Hubungan Indonesia-Singapura disebut tetap kuat. Pemerintah memilih dialog dibanding membalas sentimen.
BATAM (gokepri) – Pemerintah Singapura menilai munculnya narasi #SellSingapore di media sosial dan tudingan campur tangan asing terhadap Indonesia tidak mengubah fondasi hubungan kedua negara. Singapura justru memilih menjaga komunikasi antarpemimpin dan mencari solusi atas setiap persoalan yang muncul.
Sikap itu disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim saat menjawab pertanyaan jurnalis dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026. Tanya jawab berlangsung hampir dua jam.
Baca Juga: Memahami Visi Negara Digital Singapura dari Wawancara Menteri Josephine Teo
Pertanyaan tersebut mengemuka setelah muncul kampanye #SellSingapore di media sosial Indonesia beberapa waktu lalu. Narasi itu berkembang di tengah pelemahan rupiah dan aksi jual aset Indonesia yang sempat memicu perdebatan mengenai hubungan ekonomi kedua negara. Pada waktu yang hampir bersamaan, Presiden Prabowo Subianto juga beberapa kali menyampaikan adanya dugaan campur tangan asing yang membiayai sentimen negatif terhadap Indonesia.
Zhulkarnain mengatakan hubungan Indonesia dan Singapura telah cukup matang untuk menghadapi perbedaan pandangan maupun isu yang berkembang di ruang publik. Menurut dia, persoalan yang muncul tidak seharusnya dibiarkan menjadi sumber ketegangan, melainkan dibahas secara terbuka oleh kedua pemerintah.
“Tidak membicarakan persoalan justru menjadi masalah yang lebih besar,” kata Zhulkarnain.
Menurut dia, para pemimpin Indonesia dan Singapura selama ini memilih menyelesaikan persoalan melalui dialog. Pendekatan itu membuat berbagai isu bilateral dapat diselesaikan tanpa mengganggu kerja sama yang lebih luas.
Ia mencontohkan hubungan kedua negara tetap berkembang di tengah berbagai tantangan. Komunikasi antarpemimpin, kata dia, berlangsung terbuka sehingga setiap persoalan dapat dibahas berdasarkan kepentingan bersama, bukan didorong oleh sentimen sesaat.
Hubungan Strategis Tetap Berjalan
Zhulkarnain mengatakan hubungan kedua negara tercermin dalam hasil Leaders’ Retreat Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Lawrence Wong pada pekan sebelumnya. Pertemuan itu menghasilkan berbagai kesepakatan kerja sama di bidang ekonomi, energi, investasi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Menurut dia, konsistensi kedua pemimpin menunjukkan Indonesia dan Singapura tetap memandang satu sama lain sebagai mitra strategis jangka panjang.
“Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata,” ujarnya.
Ia menambahkan Singapura tetap menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Sebaliknya, banyak perusahaan dan warga Singapura yang bekerja serta menjalankan usaha di Indonesia.
Bagi Singapura, perkembangan Indonesia memiliki arti penting karena pertumbuhan ekonomi kedua negara saling berkaitan. Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Singapura menilai kemajuan Indonesia juga akan memperkuat kawasan ASEAN.
“Kemajuan Singapura juga berarti melihat Indonesia terus berkembang,” kata Zhulkarnain.
Waspadai Sentimen Dunia Maya
Zhulkarnain mengingatkan agar sentimen yang berkembang di media sosial tidak langsung dianggap mewakili pandangan masyarakat. Menurut dia, ruang digital saat ini mudah dipengaruhi berbagai kepentingan, termasuk penggunaan akun otomatis atau bot.
Karena itu, ia mengajak kedua negara tetap berpegang pada hubungan yang dibangun melalui komunikasi resmi dan kerja sama nyata, bukan oleh percakapan yang berkembang di internet.
“Tetaplah terlibat dan tetaplah berinvestasi, bukan hanya dengan uang, tetapi juga dalam hubungan,” ujarnya.
Menurut dia, hubungan Indonesia dan Singapura telah dibangun selama puluhan tahun melalui kerja sama ekonomi, pendidikan, pertahanan, hingga hubungan antarmasyarakat. Modal itu dinilai jauh lebih kuat dibanding gejolak opini yang muncul sesaat di media sosial.
Menjaga ASEAN Tetap Solid
Zhulkarnain mengatakan hubungan erat Indonesia dan Singapura juga menjadi fondasi penting bagi ASEAN. Dengan jumlah penduduk lebih dari 700 juta jiwa, kawasan dinilai memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi dunia apabila negara-negara anggotanya tetap menjaga persatuan.
Karena itu, Singapura akan melanjutkan pendekatan konsultatif dan kolaboratif ketika memegang Keketuaan ASEAN pada 2027. Menurut dia, kerja sama kawasan tidak boleh goyah hanya karena muncul sentimen jangka pendek.
Perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Singapura, kata Zhulkarnain, akan terus diuji oleh dinamika politik, ekonomi, dan geopolitik. Namun pemerintah Singapura menegaskan jalur dialog tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga kemitraan strategis kedua negara.
Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









