besar.
Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia
Namun keunggulan geografis saja tidak cukup untuk mempertahankan daya saing dalam jangka panjang. Ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan digital menjadi syarat agar Batam memperoleh manfaat yang lebih besar dari investasi tersebut.
“Kita perlu menciptakan lingkungan yang membuat transfer teknologi benar-benar terjadi.”
Peluang Kerja Sama Pendidikan
Zhulkarnain melihat kedekatan Batam dengan Singapura membuka peluang lebih luas untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan pelatihan teknologi. Kolaborasi itu dinilai penting agar tenaga kerja Indonesia mampu mengikuti perkembangan industri AI yang tumbuh cepat.
Ia mencontohkan program NUS Overseas Colleges di Singapura yang mengirim mahasiswa belajar ke berbagai pusat inovasi dunia, seperti Silicon Valley, Paris, dan Jerman. Pengalaman bekerja di ekosistem teknologi global menjadi bekal ketika mereka kembali membangun perusahaan di negaranya.
Salah satu lulusan program tersebut, kata Zhulkarnain, kemudian mendirikan platform jual beli daring Carousell.
Zhulkarnain menilai perkembangan AI akan menjadi lompatan teknologi berikutnya setelah revolusi digital. Besarnya investasi yang mengalir ke sektor tersebut membuka peluang sekaligus risiko apabila negara tidak menyiapkan tenaga kerjanya.
Ia mengingatkan jangan sampai muncul kesenjangan baru antara kelompok yang mampu memanfaatkan AI dan mereka yang tertinggal karena tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
“Gelombang berikutnya adalah AI. Bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi pengembang AI.”
Karena itu, Batam dinilai memiliki peluang memanfaatkan posisinya sebagai salah satu pusat investasi digital di Asia Tenggara. Namun peluang tersebut hanya akan menghasilkan nilai tambah lebih besar apabila diikuti peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan, dan kompetensi tenaga kerja.
Baca Juga: Memahami Visi Negara Digital Singapura dari Wawancara Menteri Josephine Teo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









