ASEAN Diproyeksikan Menjadi Penghubung Dua Kekuatan Dunia

Singapura Garap PLTS di Morowali
Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) dan PM Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). Foto: BPMI Setpres

ASEAN diminta menjaga keseimbangan geopolitik. Kawasan didorong tetap terbuka bagi semua mitra.

SINGAPURA (gokepri) – Pemerintah Singapura ingin ASEAN tetap menjadi kawasan yang mampu menjembatani kepentingan Amerika Serikat dan Cina di tengah meningkatnya persaingan geopolitik. Alih-alih memilih salah satu kubu, ASEAN dinilai perlu mempertahankan posisinya sebagai mitra yang terbuka bagi semua negara.

Sikap tersebut disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim dalam dialog bersama jurnalis peserta Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.

Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP)
Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, Zhulkarnain Abdul Rahim, bersama wartawan dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026. Foto: MDDI Singapora

Baca Juga: Singapura Tawarkan Transfer Pengetahuan di Sektor Kesehatan

Pernyataan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Cina, konflik di Myanmar, serta sengketa di Laut Cina Selatan yang terus menguji soliditas ASEAN.

Zhulkarnain mengatakan tantangan tersebut tidak dapat dihindari. Namun ASEAN memiliki pengalaman panjang membangun konsensus di tengah perbedaan kepentingan negara-negara anggotanya.

“Kita tidak perlu memilih antara Amerika Serikat atau Cina,” kata dia.

Ia menilai kedua negara sama-sama memiliki arti penting bagi masa depan ekonomi Asia Tenggara. Amerika Serikat tetap menjadi pemimpin dalam investasi teknologi, sedangkan Cina memiliki keunggulan di sektor manufaktur dan pertumbuhan industri.

Karena itu, menjaga hubungan baik dengan keduanya dipandang lebih menguntungkan dibanding berpihak pada salah satu kekuatan.

Zhulkarnain mengingatkan negara-negara Asia Tenggara memiliki pengalaman panjang menghadapi campur tangan kekuatan besar sejak masa kolonial. Pengalaman itu menjadi alasan penting bagi ASEAN untuk mempertahankan kemandirian dalam menentukan arah kebijakan kawasan.

ASEAN, kata dia, harus memanfaatkan posisinya sebagai kawasan dengan sekitar 700 juta penduduk dan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Posisi tersebut memberi ruang bagi ASEAN untuk membangun hubungan dengan berbagai negara berdasarkan kepentingannya sendiri.

“Kita memiliki kemampuan menentukan jalan kita sendiri,” ujar dia.

Kemampuan itu juga menjadi modal ketika menghadapi meningkatnya persaingan geopolitik yang berpotensi memengaruhi perdagangan, investasi, dan stabilitas kawasan.

Menjadi Jembatan Dunia

Zhulkarnain menggambarkan ASEAN sebagai penghubung antara berbagai kekuatan global yang memiliki kepentingan berbeda. Peran tersebut diibaratkan seperti Jalur Sutra yang pada masa lalu menghubungkan berbagai wilayah melalui perdagangan.

Dengan menjadi jembatan, ASEAN dapat menyediakan ruang dialog sekaligus membuka peluang ekonomi bagi seluruh negara anggotanya.

“Kita bisa menjadi pembangun jembatan,” ungkap dia.

Peran itu, kata Zhulkarnain, akan membuat ASEAN tetap relevan dalam percaturan global. Negara-negara besar tetap membutuhkan kawasan ini sebagai mitra perdagangan, investasi, dan jalur distribusi internasional.

Zhulkarnain mengakui ASEAN masih menghadapi berbagai persoalan internal, termasuk konflik di Myanmar dan proses perundingan Code of Conduct di Laut Cina Selatan.

Ia mengatakan sikap ASEAN terhadap Myanmar tetap konsisten, yakni mendorong penyelesaian damai dan stabilitas politik. Posisi tersebut telah berulang kali disampaikan para menteri luar negeri ASEAN.

Mengenai Laut Cina Selatan, Singapura tetap memosisikan diri sebagai negara non-pengklaim. Namun stabilitas kawasan dinilai menjadi kepentingan bersama karena berkaitan langsung dengan perdagangan internasional.

Zhulkarnain berharap perundingan Code of Conduct dapat terus bergerak maju meski mengakui prosesnya bergantung pada banyak faktor. Baginya, keberlanjutan dialog menjadi kemajuan tersendiri di tengah kompleksitas sengketa yang melibatkan banyak pihak.

Landasan Keketuaan ASEAN 2027

Gagasan menjadikan ASEAN sebagai jembatan antara berbagai kekuatan dunia akan menjadi salah satu arah kebijakan Singapura saat memegang Keketuaan ASEAN pada 2027.

Zhulkarnain mengatakan Singapura akan melanjutkan pendekatan konsultatif dan kolaboratif yang telah dibangun oleh Filipina sebagai Ketua ASEAN 2026. Seluruh kementerian di Singapura juga akan dilibatkan untuk memperkuat kerja sama kawasan, mulai dari sektor transportasi, kesehatan, hingga pembangunan sosial.

Di tengah rivalitas negara-negara besar, Singapura menilai kekuatan ASEAN justru terletak pada kemampuannya menjaga persatuan, memperluas kerja sama, dan tetap terbuka terhadap semua mitra strategis.

Baca Juga: Apa Respons Singapura terhadap Narasi #SellSingapore?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Andi
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait